Bab 15: Dalam Penolakan
| Dalam Penolakan |
KAMARNYA mewah banget, bikin melongo, lebih megah, kayak di gereja—ada ruang tamu terpisah, dua kamar tidur, ruang makan. Dia kaya. Kok bisa sih dia tinggal di tempat seluas ini sendirian? Gak bosen apa? Kadang orang kaya tuh kayak gak nikmatin hidup mewahnya. Iya sih, mereka bisa punya barang-barang yang mereka mau, tapi mereka gak akan pernah bisa beli kebahagiaan. Mereka kekurangan kebahagiaan. Iya, uang bisa beli segalanya, tapi bukan berarti itu bisa bikin lo bahagia terus-terusan. Tujuan uang itu buat memenuhi kebutuhan lo. Intinya, gak bagus buat kita.
Kita mungkin emang tinggal di daerah pegunungan, daerah pertanian, di mana kita selalu lihat sawah. Tapi hal-hal kecil yang kita lakuin bikin kita bahagia. Kita bisa rasain arti cinta yang sebenarnya. Kita gak pernah bersaing buat dapetin sesuatu, buat mencapai sesuatu. Karena kita bahagia dengan hal-hal sederhana.
Orang kaya suka banget bersaing buat uang. Walaupun masih ada orang yang tahu cara menghargai sesuatu, cuma sekitar tiga puluh persen dari mereka.
"Lo mau makan biji labu kering, terus lo beli, tapi lo gak tahu cara bukanya?" Aku cekikikan. "Cemilan ini tuh udah biasa banget buat orang kayak gue."
Itu cuma permintaan yang dia minta. Kayak dari mana sih asalnya, gak tahu cara bukanya. Aku geleng-geleng kepala dan mulai buka, dan dia terus aja makan. Dan itu bikin gue kesel lagi.
Kenapa gue ngerasa kayak budak di sini?
"Udah. Gue harus pergi," kataku sambil meraih tas di sofa tunggal.
"Oke."
Gue alihin pandangan ke dia. "Gitu doang? Lo gak mau ngucapin terima ka—"
"Makasih," katanya sambil ambil mangkuk kaca berisi biji, dan jalan ke kamarnya. Dia mau putar gagang pintu pas gue potong.
"Temenin gue sampai gue pergi dari tempat ini," kataku. Dia narik gue ke sini, jadi dia harus nemenin gue keluar.
Dia alihin perhatiannya ke gue. Dia nyengir. "Lo mau pulang kan? Ya udah pergi," katanya sambil nunjuk pintu. "Gak ada yang ngalangin lo."
Gue nahan diri dan kontrol emosi gue. "Lo tahu gak sih, gue gak tahu kalau lo tahu arti dari keramahan dan rasa terima kasih. Lama-lama, lo kayak parasit buat gue. Orang beracun yang penuh dengan dirinya sendiri—"
"Berhenti di situ. Siapa lo berani nge-judge gue?"
"Gue Rebecca Fuentes, Yang Mulia," kataku dengan nada sarkasme.
Mata gue menyipit pas dia kaku. Masalahnya apa sih?
Dia mendekat ke tempat gue berdiri. "Lo bilang apa?" tanyanya.
Gue naikin alis kiri. "Apa?"
"Lo manggil gue Yang Mulia?"
Gue gak tahu kenapa dia aneh.
"Emang kenapa sih?" kataku dan tertawa. "Jangan bilang lo ada masalah sama itu?"
Dia berhenti, dan matanya tertuju pada gue beberapa detik. "Jangan pernah panggil gue kayak gitu," katanya.
Gue cekikikan. "Lo emang punya masalah sama segalanya, kan? Gue gak tahu apa yang terjadi sama lo, tapi gue harus pulang," kataku dan membalikkan badan menjauhi dia dan jalan ke arah pintu. Gue buka pintunya dan melihat dia untuk terakhir kalinya. Yang bikin gue kaget, dia masih di sana seolah-olah ada mantra sihir yang dilemparkan dan membuatnya berpikir keras.
Serius, gue gak ngerti dia.
"LO DARI MANA AJA SIH?" tanya Reina saat dia buka pintu kamar kita.
"Cuma jalan-jalan malam. Kenapa?"
Dia menaruh tangannya di pinggangnya, matanya marah ke arah gue. "Wah, masalah lo apa sih?"
Dia tertawa sarkastik. "Masalah gue apa? Lo masalah gue."
"Hah?"
"Rebecca yang gue kenal langsung pulang setelah shift-nya. Dia gak jalan-jalan malam karena dia lebih suka baca buku sebelum tidur. Sekarang kasih tahu gue? Lo siapa dan dari mana aja—jangan coba-coba mau sok filosofi!" katanya.
"Oke deh! Gue pergi ke Istana," jawabku.
"Istana?"
"Iya. Istana. Sekarang kalau lo mau maafin gue, gue harus mandi," kataku.
"Dan apa yang lo lakuin di sana?" tanyanya. "Jangan bilang lo pergi buat ketemu pangeran?" tambahnya.
Gue ambil handuk di rak dan menjawab, "ya enggak lah, pangeran pantatmu!"
"Terus apa yang lo lakuin? Lo jenguk pacar lo, Linus?"
"Pacar!" Aku menjerit. "FYI, dia bukan pacar gue." Gila, bikin merinding.
Dia pergi ke tempat tidurnya dan duduk. "Lo pikir lo bisa nyembunyiin sesuatu dari gue?"
"Apa? Gue gak nyembunyiin apa-apa."
"Ingat apa yang gue bilang waktu pertama kali kita di sini… kalau lo jatuh cinta sama seseorang, gue gak akan bantu lo," katanya.
Gue pura-pura ketawa, "Gue gak minta bantuan," jawabku dan masuk ke kamar mandi.
Gue gak jatuh cinta. Gue gak akan biarin diri gue jatuh cinta sama orang lain. Gak sama Linus itu. Gede banget NO-nya.