44. Tak Terduga, Tak Terkira!
Clarice nunggu dengan gelisah beberapa menit sebelum Callum ngejawab lewat pikiran mereka.
'Tunggu sebentar. Gue otw sekarang. Tenang, sayang.' Alpha Callum ngejawab.
Clarice ngeluarin napas lega. Semua orang ngeliatin dia dengan penuh harap.
"Ibu, kenapa cewek itu bilang dia istri Ayah? Cewek itu bohong, kan? Ibu kan istri Ayah. Ayah sayang Ibu sama aku, kan?" Caden nanya dengan cemas.
Clarice meluk anaknya. Matanya basah karena air mata yang belum jatuh. "Ayah sayang kamu sama Ibu. Jangan dengerin cewek itu. Udah, jangan bahas dia lagi," katanya sambil nyium kepalanya buat nenangin dia.
"Ibu, kita balik ke rumah sekarang, ya? Aku mau mainan," kata Caden, narik celana pendek basah ibunya.
Clarice ngeliatin semua orang. "Guys, pikniknya selesai dulu, ya. Kita ganti baju kering. Callum bentar lagi dateng. Kita tunggu sebentar," katanya sedih.
Marina meluk dia. "Apapun yang lagi lo hadepin sekarang, gue bakal selalu ada buat lo," katanya, nadanya penuh pengertian dan peduli sama kondisi sepupunya.
Clarice ngegigit bibirnya, ngerasa tersiksa banget. "Makasih, sepupu."
Geng itu ganti baju kering dan beresin selimut piknik sama tas, siap buat pergi dari danau.
Beberapa menit kemudian, mobil Alpha Callum dateng di tempat terbuka. Dia dan Beta Amir keluar dari mobil.
"Ayah dateng!" Caden berseru kegirangan.
Alpha Callum buru-buru nyamperin keluarganya dan ngangkat anaknya ke pelukannya. Dia nyium kepala Clarice. "Semuanya baik-baik aja, kan?" tanyanya, ngeliatin muka mereka. Mereka keliatan panik dan lesu, tapi gak ada yang luka.
"Kita baik-baik aja," Clarice ngejawab, matanya berkaca-kaca.
"Apa yang terjadi di sini?" Alpha Callum nanya.
Clarice berdehem. "Gue lagi berenang di air sama yang lain sementara Kakek lagi mancing sama Caden di sampingnya. Tiba-tiba, ada cewek dateng dan ngomong sama Kakek. Gue gak denger percakapan mereka karena masih di air. Jadi gue keluar dari air dan nyamperin mereka. Saat itulah gue tau kalo dia Luna Viviana. Dia denger pas anak kita nyebut nama lo, nanya sama Kakek kenapa lo belum dateng..."
Dia berhenti sebentar, ngambil napas.
Terus dia lanjut cerita, "Caden nyebut nama lo, makanya istri lo curiga. Pas anak kita lari ke gue manggil Ibu, dari situ Viviana nyambungin semuanya. Gue kabur, berusaha buat gak konfrontasi sama dia. Pas istri lo ngejar gue, Kakek gak punya pilihan lain selain pake kekuatannya dan ngebekuin dia di tempat. Terus Kakek bawa dia ke rumah buat mencegah dia bikin masalah. Itulah yang terjadi di sini waktu lo gak ada."
Alpha Callum narik napas dalam-dalam. Dia gak nyangka istrinya balik ke negara secepat ini. Kenapa dia dateng ke peternakan tanpa ngasih tau? Gak ada teks atau telpon dari dia sama sekali soal perubahan jadwalnya. Dia gak ngasih tau kalo dia udah balik ke negara. Ada yang gak beres.
"Kita mau ngapain sekarang? Ini bener-bener gak diduga," kata Clarice khawatir.
"Tetep di sini aja. Gue bakal ke peternakan dan liat apa yang terjadi di sana. Beta Amir bakal nemenin lo di sini. Rencananya gue mau teleportsi Viviana ke mansion kita, biar lo sama Lorey bisa balik ke rumah dan beresin barang-barang. Terus asisten gue bakal bawa lo ke rumah sewaan yang udah siap ditempati. Nanti gue kasih tau lewat pikiran kita kalo gue udah di mansion sama istri gue," Alpha Callum ngejelasin dengan nada serius.
Clarice ngangguk. "Siap."
Beberapa menit kemudian, Alpha Callum ngilang dari danau, teleportasi ke rumah peternakan.
Pas Alpha Callum muncul di ruang tamu rumah, Luna Viviana lagi tiduran di sofa dalam keadaan beku, sementara Kakek Eliezer duduk di seberang sofa, ngawasin dia.
"Gue seneng lo akhirnya dateng, nak," kata Kakek Eliezer lega.
