Bab 46
Sudut Pandang Orang Ketiga
"K-kenapa lo keliatan khawatir gitu?" **Felicity** tertawa canggung dan melanjutkan, "**Quintin** juga manusia, tau. Siapa tau ada masalah di kantor atau ada klien nelpon dia dan mereka salah paham."
Pembelaannya gak bikin rasa penasaran **Elyana** hilang. Kelihatan banget di wajahnya, dan karena **Felicity** tau alasan sebenarnya dan takut **Elyana** bakal tau, dia langsung mikir alesan lain buat ngeyakinin dia.
"Lo kan tau sendiri, Gi, gimana stresnya ngurus perusahaan properti. Lo kan juga dulu di bidang yang sama. Dia kan lagi kerja dan sebagai bos—dia gak bisa ambil libur santai kayak karyawan biasa."
**Elyana** mengerutkan kening, mencoba mengingat apakah **Quintin** pernah bilang dia libur buat mereka pas lagi sama dia di mal, dan kayaknya engga.
"Gue gak yakin dia libur hari ini. Emang iya? Dia bilang gitu sama lo?"
"G-gue rasa sih iya," **Felicity** tergagap. Dia berhenti sebentar, pura-pura mikir biar kelihatan meyakinkan. "O-oh…iya deh. **Quintin** bilang gitu kemarin!"
"Oh gitu. Ada benernya juga sih. Bisnis mereka emang stres. Gue pernah ketemu klien yang susah dimengerti, tapi kebanyakan orang emang banyak maunya," **Elyana** akhirnya setuju, dan si mak comblang langsung merasa lega.
"Jujur, gue sempet mikir yang lagi dia debat itu lo," kata **Elyana**. **Felicity** mengangkat alis dan mendesis.
"Lo tau kan, kalo dia berantem sama gue, gue tunda aja urusan cintanya. Cowok itu gak punya cara lain selain baik-baik sama gue terus."
Keduanya gak bisa nahan buat gak ketawa denger omongan **Felicity**. Emang bener sih, dia punya semua caranya.
"Mbak **Elyana**, kotak dekorasi ini mau ditaruh di mana?" Obrolan mereka terganggu ketika sopir yang membawa kotak besar bertanya.
"Kayaknya itu buat kaki pohon Natal. Tolong bawa ke ruang keluarga bareng bagian yang lain ya," jawabnya, dan sang sopir pun menurut.
Dia berbalik ke arah **Felicity** setelah menjawab. "Maaf ya, gue mau bantu mereka bongkar barang," katanya.
"Gue juga mau bantu!" jawab **Felicity**, dan mereka berdua berjalan di belakang van untuk mengambil barang-barang yang gak berat buat mereka angkat.
Semua orang yang lagi gak ada kerjaan langsung keluar buat bantu. Mereka bolak-balik ke van, ngikutin instruksi **Elyana** mau taruh kotak-kotak itu di mana, tergantung isinya.
Setelah mengosongkan van, **Elyana** dan **Felicity** tetap di ruang keluarga sementara yang lain balik ke kerjaan masing-masing. **Felicity** udah gak sabar mau nanya sesuatu ke sahabatnya, tapi dia belum nemu momen yang pas.
Para pelayan udah manggil mereka buat makan siang. Pikiran **Felicity** masih ngegantung di pertanyaannya, tapi karena ada banyak orang di sekitar mereka, dia gak bisa ngomong. Dia balik ke kantornya dan mutusin buat nanya pas balik rumah nanti, kerja terus sampe sekretarisnya bilang dia mau pulang.
Dia masih di kantor beberapa menit sebelum balik ke rumah. Dia nemuin **Elyana** di ruang keluarga lagi ngerjain pohon Natal putih raksasa yang dia beli, masang bunga poinsettia emas di tangga.
"Kenapa lo kerjain sendiri? Bisa suruh pelayan buat dekorasi," katanya sambil mendekat ke arahnya.
