Bab 35 Aria adalah gadis yang menembak Damon
Aku nggak mau dia menandai aku kayak gini, aku selalu pengen dia menandai aku tapi nggak kayak gini. Aku mau itu pas kita lagi mesra-mesraan atau dia mengawinkanku, bukan ini.
"Jangan lakuin ini, Damon, kamu nggak punya hak. Aku bukan milikmu," kataku padanya, taringnya menyentuh leherku dan saat aku mikir dia bakal menandai aku, dia mundur selangkah.
"Kamu bener, aku minta maaf udah ganggu kamu," suaranya terdengar sakit banget, matanya udah normal sekarang.
"Kayaknya aku nggak pernah bilang gitu deh, tapi kalau kamu mau berasumsi yang nggak-nggak, ya silakan," kataku sambil ambil bajunya, keluar dari kamar dan dia nggak berusaha menghentikanku.
Aku terjaga semalaman, aku nggak tau kenapa aku nggak bisa tidur. Aku lagi di dapur minum kopi pas Cici masuk, pake gaun tidur merah renda.
"Selamat pagi. Gimana malammu? Aku suka banget malamku. Damon itu emang yang terbaik, apalagi di ranjang," katanya semangat.
Jadi dia manggil dia setelah aku pergi? Dia bahkan nggak nyesel dan tetep balik lagi ke dia.
Jangan cepet nge-judge, kalau dia ada apa-apa sama dia, kamu pasti ngerasainnya, dia cuma bohong. Aku denger serigala aku bilang, ngelihat aku udah ngejauhin dia sejak itu.
"Dia baik banget sama aku, bahkan lembut karena ada bayinya."
Jelas banget dia bohong sekarang, gimana kalau dia bohong soal bayinya juga? Dia bikin aku kesel dan itu berhasil. Aku pegang mug erat-erat, aku pengen banget numpahin kopi ke dia.
"Jadi kapan kamu pergi, maksudnya... kamu harusnya udah nggak di sini. Dia kan milikku, jadi jangan gangguin dia, kamu nggak punya kesempatan," katanya dengan nada nyolot.
"Diem, sialan," aku teriak marah sambil ngehantem mug ke meja.
"Satu-satunya orang yang nggak boleh ada di sini itu kamu, dan dia milikku, bukan milikmu. Kamulah yang nggak punya kesempatan," kataku sambil nyengir. Dia beneran bodoh, aku nggak percaya dia hampir berhasil manipulasi aku buat mikir apa yang dia mau.
"Please, dia suka aku dan dia bakal jadiin aku Luna-nya secepatnya, dan kita bakal hidup bareng tanpa orang-orang kayak kamu yang mau misahin kita."
Aku nggak tau kenapa aku sampe cemburu, atau mungkin aku ngelakuinnya karena marah, tapi aku dorong dia keras ke dinding. Aku kan harusnya Luna yang baik, ngandung anaknya, tapi dia malah mau nyuri dia dari aku, dan aku nggak bakal biarin. Entah kenapa aku inget kata-kata Hilda. "Seseorang mau apa yang kamu punya dan nggak bakal berhenti buat dapetin apa yang dia mau."
Jangan-jangan Cici, kalau dia pelakunya, dia gila kalau mikir aku bakal biarin dia punya dia. Aku nggak bakal lepasin dia.
"Damon milikku, cuma milikku. Kamu nggak bakal bisa ambil dia dari aku, sekeras apapun kamu berusaha. Kamu nggak bakal jadi Luna-nya," kataku sambil hampir ngecekik dia.
"Kita liat aja nanti, kita liat sama siapa dia bakal bareng," katanya sambil nyengir. Kalau dia lagi merencanakan sesuatu, dia nggak tau dia berhadapan sama siapa.
"Aku. Dia milikku, bukan milikmu, nggak bakal pernah," kataku nyengir.
"Pesona kamu nggak bakal mempan ke dia, dasar jalang. Nggak ada yang bisa ngalahin rayuan manis dari cewek seksi," katanya dan aku ketawa.
Ya ampun, dia pikir dia seksi.
"Kalau kamu seksi, berarti tongkat juga seksi, dan meskipun kamu bisa merayu dia, aku nggak perlu repot-repot."
