15: Aku Akan Mengulitinya Hidup-hidup!
Hari berikutnya, Alpha Callum dan Luna Viviana siap-siap buat pergi ke peternakan.
"Aku gak sabar banget buat ke peternakan lagi," Luna Viviana mencicit kegirangan. "Aku harap Kakek Eliezer udah selesai bikin ramuan kesuburannya biar kita bisa punya anak sendiri," tambahnya dengan nada sendu.
Alpha Callum terdiam.
Luna Viviana menyadari keheningannya. "Kenapa? Kamu udah gak mau punya anak sama aku? Kamu nyerah gitu aja?" tanyanya, mengamati wajahnya dengan seksama, merasa sakit hati karena dia sepertinya kehilangan minat pada topik itu.
Alpha Callum menghela napas dalam-dalam. "Jangan ngomong gitu. Kalau Dewi Bulan kasih kita anak, ya syukur. Kalau dia gak kasih kita anak, aku juga gak papa kok. Kamu gak perlu nyiksa diri mikirin soal punya anak. Itu kan sesuatu yang gak bisa dipaksa. Harus terjadi secara alami," katanya lembut, gak mau memperpanjang topik yang gak enak itu.
Dia sih pengen banget punya anak sama istrinya, tapi dia udah nyerah sejak lama setelah dokter keluarga mereka bilang kalau istrinya mandul. Dulu sih dia sedih banget. Tapi setelah nemuin Caden, anaknya sama Clarice, sekarang dia orang paling bahagia.
Dia menatap istrinya dengan seksama. Gak ada cinta buat dia di hatinya, cuma rasa hormat karena dia istrinya dan Luna di pack mereka. Viviana udah nemenin dia susah senang, dan dia cinta banget sama Alpha Callum tanpa syarat. Dia gak tega buat nyakitin Viviana.
"Sayang, pernah gak sih kepikiran buat punya cewek simpanan atau selingkuhan biar bisa kasih kamu anak?" Luna Viviana nanya serius.
Dia menggeleng. "Gak pernah kepikiran sama sekali."
"Masa sih? Susah dipercaya..." kata Luna Viviana dengan nada mengejek.
"Terserah kamu mau mikir apa, tapi hati nuraniku bersih," katanya dengan tulus.
"Semoga aja," kata Luna Viviana murung, matanya berbinar curiga. "Jangan pernah sekali-kali bikin kesalahan dengan selingkuh sama cewek lain. Aku bakal kulitin dia hidup-hidup!" katanya dengan nada pedas, pengen suaminya tau kalau dia gak akan mentolerir perselingkuhan di antara mereka. Dia udah jadi istri yang setia dan berbakti sama suaminya. Seharusnya suaminya juga begitu.
Alpha Callum mendengus kesal. "Udah, gak usah ngomongin topik ini lagi," katanya, bangkit berdiri. "Aku mau ke kantor buat beresin sesuatu. Kalau kamu udah selesai beres-beres, kasih tau aku ya biar kita bisa langsung berangkat ke peternakan." Dia berjalan ke pintu dan keluar.
Luna Viviana menatap pintu yang tertutup, bertanya-tanya apa yang terjadi sama suaminya akhir-akhir ini? Dia agak linglung belakangan. Kadang-kadang dia suka melamun pas lagi ngobrol, seolah-olah pikirannya lagi mikirin banyak hal yang gak ada hubungannya sama pack.
Suaminya berubah, tapi dia gak bisa ngerti kenapa. Dia nyadar ada perubahan, tapi susah buat dideskripsiin. Tapi pasti ada sesuatu yang terjadi yang dia gak tau. Manusia nyebut perasaan itu sebagai intuisi wanita.
Masih terlalu dini buat curiga kalau dia selingkuh. Dia gak mau nuduh suaminya tanpa bukti yang kuat.
Kalau dia beneran selingkuh di belakangnya, dia bakal tau kok!
Alasan dia mau ke peternakan adalah buat minta obat kesuburan yang lagi dikerjain Kakek Eliezer buat bantu dia hamil. Terus dia juga mau nanya sama kakek-kakek itu, apa suaminya pernah bawa cewek ke peternakan?
Walaupun dia percaya sama suaminya, gak bisa dipungkiri juga kan kalau dia cowok yang punya kebutuhan dan keinginan terdalamnya adalah punya anak sendiri buat nerusin warisannya. Sayangnya, dia gak bisa kasih suaminya keturunan.
Merasa depresi dan sedih karena kondisinya yang mandul, dia cuma bisa berdoa sama Dewi Bulan buat bantu dia hamil biar dia bisa kasih suaminya keturunan yang akan melengkapi keluarga mereka.
"Aku benci ngerasa kayak gini!" Luna Viviana menangis dalam hati. Dia putus asa pengen hamil dan dikasih bayi buat dipanggil anaknya.
Kenapa, dari semua serigala betina di dunia, cuma dia yang gak beruntung? Kenapa?
Matanya banjir air mata. Dia biarin air mata itu mengalir di wajahnya, kesedihan dan keputusasaan semakin dalam di hatinya. Setelah beberapa menit nangis, akhirnya dia ngapus air matanya pake sapu tangan dan bangkit berdiri.
