Rencana
Sudut Pandang Bulan
Setelah Hujan cerita semuanya ke kita, gue gak tau gimana perasaan gue. Sedih sama kasihan, itu yang dominan pas denger cerita Hujan. Sedih buat Zero karena dia gak tau apa yang direncanain Hujan, Shadow, sama Red.
Kasihan, buat Nyonya Steler yang gak tau apa-apa tapi ternyata Tuan Steler nyuruh mereka bertiga buat bunuh anaknya sendiri.
Kayak yang gue bilang ke Terbang tadi, Hujan cuma korban, begitu juga Red sama Shadow. Tapi bukan berarti gue berpihak ke mereka, mereka salah jadi tetep harus tanggung jawab atas perbuatan mereka.
"Lo mau minta apa kalau misalnya jadi kenyataan?" Gue nanya ke Zero, dia senyum sambil ngelihat ke langit.
"Simpel kok." Kata dia sambil ngelihat ke gue. Gue bisa lihat kesedihan di matanya.
"Keadilan."
Gue merem, inget jawaban Zero ke gue waktu gue nanya apa yang bakal dia minta dari meteor.
Zero, gue bakal bikin keadilan buat kematian lo. Gue bakal penuhi permintaan lo.
"Janji, ya." Gue bilang ke Hujan, gue pegang tangannya terus natap matanya.
"Janji, lo bakal nyerahin diri ke polisi dan keadilan ditegakkan atas kematian Zero." Kata gue, dia nangis dan ngangguk. Gue senyum ke dia, terus meluk dia.
Gue benci, bukan Hujan, Shadow, atau Red. Tapi atas apa yang mereka lakuin, gue benci apa yang mereka lakuin ke Zero.
"Udah bikin rencana belum, Bulan?" Tanya Terbang. Gue lepasin pelukan, terus ngelihat ke arah Terbang yang lagi bego sambil ngelihat ke arah lain.
Gue berdiri terus ngelihat ke mereka berdua.
"Udah." Kata gue bikin mereka berdua ngelihat ke gue.
~~~
Setelah gue jelasin rencana gue ke mereka, kita langsung keluar dari tempat persembunyian.
Terbang ngintip di pintu, ngelihat ada orang atau nggak di luar. Pas dia lihat gak ada siapa-siapa, kita langsung keluar dan jalan di koridor Moonlight yang sepi dan panjang.
"Perhatian untuk murid-murid Moonlight."
Kita berhenti pas pengeras suara tiba-tiba bunyi. Kita ngelihat ke pengeras suara.
"Hari ini adalah kegiatan pertama kalian."
Itu suaranya Laksamana.
"Untuk kegiatan pertama kalian, tugas kalian adalah mencari Bulan, Hujan, dan Terbang."
Kita bertiga saling pandang.
"Catet, bawa mereka hidup-hidup ke kita. Siapa yang bisa bawa mereka bertiga ke kita, bakal ada hadiah besar."
Gue turunin telapak tangan gue, kecurigaan gue bener. Mereka bakal pakai murid-murid Moonlight buat ngelawan kita.
"Kalau kalian berantem, kalian bakal luka. Tapi inget, kalian harus bisa bawa Bulan hidup-hidup ke kita."
Kita langsung jalan ngejauh dari tempat kita berdiri.
"Tugas kalian, mulai sekarang."
Kita ngebut, kita berhenti lari pas ngelihat ada murid Moonlight yang jalan ke arah kita, jadi kita langsung lari ke arah seni rupa.
"Ini dia." Kata Terbang sambil buka pintu yang ada di tangga, kita langsung masuk ke dalem dan turun tangga.
"Kita di pengadilan." Kata gue, jadi kita langsung turun tangga, kita kaget pas Terbang ngasih isyarat buat diem sebentar. Kita udah deket banget sama tembok, terus ada murid Moonlight yang lari ngelewatin kita. Terbang ngintip lagi, terus ngasih isyarat lagi buat jalan.
Kita langsung ke kelas yang pintunya kebuka pas denger suara dari tangga, kita langsung duduk di bawah meja biar murid Moonlight yang lewat gak bisa ngelihat kita.
