Bab 27
"Keluar yuk, kita masuk," katanya, memotong lautan pikirannya. Saat dia sadar mereka sudah di tempat parkir, dia sudah keluar dari mobil, nunggu dia. Dalia pelan-pelan turun dari mobil dan naruh berkasnya di jok sebelum nutup pintu. Dia ikut masuk sambil celingak-celinguk ngeliat nama gede dan tebel yang ditulis, MM Worldwide. Dia buang muka dari nama perusahaan itu ke punggungnya yang lagi menjauh.
Mereka masuk ke gedung, disambut empat cowok pake jas. Dia nelpon resepsionisnya. "Bawa dia ke kantor gue dan layanin apa aja yang dia mau," perintahnya. Resepsionisnya ngangguk cepet sambil jongkok sebelum nuntun Dalia ke kantornya, sesuai perintahnya.
Mereka jalan ke lift yang langsung naik ke kantor pribadinya. Ruangan gede banget yang nguasain sudut gedung, jendela dari lantai ke langit-langit ngasih pemandangan dua arah. Dua dinding sisanya ada ruang tamu yang lumayan, ada tiga sofa, di sampingnya ada dispenser air. TV layar datar gede. Rak buku rendah, ada vas bunga karya Vincent Van Gogh. Permukaan kaca item mejanya juga rapi banget: komputer, berkas, tersusun rapi di samping komputer, foto berbingkai orang tuanya dan namanya ditulis tebel di plat emas.
Siapa yang mau kantor segede ini? Pemilik tempat ini? Pasti dia pemilik perusahaannya. MM-nya jadi masuk akal sekarang. Muhsin Mubarak, dia baca namanya dalam hati. "Silakan, Nyonya, dan mau minum apa? Teh? Kopi? Es teh atau minuman apa aja yang mau diminum dan juga makanan ringan," resepsionisnya nanya sopan sambil senyum ke dia. Istrinya cantik dan kalem, pikir resepsionis itu sambil merhatiin Dalia. Mereka tahu dia udah nikah, cuma belum pernah liat istrinya, cuma namanya aja.
"Gak usah khawatir, aku baik-baik aja," Dalia nolak dengan sopan. Resepsionisnya gak maksa karena tahu dia tetep bakal nolak. "Oke, Nyonya, kalau butuh saya, tinggal pencet tombol yang ada tulisan resepsionis di atasnya." Dia membungkuk sebelum keluar dari kantor. Dalia ngeliat ke tempat yang dia tunjuk. Dia ngeliat-liat beberapa tombol dan ngangguk geli. Jadi dia tinggal pencet tombol dan manggil siapa aja yang dia butuh, cuma pake tombol?
Dia maju deket ke TV, di atasnya ada fotonya. Dia natap foto itu, senyum tanpa sadar. Dia ganteng banget dari dalem matanya sampe ekspresi lembut suaranya. Dia punya tipe muka yang bikin lo berhenti. Pasti dia udah biasa cewek-cewek merhatiin dia, pikirnya dalam hati. Dia punya rambut hitam acak-acakan, keriting, tebel dan berkilau. Matanya cokelat hazel yang memukau, ada percikan cahaya keperakan yang nari-nari di sekelilingnya. Mukanya kuat dan tegas, fitur-fiturnya terbentuk dari granit. Dia punya alis item tebel, yang miring ke bawah dengan ekspresi serius. Senyumnya yang biasanya ceria udah berubah jadi garis keras di mukanya. Senyumnya kembali ke mukanya.
Kalau dia punya suami seganteng itu, itu bakal jadi tantangan gede buat dia tiap kali suaminya keluar rumah. Cewek-cewek pasti godain dia, pikirnya. Bukan berarti dia bakal gitu, tapi itu jelas. Tapi, mungkin sikapnya yang serius dan cuek gak bakal ngebolehin lo deket-deket. Gimana ya dia bakal ngadepinnya? Cewek-cewek bakal terus nyerang dia. Dalia ngedip dua kali dan buang muka, alisnya berkerut sementara pikirannya nyusul kesadarannya. Sejak kapan dia mikirin punya cowok dalam hidupnya, dan kenapa demi Tuhan, dia pake Muhsin buat perbandingan? Gak percaya.
Dia balik badan dan duduk di sofa sebelum dia balik dan kepergok ngiler ngeliatin fotonya.
Dia ngerasa dirinya rebahan di sofa empuk sementara waktu berlalu. Dia ngecek HP kecilnya buat liat jam. Satu menit udah berlalu sejak dia terakhir ngecek sejam lalu, atau sepertinya begitu. Rebah di sana tanpa ada yang bisa diliat selain foto elegan Muhsin yang gede. Dia muter mata dan buang muka. Dia merem, percuma juga. Dia mulai masuk ke lamunan yang gak enak atau itu fantasi? Fantasi yang gak bakal pernah kejadian di dunia nyata tapi ngebantu buat ngisi waktu.
Mata dia pelan-pelan merem dan badannya jadi lemes. Dia berusaha ngelawan tapi gak bisa. Dia udah terlalu capek dan bosen buat berusaha melek. Dia udah tidur nyenyak waktu dia ngerasa ada tepukan pelan di sofa.
"Capek?" Dia senyum minta maaf. Dalia kaget kebangun, dan natap dia aneh. "Nggak, aku baik-baik aja," gumamnya, sambil ngucek mata. "Maaf udah nunggu dan terima kasih atas kesabarannya." Dia senyum lagi ke dia. Perutnya berasa cenat-cenut waktu dia merhatiin ekspresi wajahnya yang santai. "Gak papa. Kita bisa pergi sekarang?" Dia nanya waktu dia jalan ke mejanya.
Dia buka salah satu laci dan ngeluarin kunci mobil yang lain. "Tentu, setelah kita makan," dia ngasih tahu sambil jalan lagi ke dia. "Yuk, berangkat." Dia mulai jalan ke pintu kaca yang otomatis kebuka waktu dia nyampe di sana. Dalia cepet-cepet ngikutin dia dan mereka masuk lift bareng. "Tapi ini udah mau waktu maghrib," protesnya. "Kita gak bakal lama di restoran," katanya cuek sambil ngetik di HP-nya. Dalia menghela napas dan melipat tangannya di dada.