Hari ini bukan waktunya buat mengasihani diri sendiri.
Waktunya pergi!
Dia berjalan ke pintu dan manggil Pembantu buat bawa tasnya ke mobil. Terus dia pergi ke kantor suaminya dan nemuin dia lagi ngasih instruksi ke Beta Amir.
"Urus semuanya di sini. Dan kalau ada apa-apa, kabarin aku langsung," Alpha Callum bilang ke asistennya.
"Siap, Alpha. Tenang aja, aku bakal urus semuanya," kata Beta Amir meyakinkan, menghindari tatapan Luna Viviana.
"Sayang, aku udah siap buat berangkat. Tas kita udah di mobil," Luna Viviana ngasih tau.
"Oke, ayo berangkat," jawab Alpha Callum sambil ngangguk.
Pasangan itu keluar dari rumah, naik ke mobil mereka, dan mulai perjalanan ke peternakan.
Di dalam mobil, pasangan itu diam, hampir gak ngobrol satu sama lain. Keduanya kelihatan mikirin sesuatu. Banyak banget hal yang lagi berputar-putar di pikiran mereka.
"Sayang, seharusnya kita bawa supir buat perjalanan ini, kamu bisa kecapekan nyetir," Luna Viviana memecah keheningan.
"Aku gak papa kok. Aku kangen nyetir di pedesaan," jawab Alpha Callum.
"Kalau kamu capek, biar aku aja yang nyetir," tawar Luna Viviana.
"Oke. Nanti aja," Alpha Callum ngangguk.
"Kamu kenapa sih, sayang?" akhirnya Luna Viviana nanya.
Alis Alpha Callum berkerut. "Hah? Gak ada apa-apa kok," katanya membela diri.
"Oke, terserah kamu deh," katanya sambil menghela napas, mengalihkan perhatiannya ke pemandangan indah di sepanjang jalan.
Waktu berlalu.
Setelah perjalanan yang panjang, akhirnya mereka sampe di rumah peternakan. Alpha Callum parkir mobil di tempat terbuka.
Pasangan itu keluar dari mobil.
"Pops, kita udah sampe!" Alpha Callum ngasih tau kedatangan mereka.
Pintu kebuka, dan Kakek Eliezer tersenyum pada pendatang baru itu. "Selamat datang kembali, guys!"
Luna Viviana tersenyum cerah, melambai pada kakek-kakek itu. "Kakek, seneng banget bisa balik lagi ke sini!" katanya riang, bergerak ke pintu.
"Seneng banget bisa ketemu kamu lagi, Luna Viviana," jawab Kakek Eliezer.
"Apa kamu udah bikin obat baru buat nyembuhin kondisi mandulku?" tanyanya bersemangat.
"Udah, aku udah bikin obat baru. Tapi aku gak yakin apa obat ini bakal efektif, karena kita semua tau obat-obatan sebelumnya gak mempan," kata Kakek Eliezer sedih.
"Iya..." jawab Luna Viviana murung. "Tapi aku belum nyerah kok. Dengan bantuanmu, aku tau aku bisa hamil suatu hari nanti. Aku masih percaya sama kemampuanmu, Kakek."
"Makasih atas kepercayaannya." Kakek Eliezer tersenyum, melirik Alpha Callum secara diam-diam.
"Boleh aku liat obatnya, gak?" Luna Viviana nanya dengan suara bersemangat.
"Tentu. Ayo masuk ke dalam rumah biar kamu dan suamimu bisa istirahat," Kakek Eliezer masuk lagi ke dalam rumah, diikuti oleh Luna Viviana.
Alpha Callum menaruh tas di kamar di lantai dua rumah, sengaja menghindari kamar yang sebelumnya ditempati Clarice.
Pas dia turun, istrinya dan kakeknya udah lagi diskusi soal dosis obatnya.
"Minum satu sendok makan pas perut kosong setiap pagi. Semoga yang ini efektif buat nyembuhin masalah kesuburanmu," kata Kakek Eliezer dengan sungguh-sungguh.
Luna Viviana tersenyum dan nunjukin botol berisi cairan hitam ke suaminya. "Sayang, liat botol ini? Ini ramuan terbaru Kakek buat ngobatin masalah infertilitas aku. Aku yakin kali ini bakal berhasil," katanya, merasa optimis.
"Mantap," komentar Alpha Callum santai.
Kakek Eliezer berdiri. "Ayo kita ke meja makan sekarang. Aku udah siapin makan siang kita. Ikan goreng dan sup ikan yang dimasak pake jahe dan rempah-rempah," katanya.
"Yummy!" Luna Viviana mencicit kegirangan.
Mereka menuju dapur dan makan.
Setelah makan siang selesai, Luna Viviana bantu Kakek Eliezer bersihin dapur dan cuci piring kotor. Setelah itu, dia pergi ke lantai dua dan ngeberesin barang-barang mereka, nyusun di lemari.
Selesai beres-beres, dia keluar kamar dan gabung sama para pria di ruang tamu buat ngobrol santai.