57. Pengunjung Tak Terduga
Enam bulan kemudian.
Minggu sebelum pernikahan, Clarice sibuk ngecek persiapan nikahnya dua kali, biar nggak ada yang salah di hari spesialnya. Selain semangat karena mau nikah lagi, ada juga rasa khawatir yang tumbuh di hatinya.
Apa dia salah ngundang mantan suami sama sahabatnya yang dulu nyebelin, Aurelia, ke pernikahannya?
Tapi dia udah nggak bisa ngubah apa-apa lagi, soalnya undangan nikah udah dikirim ke para pemimpin klan sebulan sebelumnya.
Yah, mereka nggak mungkin bisa ngenalin dia sebagai Clarice yang dulu, soalnya dia bakal pake wig pendek yang beda sama warna dan panjang rambut aslinya. Terus dia bakal pake lensa kontak buat nutupin warna matanya yang asli.
Dia udah punya rencana buat ngubah penampilan fisiknya, biar nggak ada yang bisa nyamain penampilannya yang dulu sama yang sekarang. Dia bahkan latihan suara baru, dan biar penyamarannya makin efektif, dia bakal pake kerudung yang modis buat acara itu.
Lagian, pas waktunya nyapa tamu, dia nggak bakal banyak ngomong dan biarin suaminya yang ngomong. Dia cuma bakal bilang kalo dia lagi radang tenggorokan parah dan susah banget buat ngomong.
Sialan!
Dia makin khawatir sekarang karena pernikahannya udah makin deket.
Hhh. Seharusnya dia nggak milih nikah secara pribadi aja.
Ah, nggak ada yang salah, cuma dia sendiri. Dia cuma pengen bikin musuh-musuhnya kesel, karena meskipun mereka pengen bunuh dia, dia tetep selamat dan jadi pemenang, orang baru yang nggak bisa lagi mereka siksa dan manfaatin.
Dia bakal hadepin mereka dengan berani. Sayangnya dia nggak bisa pamerin kehidupan barunya ke mereka. Itu terlalu berisiko. Dia nggak boleh nunjukin identitas lamanya. Mereka bisa aja pengen bunuh dia lagi dan bikin kacau hidupnya yang udah sempurna dan tenang.
Dia narik napas dalem-dalem dan terus ngecek daftar pernikahan buat mastiin semuanya sempurna buat pernikahannya yang bakal dateng.
Enam bulan perencanaan yang teliti, akhirnya bakal kejadian minggu depan.
Tempat buat pernikahannya bukan di mansion. Dia nggak mau jejak musuhnya nginjek rumah barunya. Suaminya nyewa tempat pernikahan yang luas, muat 300 orang, dengan tema pernikahan di taman.
Tempatnya gede banget. Semua tamu punya cukup ruang buat jalan-jalan di tempat itu.
Dia nyewa koordinator acara buat ngawasin dekorasi tempat, susunan bunga, dan semua yang berhubungan sama pernikahan.
Semuanya udah diurus.
Waktunya santai.
Ada ketukan di pintu. Dia jalan ke pintu dan ngebuka. "Apaan?" tanyanya.
"Luna, ada tamu," kata pembantu.
Alisnya berkerut, bingung. "Tapi aku nggak nunggu tamu sekarang. Siapa tamunya? Kamu tau namanya?"
"Iya, dia mantan Luna di klan kita dan mantan istri suamimu. Namanya Viviana," jelas pembantu.
Kaget, jantung Clarice berdetak lebih cepat di dadanya. "Dia ngapain di sini?"
Walaupun dia belum pernah ketemu Viviana secara langsung, dia tau kayak apa tampangnya karena dia ninggalin beberapa fotonya yang dulu di rumah dan pas pembantu nanya mau diapain fotonya, dia nyuruh buat dikubur di taman.
"Harus aku bilang apa ke dia, Luna?" tanya pembantu.
"Suruh dia nunggu di ruang tamu. Kasih dia minuman, jus, dan kue-kue sambil nunggu aku," jawabnya.
"Siap, Luna." Pembantu berbalik dan pergi.
Dia nutup pintu dan pergi ke meja rias buat benerin rambutnya. Dia cepet-cepet masang wig pendek warna cokelat keriting dan masang lensa kontak warna hijau di matanya buat nyempurnain penampilannya.
Prosesnya capek, tapi dia udah biasa. Dia seneng cuma harus ngelakuinnya pas nerima tamu atau pergi ke tempat umum. Kalo di rumah, dia nggak ngubah penampilannya.
Setelah mastiin penampilan lamanya ketutupan, dia keluar kamar dan turun ke ruang tamu buat nemuin tamunya.
Viviana lagi duduk di sofa, lagi hamil gede dan di pangkuannya ada kotak yang dibungkus warna putih dengan pita pink. Keliatannya kaya hadiah.
