7. Penutupan
Alpha Callum ngeliatin pasangan yang lagi bahagia itu berbaur sama tamu sambil nyeruput minumannya.
Beta Amir ngehubungin pikiran. "Alpha, anak buah udah pada cabut dari kuburan. Cuma gue yang masih di sini. Apa gue cabut sekarang?" tanyanya.
"Jangan. Tunggu gue. Gue pengen liat kuburannya pake mata kepala sendiri," kata Alpha Callum.
"Oke. Gue tunggu di sini," jawab Beta Amir.
Alpha Callum naruh gelas wine-nya di meja, berdiri, terus jalan ke kamar mandi terdekat buat pipis. Dia masuk ke bilik yang kosong dan mulai teleportasi di pikirannya. Dia ngilang dari bilik itu dalam sekejap mata.
Alpha Callum muncul di samping betanya di kuburan.
Bulan purnama di atas ngasih cahaya yang serem di sekitar kuburan yang sepi itu. Dia ngeliatin batu nisannya. "Kasihan Clarice, dikubur tanpa persetujuannya," gumamnya sedih, sambil geleng-geleng kepala.
"Akhir yang tragis buat Luna yang dihormati," kata Beta Amir murung.
Alpha Callum narik napas panjang, ngeliat sekeliling kuburan.
"Apa kita mau bales dendam buat Luna Clarice, Alpha?" tanya Beta Amir.
Alis Alpha Callum menyatu. "Kenapa lo ngomong gitu?"
"Kita berdua tau alasannya kenapa," jawab Beta Amir malu-malu.
"Nggak, kecuali ada alasan yang jelas buat ngelakuinnya," Alpha Callum geleng kepala. "Gue udah kerja keras buat nyatuin kawanan rogue buat bikin kedamaian di Distrik Timur biar manusia sama serigala bisa hidup damai. Kenapa gue harus mulai perang berdarah cuma buat satu cewek?"
Beta Amir diem. Dia kira Alpha Callum bakal mulai perang sama Kawanan Bloodhound buat bales dendam Luna Clarice, tapi dia salah. Tapi secara pribadi dia lebih suka damai daripada perang, jadi dia setuju sama keputusan Alpha yang milih damai daripada balas dendam. "Alpha, gue bakal ngecek sekeliling buat mastiin nggak ada yang mata-matain kita," katanya, sambil menjauh dari kuburan yang baru digali.
Alpha Callum baca batu nisannya... Luna Clarice dari Kawanan Bloodhound meninggal hari ini dalam damai abadi.
Candaan banget!
Besok semua orang bakal tau tentang nasib tragisnya. Mungkin ini lebih baik. Keberadaan Clarice bakal tetep disembunyiin dari musuh-musuhnya biar dia bisa hidup tenang di peternakan.
"Mending gue balik ke pesta pernikahan, terus pulang," gumamnya.
Beberapa menit kemudian, Beta Amir balik ke sisinya. "Alpha, kuburannya aman. Nggak ada yang mata-matain kita. Kita aman di sini selama yang lo mau," katanya meyakinkan.
"Nggak perlu lama-lama di sini lagi. Ayo balik ke tempat pernikahan," jawab Alpha Callum.
"Oke." Beta Amir senyum, pengen minum-minum di resepsi pernikahan sebelum pulang.
Mereka ngilang dari kuburan dan muncul di belakang pohon yang ada di belakang mansion. Mereka santai jalan balik ke halaman depan dan berbaur sama tamu.
"Alpha, gue laper. Boleh makan dulu sebelum kita pulang malem ini?" Beta Amir minta izin.
"Boleh, makan dan minum sepuasnya," jawab Alpha Callum.
Mereka duduk di meja terdekat.
Beta Amir jalan ke meja prasmanan, ngisi piringnya sama makanan enak, terus balik ke meja dan makan makanannya lahap banget.
Pas betanya lagi sibuk makan, Alpha Callum ngeliatin pengantin baru itu nari dengan gembira dikelilingi tamu lain. Dia mikirin apa yang salah antara Clarice dan suaminya?
Dia denger kalo pasangan itu hidup damai, dan mereka saling cinta. Jadi kenapa Clarice diracun sampe mati dan Alpha Bruce nggak tau soal itu?