Beberapa menit kemudian, bagian luar kelas tempat kita sembunyi jadi sepi, Terbang langsung ngintip dan ngasih isyarat kalau dia boleh keluar, Hujan sama gue ngikutin dia.
"MEREKA DI SANA!" Kita kaget pas ada yang teriak.
"Lari!" Teriak Hujan, jadi kita langsung lari ngejauh dari orang-orang yang ngejar kita.
"Sini!" Kata Hujan, terus masuk ke gang kecil di gedung sini di Moonlight, kita langsung sembunyi di samping tempat sampah gede terus gak bikin suara apapun.
Kita denger suara langkah kaki orang yang ngejar kita, kita nghela napas lega pas denger mereka salah arah.
Terbang ngelihat ke gue.
"Kita jadi jalanin rencananya gak nih?" Tanya dia. Gue ngangguk terus ngelihat ke Hujan yang kelihatan tegang.
Gue pegang tangannya biar dia bisa ngelihat gue.
"Semuanya bakal baik-baik aja kok." Kata gue, dia senyum ke gue. Begitu Terbang berdiri dan keluar dari gang tempat kita sembunyi, kita dihentiin sama seseorang yang tiba-tiba ngegenggam dua murid Moonlight cowok.
"Terbang!" Gue manggil, jadi orang-orang itu ngelihat ke Hujan dan gue.
"Jackpot." Kata salah satunya, terus mau nyamperin gue. Gue kibasin tangan di udara, bikin dia lari menjauh. Empat temennya kaget sama apa yang gue lakuin, jadi mereka langsung lari ke arah gue. Tiba-tiba Hujan ngehalangin pake balok air gede antara mereka dan kita.
"Kita harus bikin mereka tidur, Bulan." Kata dia, gue ngangguk terus kibasin tangan gue lagi, bikin mereka kena tembok dan gak sadarkan diri.
Langsung balok air di depan kita hilang, gue senyum ke Hujan, terus Terbang langsung nyusul.
"Yang kiri ke pengadilan." Kata Terbang sambil ngintip di balik tanaman.
"Yang kanan juga ke Pengadilan, kita gimana?" Tanya Hujan sambil ngelihat ke kanan.
"Lo gak punya tempat buat lari, Nona Bulan." Di saat yang sama, kita ngelihat ke belakang, kita nelen ludah pas ngelihat Laksamana dan Admin udah deket sama kita.
"Lari!" Teriak Terbang, jadi gue sama Hujan langsung lari, tapi gue berhenti pas ngelihat Terbang dipegang sama murid Moonlight.
"Terbang!" Gue manggil, jadi dia ngelihat ke gue.
"Lari!" Teriak dia, gue kaget pas Hujan narik gue dan ngejauhin gue dari Terbang.
Kita mulai lari ke arah pengadilan tapi murid-murid dari kanan dan kiri udah ada di sana, jadi kita langsung ke jalan, tapi ada orang yang nungguin kita di sana juga. Jadi kita langsung balik lagi ke tempat kita pergi, tapi di sana juga ada murid.
Genggaman gue ke Hujan makin erat.
Kita udah dikepung.
Kita ngelihat Laksamana dan Admin yang senyum sambil ngelihat ke gue.
"Lo gak punya tempat buat lari, Nona Bulan." Kata Laksamana.
"Bulan!" Teriak Hujan pas murid Moonlight narik dia ngejauh dari gue. Gue mau nyusul, tapi ada yang narik gue dan maksa gue buat berlutut di rumput.
"Jangan berontak lagi, Nona Bulan." Kata Laksamana. Gue ngelihat murid-murid yang ada di belakang dia, mereka ada Red, Star, Cloud, Shadow, dan Ice.
Gue turunin telapak tangan gue terus ngelihat murid yang megang tangan gue, gue langsung masuk ke pikiran dia dan ngendaliin.
"Lepasin gue--" Gue belum selesai ngomong, tiba-tiba ada listrik nyetrum dari badan gue sampe ke kepala.
"Argh!" Teriak gue terus ngelihat ke pembuatnya, Cloud.
"Jangan berontak, Bulan, lo cuma bakal terluka." Kata dia, jadi gue ngelihat tingkah laku Laksamana dan admin.
Gue senyum sendiri, semuanya berjalan sesuai rencana kita bertiga.