"Dia tetep bakal jadi milikku, apa pun yang kamu pikirin atau katakan," katanya dan aku cuma muter mata.
Aku nahan diri sekuat tenaga buat nggak ngebunuh dia dan bayinya. Aku nggak bisa di sini lebih lama lagi sebelum dia jadi mayat.
Aku balik ke kamar, ngelakuin semua yang perlu, aku tiduran di kasur mikir, gimana kalau Damon nggak bohong?
Aku bangun ngerasa laper, aku jalan-jalan keliling rumah cuma buat ngalihin pikiran. Aku denger beberapa suara dan mutusin buat dengerin.
"Dia nampar aku, Damon, dasar jalang itu nyentuh aku dan dia hampir ngebunuh aku dan bayi kita, liat apa yang dia lakuin ke leherku, dia juga bilang aku nggak boleh jadi Luna kamu," dia ngadu sambil nangis. Kasihan banget.
"Dia nggak salah, aku nggak tau kamu dapet ide-ide ini dari mana, tapi kamu nggak bakal pernah jadi Luna-ku. Itu bukan bayi kita, itu bayi kamu. Kamu mungkin udah bohongin Lee buat mikir aku bapaknya, tapi aku tau banget aku bukan, dan kalau aku denger kamu manggil dia jalang, kamu bakal nginep di sel," Damon mengancam dengan dingin.
"Kamu belain dia, apa yang udah dia lakuin ke kamu, kamu kan benci para *rogue*."
"Bukan dia. Aku bakal tetep belain dia, Cici, berenti semua omong kosong ini. Cari bapak dari anakmu dan jangan rusak hidupku karena kalau urusan sama Lee nggak beres, kamu mending siapin kuburanmu aja," katanya dingin sambil pergi.
"Dia berarti apa buat kamu?" Cici marah nanya sambil teriak.
"Semuanya, dia berarti semuanya buat aku," Damon berhenti buat jawab dan tatapan matanya dengan cara dia ngomong bikin aku pengen nangis dan meluk dia aja.
Dia peduli, aku berarti sesuatu buat dia. Aku biarin dia sampe kayak gitu, apa yang udah aku lakuin. Aku harus minta maaf ke dia.
Aku balik lagi ke dapur mikirin gimana caranya balikin Damon dan karena aku laper. Aku duduk di bangku mikir. Apa aku dan Damon bisa berhasil? Apa dia cinta sama aku? Emosi aku campur aduk banget.
Aroma dia menyebar ke aku dan aku noleh buat ngelihat dia di belakangku. Dia keliatan frustasi dan marah. Mata kita saling menatap dan aku pengen banget ngalihin pandangan dari dia, tapi aku nggak bisa. Mata hijaunya indah banget, cuma ngelihatnya aja udah bikin terhipnotis. Aku mulai ngerasain semua emosinya, dia marah dan sakit hati. Aku tau aku penyebab kenapa dia sakit hati karena aku nggak percaya sama dia, karena aku ngancam mau ninggalin dia. Rasa bersalah menyebar ke aku dan aku ngerasa nggak enak karena udah bikin dia sakit. Aku pengen nyamperin dia, meluk dia dan bilang aku minta maaf, tapi gimana sama aku? Aku pengen dia bilang ke aku kalau semuanya bakal baik-baik aja dan cuma ada kita berdua.
Dia nyamperin aku dan meluk aku dari belakang. "Tolong jangan jauhin aku, Lee, jangan tinggalin aku."
"Kenapa kamu nggak mau aku pergi?"
"Aku cinta kamu, Lee, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, aku nggak mau kehilangan kamu, apalagi karena kebohongan Cici," jawabnya.
Dia cinta aku, jantungku berdebar kencang di dada. Dia nyatain cintanya ke aku. Aku seneng banget tau dia cinta aku.
"Kamu harus percaya, Lee, itu aja yang aku minta dari kamu. Kamu percaya sama aku, aku udah bikin kesalahan besar dengan tidur sama Cici setelah aku ketemu kamu dan nggak ada permintaan maaf yang bisa menebus itu. Aku nyesel, Lee, siang dan malam, apalagi setelah ngelihat ini yang dia pake buat ngerusak kita dan aku nggak mau itu terjadi. Percaya sama aku, Lee, tolong," ketulusan di suaranya hampir bikin aku nangis.
