Bab 26: AKU MENCINTAIMU
Emma berjalan ke arah dia dan berkata, dengan lembut, "Kak, dia udah pergi."
"Biarin dia pergi!" balas Charles.
"Lo gak cinta dia?" tanya Emma ringan. Dia gak yakin gimana dia mau dia jawab.
Charles diem lama banget dan menghela napas dalam-dalam. Terus, dia natap Emma tanpa daya dan bilang, "Gue gak tau, Emma. Jadi, gue gak bisa janji apa-apa sama dia."
Emma merasa campur aduk sama emosinya. Dia nunduk, jalan ke belakang dia, dan peluk dia pelan-pelan, "Charles, lo bakal selalu jadi kakak kesayangan gue apapun yang lo pilih." Selalu ada rintangan dalam hubungan. Kalo ayah Charles gak ngadopsi dia waktu kecil, dia gak bakal jadi adiknya. Kalo dia bukan adiknya, dia bisa aja sama dia. Tapi, kalo dia gak diadopsi, dia gak akan pernah ketemu Charles.
Emma gak tau kenapa, tapi dia selalu ngerasa Charles ngejauhin dia. Dia terisak, "Charles, lo masih cinta gue?" Walaupun dia tau mereka gak bisa bersama, dia tetep gak bisa nahan diri buat nanya.
Charles nutup matanya dan tetep diem. Terus, dia balik badan dan meluk Emma. Dia gak ngomong, cuma meluk dia erat.
Emma mikir ini pasti cara Charles bilang dia sama sekali gak cinta Sarah. Dia merasa tenang, terus lama-lama senyum. Tapi, Charles tau hatinya terbelah jadi dua. Setengah buat Sarah, dan setengah lagi buat Emma.
Waktu Sarah keluar dari rumah Charles, pesawatnya udah terbang, jadi dia beli penerbangan berikutnya yang lagi diskon di bandara. Dia gak tau mau kemana, dan dia cuma tau dia harus pergi jauh dari tempat dia berada. Gak disangka-sangka, pesawatnya ke Seattle. Sarah ngabisin seminggu nikmatin pemandangan yang indah dan makanan yang enak. Kayaknya selama liburannya, kesedihannya udah ilang. Dia matiin hapenya selama liburan. Kadang-kadang, dia ngasih tau adiknya dia baik-baik aja dengan nelpon dia dari telepon umum. Kalo buat yang lain, gak ada yang ganggu dia. Dia seneng bisa nikmatin waktu sendirian sebentar.
Sarah kaget betapa santainya liburan sendiri itu. Selama bertahun-tahun, dia udah kerja keras buat biaya kuliah adiknya. Dia ngerasa kayak dia gak pernah bener-bener nikmatin hidup sampe dia dateng ke Seattle, dia gak tau betapa banyak yang dia lewatkan! Hidup itu indah tapi dia gak pernah sadar. Dia selalu hidup buat orang lain dan dipaksa sama orang yang gak ngehargain dia. Mulai sekarang, dia bakal baik sama diri sendiri dan nikmatin hidupnya sendiri.
Tapi, seindah apapun hari-harinya, Sarah ngerasa sedih dan kesepian begitu malem tiba. Dia bakal duduk di kasurnya di hotel di malem hari, gak bisa tidur. Dia masih kangen Charles. Dia bukan orang yang bisa dilupain dalam waktu singkat. Lagipula, dia cinta dia lebih dalam dari siapapun yang pernah dia cintai.
Sarah rebahan dan maksa diri buat nutup mata dan lupain dia. Terus, dia mimpi. Dia mimpi dia berantem sama Charles, tapi dalam mimpi ini, Charles meluk dia erat dan bilang ke dia, "Sarah, jangan tinggalin gue, gue cinta lo!"
Sarah gak percaya dia dan dorong dia, tapi Charles teriak, "Gimana lo bisa percaya gue? Lo bisa percaya gue sampe mati? Oke, gue bisa tunjukin ke lo!" Selesai ngomong, dia balik badan dan loncat ke sungai.
Dia teriak, "Charles, Charles!"
Sarah tiba-tiba kebangun dalam keadaan keringetan panik karena suara telepon di samping tempat tidurnya, bunyi. Siapa yang mungkin nelpon dia tengah malem? Sarah harus jawab, "Halo."
Suara perempuan nangis cuma itu yang Sarah bisa denger. Setelah lama, Sarah bisa denger suara Emma. "Itu Sarah? Kakak gue, dia kecelakaan mobil. Dia luka parah dan ada darah di sekujur tubuhnya. Sekarang gue gak yakin dia bakal selamat!" Terus dia nangis lebih keras dari sebelumnya dan bilang, "Dia manggil nama lo. Tolong balik dan temuin dia!"