Bab 15
Waktu kita ciuman, aku arahin tanganku ke arah ereksinya dan mainin tanganku naik turun.
"Sial! Jangan gitu, setidaknya belum sekarang." Nurut sama jawabannya, aku jauhin tanganku dari dia. Dia dengan cepat angkat badannya dari badanku terus berusaha buka pintu laci meja samping tempat tidur. Dia ambil kondom dari lacinya. Bersandar di punggungnya, aku buka bungkus kondomnya dan pasangin. Aku nggak bisa nggak merhatiin dia. Pas dia selesai, dia balik lagi ke atas badanku, kali ini dia arahin tangannya di antara selangkanganku.
"Kamu basah banget." Katanya sambil mulai ngusap bibir vaginaku. Aku nggak bisa nggak ngerasain tubuhku memanas karena dia. Dia mulai ngusap garis pinggir vaginaku sampai dia masukin jari telunjuknya. "Ya Tuhan, kamu sempit banget."
Dia lepasin jarinya, terus balik lagi ke arahku sambil natap mataku. Dia nundukin kepalanya buat nyiumku, terus goyangin pinggulnya terus posisiin dirinya di pintu masukku. Pas dia masukin, cepet banget. Aku bisa ngerasain dia berdenyut di dalamku, detak jantungnya berubah, dan matanya jadi lebih gelap. Dia narik terus dorong lagi, bikin aku sedikit menjerit. Dia terus ngelakuin hal yang sama berulang-ulang. Aku udah nggak kuat, aku nggak bisa napas, aku nggak bisa mikir, yang aku denger cuma jeritan kecilku dan erangan Seth
"Ya Tuhan, Ya Tuhan." Kenikmatan yang menjalar di tubuhku luar biasa banget. "Seth! Sialan Seth!" Aku udah hampir orgasme dan dari ekspresinya juga, dia juga udah hampir.
Aku coba buat nggak nyerah tapi susah banget dengan Seth yang terus dorong semakin dalam. Nggak lama kemudian dindingku mencengkeramnya erat-erat dan aku orgasme. Dia dorong untuk terakhir kalinya, dia udah bikin aku orgasme. Kita tetap terhubung sampai napas kita berdua tenang, jari kakiku mati rasa tapi indraku balik lagi lebih lambat.
Aku bukan lagi perawan, aku udah pernah berhubungan banyak kali sebelumnya tapi nggak ada satupun cowok yang pernah bikin aku kehilangan kendali kayak yang Seth baru aja lakuin. Aku nggak pernah jerit waktu berhubungan, tapi Seth berhasil ngerubah semua itu dalam hitungan menit.
Dia perlahan keluar dan lepas dari badanku. Dia lepasin kondomnya dan rebahan di sampingku sambil natap langit-langit.
"Itu...wow." Dia yang pertama ngomong. Aku senyum ke arah reaksinya dan balik badan buat natap dia. Warna matanya perlahan balik ke warna aslinya.
"Luar biasa, bikin dunia runtuh, ya aku tahu." Aku ketawa, "Jadi, kayak gini ya rasanya seks yang bikin pikiran meledak."
"Ya, kira-kira gitu." Dia terkekeh. Aku senyum karena dia punya senyum yang manis banget bahkan kalau dari samping.
Dia balik badan ngadep aku juga. "Kita harus lakuin ini lagi."
Tanpa mikir aku bilang, "Kita punya sepanjang malam,"
"Iya, kita punya. Aku harus kumpulin energi dulu karena aku bersumpah tubuhmu udah ngabisin semuanya dari aku."
Ketawa, aku setuju. "Aku tahu rasanya, aku kecapekan. Apalagi setelah semua jeritan itu, pita suaraku mungkin rusak."
Gelengin kepala sambil ketawa dia bilang, "Nggak, butuh lebih banyak jeritan lagi buat bikin pita suaramu rusak." Matanya lepas dari pandanganku dan ngarah ke dadaku, yang mungkin bengkak karena semua kenikmatan yang menjalar di tubuhku.
Pindah lebih deket ke dia, aku taruh tanganku di kemaluannya. "Kan udah aku bilang. Kita punya sepanjang malam."
Pas aku buka mata pelan-pelan, aku nyadar ada seseorang di sampingku di ranjang. Aku kaget, sedikit loncat. Aku nengok buat lihat Seth tidur nyenyak, terus menghela napas. Aku ngerasain pipiku memanas pas ingatan tentang semalam balik lagi ke pikiranku.
Aku udah berhubungan sama Seth.
Aku udah berhubungan sama Seth sialan Parker dan aku yang mulai duluan. Aku angkat tangan dan tepuk jidat.
Alkohol dan musik jazznya udah bikin aku mabuk, tapi bukan salah mereka. Aku tahu persis apa yang aku lakuin semalam waktu aku nyuruh dia buat nyiumku. Aku tahu apa yang aku lakuin waktu aku lepas bra dan celana dalamnya. Aku tahu persis apa yang aku lakuin waktu kita lakuin lagi dan lagi. Aku bahkan tahu apa yang aku lakuin di kamar mandi.
"Sial!" Aku bergumam.
"Udah aku bilang kalau kamu bakal nyesel." Aku lepas tanganku dari wajahku dan ngeliat Seth. Rambut pirang kotornya berantakan, dan matanya masih merem.
Aku bergumam sesuatu yang random yang bikin dia buka mata. Mata hijaunya langsung natap mata cokelatku. Dia keliatan kayak malaikat, ganteng banget.
Kita diem aja saling natap mata beberapa menit tanpa ngomong apa pun. Kontak mata kita tiba-tiba putus waktu alarm di belakangku mulai bunyi. Aku balik badan buat matiinnya pas aku nyadar waktu.
Aku langsung bangun dari ranjang. "Beneran jam segini?" Aku tanya panik sedikit sambil baca jam yang nunjukin jam 7:00 pagi
"Hmm...iya," katanya sambil garuk-garuk kepala.
Aku dengan cepat guling dari sisi ranjang, lupa kalau aku nggak pakai baju. Aku ngeliat ke diri sendiri yang nggak pakai baju dan menghela napas. Itu nggak penting sekarang.
"Aku harus pergi." Aku ngeliat Seth yang ngeliatin tubuhku yang nggak pakai baju.
Mutar bola mata, aku mulai cari celana dalamku di lantai. Nemu celana dalamku nggak jauh, aku dengan cepat nunduk dan ambil. Aku buru-buru pake dan terus mulai cari braku.
"Daripada ngeliatin tubuhku yang nggak pakai baju, kamu bisa bantuin aku cari braku." Aku ngeliat Seth yang cuma natap aku.
Dia nundukin kepalanya ke samping terus nunjuk ke arah pintu. Aku dengan cepat lari ke sana dan ngambilnya terus pake.
"Kenapa buru-buru?" Kepalanya bersandar di tangannya.