"Gak papa. Gue pengen ngerjain sendiri biar pikiran gue gak kemana-mana, dan gue emang suka kok ngerjain ini," jawabnya setelah ngasih tatapan singkat ke dia.
Setelah masang poinsettia emas terakhir di ranting pohon, dia turun dari tangga buat ambil lagi. **Felicity** ngeliat itu sebagai kesempatan buat akhirnya nanya.
"Umm…bessy," dia mulai.
"Iya?" tanyanya sambil nyari poinsettia lain yang dia beli di kotak.
"Lo udah gak kontakan lagi sama Lu—maksud gue, mantan suami lo?" Dia hampir aja nyebut nama itu, tapi tiba-tiba berubah pikiran karena ngomongin itu kayak ngomongin kata-kata kotor.
**Elyana** berhenti dari apa yang dia lakuin dan ngangkat kepalanya buat natap mata **Felicity** langsung. Dia gak nyangka bakal ditanya gitu, tapi dia sadar gak ada yang salah kalo dia jawab pertanyaan itu.
"Udah engga, sejak gue ke Filipina," jawabnya. "Kenapa tiba-tiba nanya?" tambahnya setelah beberapa detik berhenti.
"G-gak ada apa-apa sih, cuma nanya aja," jawabnya, tapi wajah **Elyana** nunjukkin dia gak percaya cuma gitu aja.
"Gue tau lo, Bakla," desak **Elyana**.
**Felicity** membuang muka. Dia ngambil sekotak bunga poinsettia emas yang lagi dicari **Elyana** di kotak lain, dan dia kasih ke dia.
"Makasih," katanya, ngambil itu, dan akhirnya ngingetin dia, "Lo belum jawab pertanyaan gue."
**Felicity** ngambil bola Natal besar di dalam kotak dan pura-pura merhatiin itu. Bantal kena mukanya tiba-tiba, dan karena gak ada orang lain di ruang keluarga selain mereka berdua, dia udah tau siapa yang ngelakuin itu.
Pas dia ngasih tatapan ke **Elyana**, dia ngeliat dia megang bantal lain.
"Gue gak takut sama bantal itu, Gi," katanya sambil ngangkat alis.
**Elyana** mikir itu tantangan. Bantal kedua terbang ke muka **Felicity**, bikin dia tersentak. Dia ngerasain kekuatan dua kali lipat di bantal yang itu, dan dia gak bisa nahan buat gak bereaksi.
"Aduh sakit!" serunya.
"Lo yang minta. Gue pikir lo gak takut. Gue lempar lagi kalo lo gak jawab pertanyaan gue," ancamnya. "Kenapa lo tiba-tiba nanya?" ulangnya.
"Ya, gue cuma mikir… gimana kalo dia tiba-tiba muncul minta lo ngasih dia kesempatan lagi—buat benerin pernikahan yang dia rusak?"
**Elyana** mikir keras. Dia mencoba menimbang semua rasa sakit yang dia kasih dengan balik ke hari dia nemuin dia selingkuh. Dia akuin masih ada rasa sakit di hatinya, tapi ada perbedaan. Rasa sakitnya gak begitu menyakitkan lagi dari sebelumnya, dan dia kayaknya udah gak terlalu peduli sama dia saat itu.
"Serius, gue rasa dia gak bakal gitu. Kenal dia—egonya lebih berharga dari apapun. Satu lagi, gue rasa dia sama ceweknya sekarang bahagia. Cuma dari ini, dia gak punya alasan buat gangguin gue," jawabnya.
"Tapi gimana kalo dia beneran gitu? Apa lo bakal kasih dia kesempatan?"
**Elyana** menghela nafas panjang. Dia natap mata **Felicity** langsung, dan dia ngeliat gimana dia pengen banget tau jawabannya.
"Jujur, gue gak tau," jawabnya, dan dia tiba-tiba membuang muka dari sahabatnya.
**Felicity** kecewa sama jawaban yang dia dapet. Dia ngarepin jawaban "nggak" yang tegas tapi yang dikasih malah penuh keraguan. Dia tau itu kayak mungkin, di antara iya dan nggak; namun, berdasarkan gimana **Elyana** bereaksi, dia menafsirkannya lebih dekat ke iya.
