Achaz II
Shawn dan Saya diam-diam memperhatikan anak laki-laki di depan kita saat dia memakai pakaiannya, Shawn dan Saya saling pandang lalu melihat kembali ke anak laki-laki yang memperkenalkan diri sebagai Damon.
"Damon, kamu bilang tadi kalau Achaz ada di dalam dirimu, maksudnya apa?" Shawn bertanya, Damon, menatap kami setelah selesai berpakaian.
Kita masih di rumah mereka, di kamar lain tempat Damon memberi tahu kami bahwa ini kamarnya. Dia baru saja selesai mandi tadi. Kami bilang kami akan membawanya bersama kami kalau dia mau mandi dan merapikan dirinya.
"Saya sakit." Katanya dingin sambil menatap kami. "Multiple Personality Disorder." Tambahnya jadi Shawn dan Saya saling pandang, kami nggak tahu apa maksudnya itu.
"Apaan tuh?" Saya bertanya. Kami memperhatikan Damon pergi ke pakaiannya, mencari sesuatu.
"Dua manusia dalam satu tubuh." Katanya sambil mencari seseorang.
"Kamu gila?" Shawn bertanya jadi Saya langsung menendangnya.
"Maksudnya, sakit jiwa gitu?" Saya bertanya, tapi dia nggak bilang sepatah kata pun. Dia mengeluarkan kunci lalu melihat ke arah kami.
"Kalau mau ganti baju, ambil gaun dari pakaianku, aku mau ambil sesuatu dulu." Katanya dingin lalu keluar dari kamarnya. Shawn ninggalin kita di sini, dia menatapku lalu mencubitku.
"Ayo, cabut, yang itu gila." Katanya, cemberut padaku.
"Kamu ngomong apa sih? Dia nggak gila, lagian kamu denger sendiri dia nyebut penyakitnya, Multiple apa gitu, aku yakin dia waras." Saya bilang.
"Tapi dia ngaku udah bunuh orang tuanya," kata Shawn gugup.
"Achaz kayaknya yang jadi pembunuhnya," kataku.
"Tapi dia bilang, Achaz ada di dia." Katanya.
"Karena dia sakit!" Kesel Saya bilang.
"Terserah, aku cabut, nggak mau mati. Aku masih sering maling soalnya." Katanya dan baru mau keluar dari kamar Damon saat dia membuka pintu, Damon sudah ada di sana, berdiri sambil memegang koper.
Shawn langsung lari ke arahku, kita ketelan karena aura Damon, tatapannya dingin ke arah kami, dia masuk lalu meletakkan koper yang dia pegang di kasurnya.
"Sudah buat pilihan?" Dia bertanya, kami nggak jawab, Damon melihat ke arah kami, menggelengkan kepala, lalu membuka koper yang dia bawa.
Kami hampir menjatuhkan rahang saat melihat isi Koper itu, isinya penuh uang dan beberapa perhiasan.
"Uang," Shawn berbisik jadi Saya melihat ke arahnya. "Ya udah, kamu ngalangin aku." Bisiknya, Saya melihat lagi ke arah Damon yang sedang melihat ke arah kami.
"Itu punya kamu?" Saya bertanya. Dia menggelengkan kepala.
"Buat mama." Katanya lalu mengambil setumpuk uang dan menaruhnya di depanku. "Aku bayar kamu buat ikut aku ke sini." Katanya jadi Saya menatap uang di depan Saya yang dia pegang. Pasti Saya tolak kalau Shawn nggak ngambilnya dari Damon lalu tersenyum.
"Sama-sama," kata Shawn lalu melihat ke arahku, Saya membelalakkan matanya tapi dia nggak nyerah.
Dia suka uang.
"Kita bisa bawa kamu ke tempat kita dan gabung sama kita, Boss pasti senang kalau ada kamu," kata Shawn sambil melihat ke arah Damon.
Saya cuma geleng-geleng di dalam hati, asal ada uang emang cepet Shawn. Kayaknya baru kemarin dia takut banget sama Damon dan pengen cabut, sementara sekarang kayaknya mereka berdua temenan.
