Bab 58: Ini Bukan Perpisahan Kecuali Aku Setuju
Kata-kata keras banget dari seorang **Benjamin Walker** berubah total saat itu juga. Tatapannya yang khawatir tulus banget, dan dia sendiri kayak panik dikit.
"**Martina Martinez**, **Martina**?!" panggilnya makin cemas dan khawatir.
**Benjamin** nggak tahu apa yang terjadi sama **Martina**. Dia cuma khawatir kalau sesuatu yang buruk terjadi sama dia, setelah akhirnya bisa dapetin dia lagi dalam hidupnya.
Rasa takut nyebar ke seluruh tubuh **Benjamin**, bikin orang-orang di sana bengong.
Mereka denger **Benjamin** teriak buru-buru, "Kalian semua ngapain diem aja? Bawa dia ke rumah sakit! Sekarang!"
...
Di rumah sakit, setelah serangkaian pemeriksaan yang dilakuin sama **Dokter**, ternyata **Martina** cuma mabuk laut. Ditambah lagi kekurangan gizi dan efek emosional yang bikin dia pingsan, itu kombinasi beberapa faktor yang bikin dia nggak sadar.
Puji Tuhan, nggak terlalu parah, dia cuma butuh cairan. Nanti juga sadar setelah beberapa saat.
Waktu **Benjamin** natap **Martina** yang lagi tiduran di ranjang rumah sakit, akhirnya tenang dan nggak ada perlawanan kayak biasanya, dia kaget ngerasa lega yang udah lama nggak dia rasain.
Walaupun **Benjamin** nggak ngomong sepatah kata pun, dia diem-diem nambahin dalam hatinya, "Bahkan kalau harus mati, dia nggak akan biarin dia pergi."
Pas **Martina** buka mata lagi, dia ngeliat langit-langit putih yang familiar tapi juga asing. Rumah sakit punya dekorasi yang mirip di banyak ruangan, jadi nggak heran kalau dia ngerasa familiar yang aneh.
Dia gerakin badannya dan ngerasa sedikit nyeri dari jarum infus di tangannya. Dia cuma bisa benerin posisinya dan lanjut tiduran di sana.
Dia juga noleh buat nilai situasi sekarang, dan begitu dia ngelakuin itu, dia nyadar **Benjamin** masuk dari luar pintu. Dia bawa kotak makan siang di tangannya, dan pas ngeliat **Martina** udah bangun, langkahnya kayak berhenti sebentar.
Tapi **Martina**, begitu ngeliat **Benjamin**, langsung buang muka.
Gimana bisa **Benjamin** nggak sadar sama reaksi dia? Apa dia beneran nggak mau ngeliat dia? **Benjamin** naruh kotak makan siang dan narik kursi buat duduk di samping ranjang.
Cuma ada sedikit cairan yang tersisa di tetesan infus, dan **Benjamin** ngeliat ke atas buat kira-kira waktunya.
Tatapannya berubah-ubah, tapi nadanya tetep kaku dan dingin pas dia ngomong. "Walaupun kamu nggak mau ngeliat aku, kamu tetep harus makan." Dengan itu, dia buka kotak makan siang buat nunjukkin sup ayam polos dan semangkuk bubur.
Karena **Martina** tidur sepanjang malam, nafsu makannya nggak bagus, dan bahkan kalau ada makanan yang lebih enak disiapin, dia nggak bisa makan terlalu banyak.
Dia narik napas dalam-dalam, ngerasa badannya udah membaik banget, dan ini yang bikin reaksi dia selanjutnya.
Dia fokus natap **Benjamin**, matanya sedikit merah karena kelelahan, tapi nadanya tetep nggak percaya dan dingin, "**Benjamin**, aku nggak butuh perhatian kamu. Bahkan kalau aku mati, aku nggak butuh."
Mungkin ini yang namanya "cinta yang terlambat lebih murah dari rumput".
Kalau **Benjamin** udah ngerjain kayak gini sebelumnya, mungkin dia udah kelewat tersentuh, tersentuh sampai-sampai nekat lagi. Bahkan kalau ada orang nampar dia di depan mukanya, dia nggak akan ngerasa sakit karena dia percaya itu semua bakal sepadan.
Sayangnya, itu semua udah masa lalu.
**Benjamin** menutup matanya dengan nggak sabar; dia di sini, nungguin dia bangun, tapi bukan buat dengerin kata-kata yang nggak enak ini.
