Kematian Zero
Sudut Pandang Hujan
Game MLA Terakhir, 2 Tahun Lalu.
"Apa lo masih memimpikannya?" Aku dengar Hydro bertanya pada Zero.
"Iya." jawab Zero sambil tersenyum. 'Gue ngerasa semua mimpi gue jadi kenyataan, gak ada malam yang gak gue mimpiin dia.' kata Zero.
"Hmm, aneh, lo bilang lo belum pernah ketemu cewek itu secara langsung tapi di mimpi lo." kata Hydro. Aku ambil busurku dan atur diri.
"Gue rasa seseorang pengen mewujudkan mimpi gue." kata Zero, aku menoleh ke arah Zero dan menatapnya.
Gimana caranya gue bunuh Zero? Aku turunkan tanganku ketika aku ingat lagi apa yang dia lakuin ke gue.
Game ini gak bakal berakhir tanpa ngebunuh lo.
"Ada lawan!" teriak Gelap mendekati kami.
"Beberapa anggota Velandra datang ke sini." Katanya jadi Zero langsung berdiri dan menatap kami.
"Kita harus bertindak." Kata Zero.
"Kita gak cukup orang." Aku mengeluh jadi mereka menatapku.
"Kita berdelapan, mereka cuma berempat." Tambahku lalu menatap Zero dengan khawatir.
"Kita harus kabur." kataku jadi Hydro menatap Zero.
"Hujan bener, kalian harus pergi." Kami menatap Hydro.
"Apa yang lo bilang? Ayo pergi." kata Gelap dan mengambil barang-barangnya.
"Lawannya cuma bakal ngikutin kita kalau gue ikut kalian, salah satu dari kita harus ditinggal buat ngecoh lawan dan gue yang bakal lakuin itu." Katanya jadi dahi Zero berkerut.
"Tapi Hydro--"
"Lo pengen ketemu cewek di mimpi lo, kan?" Hydro tanya ke Zero yang gak jawab.
"Lo harus hidup buat ketemu dia Zero, jadi ayo pergi, pergi sana. Gue yang urus mereka." Kata Hydro.
"Hydro..."
"Cepetan, mereka udah deket." Kataku jadi mereka menatapku lalu mengalihkan pandangan mereka kembali ke Hydro, Hydro tersenyum ke Zero lalu memeluknya.
"Sampai jumpa lagi teman." Kata Hydro, Aku ambil perlengkapanku lalu menatap Gelap dan Zero.
"Kita harus pisah." Kata Gelap.
"Gue pergi sama Zero, Hujan di kanan lo lewat." Katanya jadi aku mengangguk dan langsung berjalan ke arah yang Gelap katakan, tapi aku juga langsung berhenti buat sembunyi di pohon besar, aku bahkan lihat gimana Gelap dan Zero lari dari Hydro. Aku turunkan telapak tanganku saat aku lihat Hydro tersenyum ke Zero yang berjalan pergi.
Kenapa penting banget buat Hydro nyelamatin Zero? Zero itu makhluk jahat, dia ngejauhin gue, dia perkosa gue.
Aku menyipitkan mata dan sembunyi di balik pohon saat aku dengar Hydro mengeluh kesakitan yang lawan kita kasih. Aku menutup bibirku buat mencegah bikin suara, air mataku terus menetes.
Maaf Hydro.
Aku pelan-pelan melirik ke arah Hydro dan hatiku makin menegang ketika aku lihat tubuhnya tergeletak di lantai sambil matanya terbuka dan dia sepertinya menatapku.
"Maaf..." bisikku di udara sambil menatap Hydro. Ketika lawan kita bisa pergi dari tempat di mana tubuh Hydro berada, aku langsung mendekat dan menangis dengan mata Hydro tertutup.
"Maaf." Kataku sambil memegang tangan Hydro. Aku tarik napas dalam-dalam dan menatap ke arah di mana Zero dan Gelap lewat.
'Ini salah Zero kenapa lo meninggal.' Kataku dan menatap tubuh Hydro.
Aku tarik napas dalam-dalam lalu berdiri dan langsung lari ke arah di mana mereka pergi ke Zero, beberapa menit kemudian aku juga berhenti lari ketika aku lihat Zero dan Gelap dengan lawan yang berlawanan.
Aku langsung memanjat pohon dan mengarahkan busurku.
Aku pertama kali melihat Zero yang sibuk bertarung dengan Gelap.
"Lo ngejauhin gue." Kataku pada diri sendiri dan meregangkan tali busur panahku lalu mengarahkan anak panah ke arah Zero.
"Bunuh Zero kalau-kalau dia punya rencana buat ngalahin Cahaya Bulan."
Kemarahan yang kurasakan pada Zero semakin hebat ketika aku ingat apa yang Tuan Steler katakan.
"Maaf, tapi lo harus hilang." Saat aku bilang itu, aku lepas tali busur dan melepaskan anak panah ke arah Zero. Aku lihat gimana itu tenggelam di punggung Zero tembus dadanya. Aku langsung turunkan telapak tanganku ketika aku merasakan iba dan penyesalan.
"Zero!" Aku dengar Gelap berteriak dan menangkap tubuh Zero, karena suatu alasan yang tak diketahui air mataku tiba-tiba menetes sambil melihat Zero.
Kenapa gue gak bahagia karena gue ngebunuh Zero? Aku bisa membalaskan dendam Hydro dan aku bisa membalas dendam diriku sendiri atas apa yang dia lakukan padaku. Tapi kenapa gue ngerasa kayak gini? Bukannya bahagia gue malah sedih.
"Lo mendahului kami." Aku menoleh ke pembicara, di balik pohon tempat aku berdiri kami ada Shadow dan Merah.
"Kenapa lo nangis?" Merah bertanya, aku langsung menghapus air mataku dan melihat lagi ke Zero yang sekarat.
"Gue gak tau." 'Kataku sambil melihat Zero, Aku mengalihkan pandanganku kembali ke keduanya.
"Lo baru aja ngelakuin hal yang benar." Merah berkata dengan dingin. "Dia cuma bisa ganggu kemenangan Cahaya Bulan." katanya lalu tersenyum padaku.
"Lo punya hati nurani gak?" Shadow tanya ke gue, gue gak jawab.
"Gimana kalau mereka tau Laksamana, Admin, dan Nyonya Steler kalau gue ngebunuh Zero?" Aku bertanya. Shadow melihat ke belakangku.
"Mereka gak tau kalau Tuan Steler yang nyuruh kita buat ngebunuh Zero." Tambahku. Shadow menatapku.
"Ini bukan salah lo." Kata Shadow.
"Tapi gue yang ngebunuh--"
"Lo gak ngebunuh Zero." Shadow memotong apa yang harus kukatakan.
Aku terkejut saat aku menatapnya.
"Gelap yang ngebunuh Zero." Aku turunkan telapak tanganku atas apa yang dia katakan.
"Kakak lo itu Gelap, kenapa dia--"
"Dia ngebunuh orang tua kita, Hujan" Katanya dan menatapku.
"Jadi dia yang kita salahin atas kematian Zero." Kata Shadow jadi aku melihat lagi ke arah Gelap dan Zero, aku lihat gimana Gelap menangisi Zero. Hati nuraniku menelanku lagi saat aku melihatnya.
Maaf.