Bab 61: MEMBUAT MAKAN SIANG
Rambutnya yang berantakan… tubuhnya yang telanjang basah kuyup oleh keringat dan dicintai oleh Charles, dia bertingkah begitu berani sampai-sampai dia tidak mengenali wanita di cermin… wanita seksi yang mengerang itu bukan lagi dirinya.
Mereka bertukar posisi dan mencoba berbagai gaya berbeda, banyak di antaranya yang bahkan Sarah tidak tahu ada. Walaupun dia beberapa kali tersipu malu, dia malah menikmatinya, menangis karena kegembiraan.
Dia lupa berapa kali dia dicakar atau digigit, tapi tidak ada cara untuk menolak kenikmatan itu. Dia pikir dia akan mati. Charles menginginkannya lagi dan lagi seolah tak pernah merasa cukup.
Dia tidak menyangka kalau Charles begitu kuat dan perkasa. Tubuhnya luar biasa. Awalnya dia takut tidak bisa menangani kejantanan Charles yang besar, tapi sekarang dia bisa. Setelah melihat kejantanan Charles mengeras dan kembali mengeras, akhirnya dia tidak tahan lagi. Sambil meraih, dia berbisik. "Charles… lepaskan aku… lepaskan aku…"
Tapi Charles tidak akan melepaskannya dengan mudah dan hanya menjawab. "Kamu bisa, kok. Kamu bisa dapat semuanya! Aku mau kasih kamu lebih banyak cinta - aku mau kamu rasain betapa aku cinta kamu dan betapa aku pengen kamu!" Charles siap untuk bercinta lagi.
Mendongak, Sarah mengerang seolah kehilangan kesadaran. Dengan tangan menarik selimut, tubuhnya masih menggigil saat Charles menyentuhnya, bergetar setiap kali Charles menusuknya tanpa henti…
Yang dia inginkan hanyalah menunjukkan cintanya dengan cara yang paling dalam. Dia bisa merasakan cinta Charles yang kuat dan membara jauh di dalam dirinya juga.
Sarah tidak tahu berapa lama mereka seperti ini, dia hanya merasakan tubuhnya mati rasa saat dia mencapai klimaks lagi dan lagi sampai akhirnya pingsan karena kegembiraan dan kelelahan.
Meskipun dia pikir dia pingsan, dia masih merasakan Charles menciumnya dan bergerak di dalam tubuhnya, semakin dalam. Dia menutup mata dengan gerakan Charles dan kehilangan kesadaran.
Dia merasa sangat lelah dan kelelahan, namun bahkan dalam mimpinya, dia masih mencium Charles. Charles menyentuhnya dan menghangatkan tubuhnya. Mereka berbaring di lautan bunga, tersenyum pada sinar matahari yang cerah dalam hembusan angin yang segar dan sejuk.
Itu adalah mimpi terbaik yang pernah dia alami. Dia merasa bebas, lepas dari semua gangguan, hanya berbaring dan tidur dengan nyaman. Bahkan jika langit akan runtuh, dia tidak takut, karena Charles ada di sampingnya. Charles akan melindunginya sehingga dia bisa tidur sambil tersenyum…
Ketika Sarah bangun keesokan harinya, matahari sudah bersinar cerah. Suhu udaranya sangat tinggi sehingga dia pikir itu pasti sudah tengah hari. Walaupun gorden tebal menghalangi sinar matahari, dia bisa merasakan kehangatannya.
Bangun karena sinar matahari yang menyilaukan, dia mendapati Charles tidak ada di sana. Dia menutupi dirinya dengan selimut tapi tidak bisa bergerak karena kelemahan. Dia mengambil jam weker dari meja samping tempat tidur dan terkejut melihat waktu. Dia buru-buru duduk tapi langsung terhambat karena rasa sakit di antara kedua kakinya.
Malam mereka bercinta telah meninggalkan jejak di seluruh ruangan.
Sudah jam 2 siang. Dia sudah tidur sampai sekarang. Sarah memanggil pelan. "Charles… Charles… Kamu di mana?"