"Uang itu buat apa?" Saya bertanya, Damon, melihat ke arahku.
"Aku pakai buat ngebuang Achaz." Katanya jadi Saya mengerutkan kening.
Saya nggak ngerti apa yang dia omongin, yang penting Saya tahu dia sakit dan uang di depan kami mau dia pakai buat nyembuhin penyakitnya.
~~~
Sebulan berlalu setelah kami melihat Damon di atas pohon, sebulan juga berlalu saat kami membawa Damon ke tempat kami dan memperkenalkannya pada Boss.
Boss langsung suka sama dia karena uang yang dia bawa, tapi Damon nggak ngasihnya ke Boss karena dia beralasan mau pakai buat ngebuang Achaz, sesuatu yang sampai sekarang nggak Saya ngerti.
"Damon tuh dermawan, pikirin aja, sejak kita bawa dia ke sini kita selalu ada cemilan," kata Shawn duduk di samping Saya sementara Damon tidur di kamar di sini, di apartemen tempat kami tinggal yang diambil Damon sendiri.
"Hidup kita lumayan membaik sejak ngeliat dia, beneran bagus kamu ngalangin aku pas mau cabut," kata Shawn jadi Saya cuma geleng-geleng. Shawn melihat apa yang sedang Saya lakukan lalu melihat ke arahku.
"Kamu nyari apa di Google?" Dia bertanya sambil melihat handphone Saya yang dikasih Damon.
"Pengobatan Multiple Personality Disorder." Dia basah lalu melihat ke arahku.
"Itu kan sakitnya Damon?" Dia bertanya, Saya mengangguk sebagai jawaban.
'Dia udah bantu kita, jadi kita juga bantu dia." Saya bilang lalu membaca apa yang keluar di situs tentang MPD.
"Aku nggak tahu apa-apa soal itu tapi lanjut aja, katanya gimana? Obatnya apa? Nanti aku beli di apotek." Katanya.
"Katanya sih, psikoterapi kayaknya," kataku.
"Oh? Apotek mana yang ada itu?" Shawn bertanya jadi Saya melihat ke arahnya.
"Goblok nggak ada di apotek," kataku jadi dia mengerutkan kening.
"Kalau nggak di apotek, belinya di mana?" Dia bertanya, Saya baca lagi situs itu dan meskipun nggak banyak tahu, Saya berusaha mengerti.
Sampai malam tiba, Saya bahkan nggak bisa jawab pertanyaan Shawn di mana dia bisa membelinya.
Saya menarik napas dalam-dalam lalu menonton YouTube, beberapa menit berlalu dan Saya perlahan ngegets hal-hal tentang psikoterapi.
"Aku udah tahu di mana," kataku jadi Shawn melihat ke arahku makan.
"Di mana?" Dia bertanya.
"Kita butuh psikiater buat melakukan psikoterapi," kataku jadi dia mengerutkan kening.
"Aku cuma ngerti Psy." Katanya lalu berdiri. "Di mana aku bisa nemuin itu?" Dia bertanya.
"Di--" Saya belum selesai ngomong tiba-tiba Shawn dan Saya melihat ke arah pintu kamar tempat Damon sekarang berdiri sambil melihat ke arah kami.
"Damon, kamu udah bangun, yuk makan." Shawn mengajaknya tapi Damon cuma menatap kami, tatapannya beda. Nggak dingin, nggak juga normal. Itu tatapan yang jelas punya sesuatu yang buruk untuk dilakukan.
"Achaz ada di dalam diri Saya."
Entah kenapa, Saya tiba-tiba teringat apa yang Damon bilang saat pertama kali kami melihatnya dan dia mau mengajak kami ke rumah mereka.
"Hoy Damon, makan di sini aja yuk," kata Shawn jadi Damon menatapnya.
"Siapa kamu?" Damon tiba-tiba bertanya yang menyebabkan kami berhenti.
"Kamu belum kenalan, jadi jangan percaya Achaz."
Saya menelan ludah sambil melihat Damon, nggak, salah. Bukan Damon yang sedang kami hadapi sekarang, tapi Achaz.