Dia deketin tempatnya dan duduk di sofa, ngadep ke dia. "Halo."
"Selamat siang, Luna Charice. Nama saya Viviana. Kamu kenal saya, kan?" kata Viviana.
Clarice senyum. "Iya, aku inget kamu."
"Iya, kita ketemu sebentar dulu, di danau. Itu hari yang sama aku tau suamiku punya selingkuhan, kan?" kata Viviana dengan nada mengejek, matanya berbinar.
Clarice senyum nggak nyaman. "Iya..."
"Um, jangan khawatir, aku nggak di sini buat ngomongin masa lalu. Aku di sini buat ngasih kamu hadiah di hari pernikahanmu karena aku nggak bakal ada di sana buat nyaksiinnya soalnya aku nggak diundang. Mantan suamiku yang tersayang lupa ngasih aku kartu undangan," kata Viviana dengan pahit. "Pokoknya, ini hadiah buat kamu. Semoga kamu suka. Bisa tolong dibuka sekarang? Aku pengen tau kamu suka hadiahku atau nggak."
Clarice ngeliatin kotak itu dengan curiga, mikir apa isinya. Dia ngeliatin Viviana dan merhatiin wajahnya bener-bener, nebak-nebak niat aslinya dateng ke mansion buat nemuin dia.
Apa cewek ini tulus ngasih hadiah pernikahan? Atau dia udah ngerencanain sesuatu yang jahat dan naruh kodok mati berdarah di dalem kotak buat nakutin dia dan ngerusak harinya?
Sekarang dia tiba-tiba jadi khawatir, berusaha nebak kenapa cewek ini pengen ngasih dia hadiah pernikahan padahal dia nggak nyangka bakal dapet dari dia. Apa dia lagi ngerencanain sesuatu?
Hhh. Dia nggak bisa nahan lagi.
"Kenapa?" Viviana ngangkat alisnya. "Takut buat buka hadiahku? Apa kamu mau aku yang bukain?" tanyanya, merhatiin wajahnya dengan teliti.
Clarice narik napas dalem-dalem. Dia nggak nyaman buat buka hadiahnya sekarang. "Makasih buat hadiahnya, Viviana. Aku hargai itu. Aku bakal buka nanti, setelah suamiku pulang," katanya dengan tenang.
Viviana cemberut. "Kenapa? Kenapa kamu nggak bisa buka sekarang? Aku nggak ada niat jahat. Aku di sini buat ketemu kamu dan ngobrol sama kamu biar kita bisa jadi temen karena anak-anak kita punya ayah yang sama." Dia naruh tangannya di perutnya yang lagi hamil dengan bangga. "Aku pengen kita jadi temen karena aku juga lagi hamil anak suamimu di perutku. Kita berdua adalah wanitanya."
Clarice memutar matanya karena kesal. Dia nggak suka sikap Viviana sekarang. Caranya ngomong bikin dia kesel. Keliatannya cewek ini dateng ke sini buat cari masalah. Dia harus ngejelasin ke dia.
"Koreksi, kamu udah bukan wanitanya lagi. Aku istrinya sekarang."
Mata Viviana berubah jadi sipit karena marah sebentar, tapi dia senyum sesudahnya, nutupin amarah yang dia rasain di dalem. "Iya. Aku tau. Ini udah jadi rumahku dulu selama bertahun-tahun. Keliatannya aku udah nggak diterima lagi di sini. Sayangnya, kamu nggak mau buka hadiahku, dan entah gimana aku bikin kamu nggak nyaman. Aku harusnya pergi sekarang," katanya, berhenti sebentar.
Terus dia lanjut, "Aku minta maaf karena ngerusak suasana hatimu. Itu bukan niatku. Aku bakal pergi sekarang. Semoga harimu menyenangkan, dan tolong kasih tau... um... mantan suamiku kalau aku dateng ke sini buat berkunjung buat berteman sama kamu. Tapi kamu belum siap buat nerima aku. Aku mau ke klinik sekarang buat cek kandungan. Hati-hati dan semoga harimu menyenangkan."
Clarice diem aja atau dia bisa aja ngomong sesuatu ke Viviana yang bakal bikin keadaan makin parah di antara mereka.
Viviana berdiri dan, dengan tatapan terakhir ke cewek yang nyuri suaminya, dia pergi dari mansion dengan hati berat.
Clarice bisa diliat lagi duduk di sofa, bengong, masih kaget karena pertemuannya yang deket banget sama Viviana.
Apa cewek itu sengaja dateng ke sini buat nyebelin dia?
Dia narik napas dalem-dalem dan ngeliatin hadiah pernikahannya. Apa isinya kotak itu?