Dia beneran mohon sama aku buat percaya sama dia. Aku bisa ngerasain penyesalannya, kesedihannya, dan sakitnya. Aku bakal bodoh kalau nggak percaya sama dia.
"Aku percaya sama kamu sekarang, Damon, aku harusnya udah lama percaya, tapi aku dibutakan sama amarah. Aku tau itu bukan alasan, aku minta maaf banget, apalagi buat semua yang aku katain ke kamu," kataku sambil meluk dia.
"Nggak apa-apa sekarang, semuanya bakal baik-baik aja sekarang," katanya sambil meluk aku lebih erat.
"Aku minta maaf karena nggak percaya sama kamu," kataku dan dia diem aja beberapa saat. Aku tau itu yang paling nyakitin dia dan aku ngerasa nggak enak. Aku nggak seharusnya biarin amarahku menguasai aku, aku harusnya dengerin dia, tapi aku cepet nge-judge.
"Aku sakit hati, Lee, kamu bahkan nggak bisa percaya atau percaya sama aku," dia angkat bicara, cara suaranya nunjukin gimana sakitnya dia bikin aku ngerasa lebih bersalah dan aku pengen nangis. Aku janji mau bantuin dia tapi pas ada masalah, aku malah kabur.
"Aku minta maaf, Damon," aku minta maaf, air mata jatuh dari mataku. "Aku tau kamu pasti kecewa sama aku, aku nggak percaya sama kamu. Aku minta maaf banget," kataku sambil nangis.
Aku baru nyadar betapa beratnya kesalahanku, aku pasti bakal hancur kalau keadaannya kebalik. Mungkin aku nggak bakal maafin dia.
"Kamu nggak usah nangis, Lee," katanya sambil naruh telapak tangannya di pipiku, pake jempolnya buat ngapus air mataku. "Semuanya baik-baik aja sekarang, aku janji, aku bahkan nggak marah sama kamu."
Gimana bisa dia maafin aku kayak gitu? Aku pasti udah bikin dia susah sebelum mikir buat dengerin dia. Aku kan yang ngerusak hubungan ini dan aku harus berenti karena aku beneran pengen hubungan kita berhasil.
"Aku pengen jadi pasangan yang sempurna buat kamu, tapi kayaknya aku ngerusak semuanya. Aku udah nyakitin kamu dan aku minta maaf."
"Kamu nggak sempurna, Lee, jadi jangan khawatir. Kita nggak sempurna, nggak ada yang sempurna, aku tau aku juga belum jadi pasangan yang sempurna buat kamu, tapi selama kita ada di sini, kita bisa perbaiki semuanya, jadi jangan nyerah sama kita, Lee. Jangan tinggalin aku," dia memohon.
"Aku nggak bakal ninggalin kamu, Damon. Aku janji," dia senyum sebelum nyium bibirku.
Aku kangen banget bibirnya di bibirku, sentuhannya yang ngirim berbagai percikan ke berbagai bagian tubuhku. Dia nyium aku pelan-pelan, nikmatin waktu, nikmatin aku seakan-akan dia nggak cukup sama aku.
Kita lagi di kamar tiduran di kasur pas Damon ngeluarin sesuatu, itu kotak merah, dia buka dan itu gelang, itu gelang hitam dengan berlian bentuk hati, sederhana tapi indah.
"Cantik," kataku sambil senyum dan dia masang gelang itu di pergelangan tanganku.
"Harusnya aku kasih ini ke kamu dari dulu," katanya pelan.
"Jadi kenapa kamu nggak ngasih?" tanyaku
"Aku cuma pengen ngasih ini ke kamu di waktu yang aku tau kamu nggak bakal nolak," jawabnya dan aku ketawa. Apa aku semenyebalkan itu buat dia?
"Harusnya kamu kasih aja," kataku dan dia cuma ngangguk.
"Ada sesuatu yang pengen aku kasih tau kamu," katanya dan aku ngerapat, ngelihat dia.
Dia menghela napas berat sebelum mulai. "Cewek yang nembak aku, dia Aria."