Bab 30 Si Pembunuh
"Aku tahu kamu ganteng, berkuasa, dan kaya. Dan kamu adalah cowok idaman buat sebagian besar cewek di Kota Romantis. Makanya, aku juga tahu diri, nggak pantas buat itu dan nggak berani nuntut apa-apa." Grace senyum sambil ngomong jelas, "Kalau menurutmu oke, kamu bisa pertimbangin saran aku. Lagian, kamu kan nggak cinta sama aku. Nggak perlu buang-buang waktu seumur hidup sama aku."
"Beneran?" Mason ngangkat kepala, natap matanya penasaran. Dia meluk sebagian besar badannya Grace, terus berbisik, "Tapi Grace, kamu tuh tipe aku banget. Kamu cantik dan seru. Sekarang aku malah mikir, kalaupun aku beneran nikah sama kamu, ya nggak masalah."
Grace ngangkat kepala di pelukannya, senyumnya memukau. "Tapi kan kamu suka Rose? Apa kamu beneran bisa bahagia nikah sama orang yang nggak kamu cintai?"
Denger nama itu, matanya langsung redup.
Dia senyum tipis, ngulurin tangan. Dia narik dasinya Mason, terus dorong dia ke kasur, ngomong dengan menggoda, "Mason, jangan khawatir. Aku nurut kok. Aku bakal kerja sama buat selesain tugasnya, dan nggak bakal ganggu kamu buat ngejar cinta. Aku cuma berharap, kamu bisa lepasin aku nanti."
Abis ngomong gitu, dia nyium bibirnya Mason.
Malam ini dia kayak kucing liar yang seksi. Cowok mana pun pasti tertarik sama dia, termasuk Mason.
Mason tiba-tiba megang pinggangnya Grace, senyumnya menggoda. Dia balik badan, terus nindih dia. Dia robek piyama Grace dengan kasar, terus nyengir, "Oke deh, kalau kamu mau main, aku bisa main sama kamu malam ini!"
Abis ngomong gitu, dia nendang kakinya Grace, terus tangan kasarnya dia turun ke pahanya.
Grace langsung menggigil dan merem erat-erat.
Sebelum dia datang, dia udah nyelidikin semuanya dan siapin mental. Ini cuma permainan orang dewasa. Begitu matanya merem, semuanya bakal selesai.
Tapi, tiba-tiba wajah Carl muncul di pikirannya. Dia langsung pusing banget.
Di detik terakhir, dia tetep nggak bisa nahan diri dan nahan tangan Mason.
"Hmm?" Mason ngangkat matanya bingung, natap dia dengan wajah penuh tanda tanya.
"Maaf." Dia berbisik, "Aku belum siap, bisa kasih aku waktu lagi nggak?"
"Kecewa deh." Dia ngomel nggak suka, terus ngelepasin dia.
Dia nggak pernah maksa cewek. Itu yang Grace suka dari dia.
Dia pake jasnya dengan wajah muram. Terus dia ngeluarin undangan emas dan ngelemparnya ke Grace. Dia berdecak dingin, "Kamu kan pede banget bisa bantu aku dapetin hati Andrew? Di pesta koktail besok malam, coba aja yang terbaik."
Abis ngomong gitu, dia balik badan dan pergi.
Grace ngeremes undangan itu, terus ketawa getir.
Meskipun dia nggak mau ngelakuin itu, dia tetep aja terlibat dalam perebutan keluarga Mason. Dan dia nggak tahu, ini berkah atau kutukan buat dia.
… …
Jam delapan malam, Grace dijemput Mason buat ke resepsi.
Meskipun skala pesta koktail keluarga Mason nggak terlalu besar, tapi tetep aja ngundang banyak selebriti, wartawan, dan media di Kota Romantis, yang berarti acaranya megah banget.
Grace pake gaun panjang putih tanpa punggung berumbai. Rambut panjangnya dia sanggul. Dia pake sepatu hak tinggi 7 cm dan jalan pelan-pelan ke depan bareng Mason.
Nggak jauh di tengah, Rose dan Frank lagi berdiri di depan seorang pria yang rambutnya udah setengah putih, bikin dia ketawa.
Kalau Grace nggak salah, dia itu Andrew Lim.
Mason mendekat ke Grace dan ngerendahin suaranya. "Grace, ini waktunya kamu."
"Oke." Grace senyum percaya diri dan nyamperin Andrew. Dia ngangkat gelasnya ke dia. "Halo, Paman, saya tunangan Mason."
Denger nama Mason, Andrew keliatan nggak suka dan ngomong, "Cewek mana lagi yang dibawa Mason?"
Tapi pas dia ngelihat wajah Grace yang cantik, dia langsung kaku di tempat.
Wajahnya... persis sama kayak Lily...
Grace otomatis ngelihat pikirannya dan senyum, "Paman, nama saya Grace dan saya anak Lily."
Seketika, Tuan Mason kaget di tempat.