Penasaran kemana Charles pergi saat dia tidak menerima jawaban, dia bangkit untuk berpakaian. Dia masih merasa sangat sakit, terutama di bawah pinggangnya, seolah-olah dia bengkak di sana. Saat berpakaian, dia memperhatikan bahwa tubuhnya dipenuhi dengan tanda merah dan memar di sekitar pinggangnya.
Mengingat malam mereka… percintaan mereka dari kamar mandi ke dinding itu, lalu ke karpet, ranjang, kursi, meja rias, dan kemudian ranjang lagi… Dia tersipu seolah Charles menyentuhnya saat ini. Seluruh tubuhnya menjadi panas karena antisipasi lagi.
Sarah menggelengkan kepalanya dan menampar pipinya untuk menyadarkannya, bertanya-tanya apakah dia akan berubah menjadi wanita vulgar yang hanya bisa memikirkan seks, atau akankah dia semakin terbiasa dengan itu mengingat dia sekarang seorang wanita yang sudah menikah? Dia menggoyangkan tubuhnya seolah-olah menghilangkan pikiran itu.
Setelah Sarah selesai berpakaian, dia berjalan keluar kamar, berpegangan pada dinding untuk stabilitas karena dia masih sangat kesakitan.
Seperti yang diharapkan, Charles juga tidak ada di sini, tapi pintu balkon yang berlawanan terbuka. Rupanya, Charles ada di rumah. Dia menuruni tangga selangkah demi selangkah, memanggil namanya, "Charles… Charles?"
Charles mendengar dia memanggil namanya dan keluar dari dapur, hanya mengenakan jubah mandi dan celana dalam, memegang pisau di tangannya. Dia terkejut melihat Sarah dan dengan cepat meletakkan pisau di konter untuk memeluknya. Membantu Sarah menuruni tangga, dia bertanya. "Kenapa kamu sudah bangun? Seharusnya kamu tetap di tempat tidur hari ini. Gimana caranya kamu bisa jalan setelah tadi malam?"
Sarah membuka tangannya untuk memeluknya dan berbisik ke lehernya dengan gembira, "Nggak papa, kok. Aku masih bisa jalan."
Charles mengangkatnya ke bangku bar, lalu meletakkan tangannya di kedua sisi kakinya, menatapnya, dia tersenyum nakal. "Kenapa? Kamu baik-baik aja? Bisa jalan, nih? Kupikir kamu nggak bakal bisa keluar dari tempat tidur paling nggak tiga hari. Soalnya, tadi malam aku 'main' sama kamu berkali-kali… Kayaknya aku kurang kerja keras, nih. Mungkin aku harus kerja lebih keras lagi besok?"
Terkejut, Sarah menjawab. "Ya ampun, kamu masih mau lagi? Tadi malam aku beneran kelelahan, lho. Udah, deh, aku rasa…aku…aku…bakal pingsan, nih." Sarah berkata dengan nada ringan, tersipu malu.
Charles tertawa, "Nggak kok. Aku bisa ngontrol diri. Walaupun kita udah ngelakuin itu tadi malam, itu nggak akan nyakitin kamu…" katanya dengan ambigu.
Sarah tidak tertarik dengan sisa kata-katanya yang menyusul, hanya mendorongnya pergi dengan tergesa-gesa, dan berkata, "Udah! Kamu selalu ngomong gitu. Aku pikir aku bakal jadi cewek murahan, nih."
Charles masih tertawa dan melanjutkan, "Kamu terlalu konservatif dan pemalu. Coba deh lihat saudara-saudara ku, baru kamu tahu apa itu murahan! Lagipula, kita udah nikah, wajar aja ngomongin hal-hal kayak gini buat ningkatin hubungan kita."
Sarah masih malu dan mengganti topik. "Kamu lagi masak apa?"
"Mie. Kamu nggak makan apa-apa dari tadi malam. Kupikir kamu lapar, jadi aku bikinin kamu makan siang, nih."