Dia ngeliatin pengantin ceweknya. Dia tau Aurelia itu sahabat terbaik Clarice berdasarkan informasi yang anak buahnya kumpulin tentang pasangan itu.
Ada apa nih? Kenapa Aurelia nikah sama suami sahabatnya?
Hmm...
Mungkinkah dalang di balik peracunan Clarice nggak lain adalah sahabat terbaiknya, Aurelia? Kalo jawabannya iya, berarti Alpha Bruce bersalah. Dia tau tentang kondisi asli istrinya. Dia bagian dari rencana jahat buat singkirin istrinya. Peracunan nggak bakal terjadi kalo dia peduli sama kesejahteraan istrinya.
Dia nggak nyelidikin lebih jauh tentang peracunan Clarice karena dia sibuk sama keberadaan anaknya.
Harusnya dia biarin insiden peracunan yang melibatkan Clarice ini dan pura-pura nggak terjadi?
Hmm...
Dia nyelametin dia tepat waktu. Apalagi yang bisa dia minta?
Gimana kalo suatu hari Clarice mohon sama dia buat cari keadilan buat dia? Apa dia bakal bantuin dia?
Dia geleng-geleng kepala. Dia nggak bakal mikirin hal-hal kayak gitu karena dia harus denger kebenarannya dari Clarice dulu sebelum bikin kesimpulan di pikirannya.
Lagipula, itu urusan pribadi Clarice, dan mereka udah nggak ada di kehidupan masing-masing. Dia harus jauhin urusannya.
Demi kenangan lama, dia bisa nyediain tempat tinggal sementara buat dia. Dia bakal aman di peternakan sementara dia pulih dari masalah kesehatannya.
Setelah Beta Amir selesai makan, dia nyeruput wine-nya, nikmatin malam itu. Dia ngelirik temennya. "Alpha, jam berapa kita pulang malem ini?" tanyanya.
"Sebelum tengah malem," jawab Alpha Callum.
"Lo mau pulang bareng gue, atau mau pergi kemana?" tanya Beta Amir.
"Pulang aja, dan kalo istri gue nanya gue kemana, bilang aja gue lembur buat ngomongin bisnis sama pemimpin kawanan lain," kata Alpha Callum.
"Oke, bakal gue bilang gitu," kata Beta Amir, nyeruput wine-nya. Dia tau Alpha Callum bohong. Dia nggak bakal bahas bisnis sama pemimpin kawanan lain malem ini. Dia bakal langsung ke peternakan buat jengukin takdirnya.
Kalo hal kayak gini terus terjadi di masa depan, Luna Viviana bakal cepet tau keberadaan Clarice di peternakan, dan itu bakal bikin kekacauan di pernikahan pasangan itu yang damai.
Waktu berlalu.
Pesta pernikahannya lagi seru-serunya. Orang-orang pada mabok dan teler.
Setengah jam sebelum tengah malem.
"Waktunya cabut." Alpha Callum berdiri. Dia ngeliatin asistennya. "Kasih tau anak buah kita buat siap-siap cabut. Gue cuma mau pamitan sama pasangannya," katanya.
"Siap, Alpha." Beta Amir naruh gelas wine kosongnya dan ninggalin meja.
Alpha Callum jalan ke arah pasangan itu, senyum di wajahnya. "Alpha Bruce dan Luna Aurelia, udah waktunya gue pulang. Makasih udah ngundang gue," katanya dengan nada berterima kasih.
"Senang banget ada lo sebagai tamu di hari spesial kita, Alpha Callum. Makasih banyak udah dateng," jawab Aurelia ramah.
"Makasih udah dateng ke pernikahan kita, Alpha Callum. Nanti kita ngomongin bisnis lagi. Gue telepon lo," kata Alpha Bruce.
Alpha Callum senyum. "Oke, kapan aja."
Selesai ngobrol sama pasangan itu, Alpha Callum balik ke kamarnya di mansion. Beta Amir dan anak buahnya udah nunggu di luar pintu. "Kalian boleh pulang sekarang," perintahnya.
"Siap, Alpha." jawab Beta Amir.
Beta Amir dan anak buahnya ninggalin kamar. Mereka pergi ke area parkir, naik mobil mereka dan ninggalin mansion.
Balik di kamar, Alpha Callum ngambil tasnya dan mulai teleportasi di pikirannya, menuju peternakan.