Dia nyisihin makanannya seolah-olah dia nggak denger apa yang **Martina** bilang, dan kemudian dengan baik hati ngupas apel buat dia.
Dia potongin sepotong dan masukin ke mulut **Martina**, dan sengaja atau nggak, ujung jarinya nyentuh bibirnya, langsung bikin emosi campur aduk dalam dirinya.
Mulut **Martina** udah penuh dan dia nggak mau nyia-nyiain apelnya. Akhirnya, dia nelen potongan apelnya.
**Benjamin** ngeliatin reaksi **Martina**, dan senyum tipis akhirnya muncul di sudut mulutnya. Seolah-olah cuaca udah berubah dari mendung jadi cerah, dan bahkan suhu di ruangan ini langsung naik.
"Mau lagi?" Suara **Benjamin** kayaknya udah dapet sentuhan kelembutan.
**Martina** ngegeleng, tatapannya nunjukkin sedikit kehati-hatian, dan sikapnya tetep nggak berubah dari sebelumnya. "**Benjamin**, aku udah jelasin sama kamu. Aku nggak balik," katanya serius. "Mengingat aku udah sama kamu selama ini, apa kita nggak bisa pisah baik-baik?"
**Martina** nggak ngerti. Nggak peduli seberapa banyak dia dulu bikin masalah, **Benjamin** selalu cuek. Kenapa dia tiba-tiba bereaksi keras banget sekarang?
**Benjamin** manyunin bibirnya dan, dengan nggak puas, ngulurin jari telunjuknya dan nekennya kuat-kuat di bibir **Martina**, bilang, "Berhenti ngomong. Nggak ada satu kata pun yang mau aku denger."
**Martina** diem.
Ini bukan soal mau ngomong hal yang nggak enak atau nggak. Mereka semua udah dewasa, dan kebenaran nggak selalu enak buat didenger.
**Martina** narik napas dalam-dalam lagi dan bilang, "**Benjamin**, berapa kali lagi aku harus bilang? Aku nggak mau balik sama kamu. Kita udah putus!"
Begitu denger kata-katanya, mata dingin **Benjamin** nunjukkin ekspresi yang nggak bisa dibaca, dan kehadiran yang mengintimidasi terpancar darinya, ngejaga orang pada jarak tertentu.
Dia nunduk, natap **Martina** yang baru bangun dan masih lemes. Berani banget dia nantang dia pas baru bangun?
**Benjamin** nggak mau lanjutin topik ini dan tiba-tiba ganti arah percakapan. "Kalau kamu nggak mau makan sekarang, kamu bisa makan nanti. Kecuali aku setuju buat putus, itu nggak dihitung putus."
Apa maksudnya bilang "nggak dihitung putus kalau dia nggak setuju"? **Martina** nggak tahu harus ngomong apa. Apa ini beneran **Benjamin**?
Walaupun dia udah ngomong sejelas mungkin, gimana dia masih bisa tahan? Kalau ada orang berani bertingkah kayak gini di depan **Benjamin**, mereka udah kehilangan setengah hidupnya sekarang.
Mungkin karena **Martina** tahu kalau nggak peduli apa yang dia bilang sekarang, **Benjamin** bakal tetep bersikap tuli dan bodoh, dia mutusin buat nggak ngomong apa-apa. Tahu dia nggak akan denger, kayaknya sia-sia terus buang waktu di sini—kayak ngomong sama tembok batu.
Ngeliat **Martina**, yang nutupin kepalanya pake selimut dan nggak mau diliat, kayak ngeliat kepompong ulat sutra yang kesusahan. **Benjamin** akhirnya ngeliat sekilas dirinya di masa lalu di dalam dirinya.
Saat ini, aura di sekeliling **Benjamin**, yang ngejaga orang pada jarak tertentu, berangsur-angsur hilang, diganti dengan kelembutan yang cuma punya **Martina** sendiri.
"Sore ini, balik sama aku. Setelah aku beresin urusan di perusahaan beberapa hari lagi, aku bakal ajak kamu jalan-jalan," katanya pelan. "Kamu kan selalu pengen ke Carlsbad? Dan Korea juga. Aku bakal bawa kamu ke sana satu per satu dalam waktu dekat."
**Martina** beneran bengong. Dia nggak ngerti apa maksud **Benjamin**. Apa mungkin dia ngeliat dia kayak anak kecil? Kasih dia tamparan terus kasih kencan manis, dan dia bakal senang?