Dia pengen ngejagain temennya dari sakit lagi. Dia gak mau ngeliat dia nangis lagi karena orang yang sama, tapi dia tau dia gak selalu ada buat ngejagain dia. Apalagi karena dia tau apa yang lagi direncanakan **Lukas** dan gak bakal kaget kalo dia tiba-tiba muncul di depan mata mereka.
**Felicity** gelisah sepanjang malam. Dia tetap di dalam kamar yang dia tempatin di rumah itu, cuma natap langit-langit sambil tiduran di kasur. Seharusnya dia kerja setelah bawa pulang beberapa file dari kantornya.
Keesokan paginya, dia bangun pagi karena tidur sebentar. Dia siap-siap buat ke kantor lebih awal hari itu dan beli sarapan dari drive-thru, tapi dia mengubah rencananya setelah tanpa sadar ngambil rute yang berbeda dan nemuin dirinya parkir di depan rumah ibunya.
Insting keibuan **Eugene** bilang ada sesuatu yang bikin anaknya khawatir pas pertama kali dia ngeliat dia.
"Kamu ada masalah, Nak?" tanyanya ketika dia tiba-tiba memeluknya.
Dia diam sambil mempererat pelukannya.
"Kayaknya iya, Ma! Lihat wajahnya—gue bisa baca satu kata yang tertulis. Stres, stres, dan stres!" sela **Lea**, yang kebetulan ada di dapur tempat **Felicity** nemuin ibunya.
Dia melepaskan pelukannya dan melirik kakak perempuannya. "Stres, tapi dibandingin lo, gue masih keliatan seger. Lihat lo—"
"Lanjutin, ngomong aja!" ancaman **Lea** bikin **Felicity** nutup mulutnya karena dia megang botol susu dan mengarahkannya ke arahnya.
"Mama!" Dia bersembunyi di belakang ibunya kayak anak kecil. **Lea** nurunin tangannya. Dia tau dia keliatan berantakan karena dia belum nyisir rambutnya atau cuci muka. Dia cuma bangun dan turun buat ambil air buat botol susu anak bungsunya ketika **Felicity** dateng.
"Chee!" seru **Lea** sebelum meninggalkan keduanya.
"Ada masalah?" **Lea** udah pergi ketika **Eugene** nanya ini. Dia menariknya ke kebun, di mana gak ada yang bisa denger apapun yang mereka omongin.
**Felicity** memeluk ibunya lagi dan menyandarkan kepalanya di bahunya selama beberapa menit. **Eugene** mengelus rambut panjang dan halus **Felicity** seperti anak kecil, seolah dia adalah anak kecil yang merindukan kasih sayang ibunya.
Si mak comblang merasa lebih lelah saat itu, dan yang dia inginkan hanyalah tetap dalam pelukan hangat ibunya. Pelukannya menjadi lebih erat, dan kemudian, air mata di matanya mulai berjatuhan, sesuatu yang dia gak sadar bakal terjadi.
Dia menyeka air mata itu sebelum ibunya menyadarinya. Dia menenangkan diri dan melepaskan pelukannya ketika dia merasa baik-baik saja.
"Gue harus pergi, Mama tersayang," katanya, takut natap mata ibunya langsung, itulah sebabnya dia sedikit menundukkan kepalanya.
"Makan siang bareng kita sebelum pergi," desak **Eugene**.
**Felicity** mengambil ponselnya di dalam tas tangannya dan berkata, "Gue gak punya waktu lebih, Mama. Gue harus ketemu klien penting sepagi ini. Mungkin lain kali."
Dia bergegas keluar, tapi **Eugene** berhasil mengejarnya sebelum dia benar-benar bisa masuk ke mobilnya.
"Balik buat makan siang! Gue masak kesukaanmu!" teriaknya, dan **Felicity** harus memilih tapi menjawab.
"Oke, Mama sayang. Nanti siang gue balik!"