"Ada apa, Pops? Kenapa istri gue tiba-tiba muncul di danau? Dia gak ngasih tau gue sebelumnya kalo dia bakal balik ke negara lebih awal. Gue kira dia bakal dateng minggu depan," Alpha Callum bilang, nggaruk dagunya.
"Gue gak tau lo bakal seneng atau sedih sama apa yang mau gue kasih tau, nak." Kakek Eliezer ngehela napas panjang.
"Gue dengerin, Pops. Kasih tau gue," Alpha Callum bilang, pengen nyelesain kebingungannya, bertanya-tanya kenapa istrinya tiba-tiba muncul di peternakan dan bukan di mansion. Apa Viviana udah curiga kalo dia nyimpen Clarice di sini di peternakan? Tapi itu gak mungkin.
"Nak, alasan kenapa istrimu dateng ke peternakan tanpa pemberitahuan, karena dia pengen berterima kasih secara pribadi sama gue," Kakek Eliezer mulai.
Alpha Callum ngangkat alis. "Berterima kasih? Buat apa?"
"Waktu dia pergi ke Australia dan ngecek ke klinik kesuburan di sana dan ngejalanin beberapa tes, hasil tesnya positif. Dia akhirnya hamil anak lo! Obat yang gue kasih ke dia efektif bikin dia hamil, makanya dia pulang lebih awal buat ngejutin lo sama gue," Kakek Eliezer ngejelasin.
"Whaaaaat!?" Mata Alpha Callum membelalak kaget dan terkejut, saat dia natap perut istrinya. "A...dia...dia beneran hamil?" dia nanya dengan takjub dan gak percaya.
"Yup. Gue udah ngecek nadinya. Dia ngomong yang bener. Viviana emang hamil. Kalo lo mau bayinya selamat dengan sehat di perut istrimu, lo gak boleh bikin dia stres," Kakek Eliezer bilang, memperingatkan dia. "Apapun yang terjadi, anak yang dibawa istrimu dalam kandungannya tetap daging dan darahmu," tambahnya dengan penekanan.
Terkejut, Alpha Callum duduk di sofa, keliatan lusuh. Dia ngerasa bingung. "Apa Clarice tau istri gue hamil?"
Kakek Eliezer ngegeleng. "Gak. Waktu istrimu ngasih tau berita itu ke gue, Clarice masih berenang di air. Dia gak denger percakapan gue sama Viviana soal kehamilannya."
Alpha Callum ngegigit bibir bawahnya, rahangnya mengeras. "Ini gak diduga. Gue gak tau harus ngapain atau ngomong apa..."
"Dan satu lagi, istrimu udah tau kalo Clarice adalah wanitamu, dan lo punya anak sama dia. Lo gak bisa nyembunyiin kebenaran lagi dari dia," Kakek Eliezer nambahin dengan muram.
Alpha Callum merem rapat, berusaha bangun dari mimpi buruk. Dia mulai ngegeleng dengan putus asa. "Sialan! Ini gak nyata!"
Kakek Eliezer nepuk bahunya dengan simpati. "Nak, ini nyata. Mimpi buruknya nyata, dan lo harus menghadapinya."
Alpha Callum ngehela napas berat. "Gue harus ngapain sekarang? Gue udah mutusin buat cerai sama istri gue. Gue pengen pulang setiap hari ke Clarice dan anak gue. Gue gak bisa lagi tinggal di rumah yang sama sama istri gue. Gue gak bisa!" dia meraung kesakitan.
"Gue tau, nak. Tapi lo harus ngerti kalo istrimu juga lagi bawa anak lo di perutnya. Lo gak bisa ninggalin ibu dan anak. Lo gak bisa," Kakek Eliezer bilang sedih.
Alpha Callum terdiam, natap istrinya yang beku untuk waktu yang lama, berusaha menerima kehamilan yang gak diduga-duga ini.
"Nak, gue saranin lo bawa istrimu ke mansion sekarang dan ngobrol dari hati ke hati sama dia. Dia bakal gak beku kapan aja dari sekarang, dan begitu dia bangun, lo harus siap buat omelan dia. Dia bakal marah banget, jadi lo harus siap buat ledakannya. Good luck!" Kakek Eliezer bilang, ngebuka pintunya lebar.
"Makasih, Pops." Alpha Callum ngangkat istrinya yang beku. "Pops, bisa tolong ke danau dan kasih tau mereka kalo sekarang udah aman buat balik ke sini?" katanya, bergerak ke arah mobil.
"Oke. Serahin mereka ke gue." Kakek Eliezer ngebuka pintu mobil.
Alpha Callum naruh Viviana di kursi penumpang mobil sewaan. Dia duduk di kursi di sampingnya. "Pops, gue pergi sekarang."
"Good luck, nak." Kakek Eliezer ngelambaiin tangannya.
Beberapa menit kemudian, mobilnya menghilang, dan Kakek Eliezer melanjutkan ke danau.