Bab 36: AKU AKAN MELAWANMU
Sarah agak *cautious*. Dia selalu merasa kayak kejebak kalau ngobrol sama cewek ini, yang jelas-jelas kayak gak suka sama dia. "Aku lagi milih sprei. Kenapa emangnya? Apa aku harus balik pulang?" kata Sarah gugup.
"Kenapa kamu masih manggil aku, Nyonya Thomas, padahal kamu mau nikah? Kamu bakal jadi nyonya keluarga Thomas; kok kamu malah pergi sendiri milih sprei? Memalukan banget! Seharusnya kamu nyuruh pedagang buat ngirim ke rumah." Nada suara Nyonya Thomas tegas banget. Kayaknya dia lagi nyalahin Sarah.
Sarah diem aja sambil ngeremas sprei di tangannya. Dia kesel tapi gak berani ngomong apa-apa.
Nyonya Thomas ngembus napas panjang di telepon terus bilang, "Kamu balik sekarang. Gak usah keluar rumah. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Apartemen Charles atau balik ke rumah keluarga?" tanya Sarah hati-hati.
"Rumah keluarga, dong. Atau kamu gak ada rencana tinggal di rumah kita setelah nikah?" kata Nyonya Thomas dengan nada ketus.
Sarah agak bingung. Sebenarnya, dia mikir bakal tinggal di apartemen Charles setelah nikah, bukan tinggal bareng Tuan Thomas dan Nyonya Thomas. Kebanyakan perusahaan Charles di Houston. Lagian, Charles selalu ngizinin dia buat mendekor apartemen kalau mereka lagi ngomongin soal pernikahan. Kayaknya dia gak ada niatan buat pulang. Tapi, omongan Nyonya Thomas hari ini nunjukkin kalau dia mikir sebaliknya.
Sarah gak berani nolak dan langsung matiin teleponnya. Terus dia langsung pergi ke bandara dan beli tiket pesawat ke Los Angeles. Pas nyampe lagi di rumah gede yang megah itu, Sarah mulai gak enak karena cuma ada Nyonya Thomas dan beberapa pelayan di sana. Nyonya Thomas lagi ngerangkai bunga. Pas dia lihat Sarah datang, dia bilang, "Sini duduk."
Sarah jalan ke arah dia. Walaupun gak enak, dia harus nurut perintahnya, "Ada apa?"
"Kamu bisa ngerangkai bunga?" tanya Nyonya Thomas.
Sarah ngeliatin bunga-bunga dan vas di meja, terus geleng-geleng kepala.
Nyonya Thomas marah dan bilang, "Kenapa sih cewek gak bisa ngerangkai bunga?"
Sarah gak ngomong apa-apa. Kenapa sih cewek harus belajar ngerangkai bunga? Mungkin Nyonya Thomas hidupnya udah mewah dari kecil, jadi dia mikir kalau cewek harus belajar gitu. Tapi, Sarah udah susah payah dari lahir. Dia harus ngebiayain adiknya, jadi dia gak ada waktu buat belajar ngerangkai bunga.
Nyonya Thomas nanya lagi, "Kamu udah selesai kursus apa aja? Seni, musik, piano, atau dansa?"
Sarah geleng-geleng kepala lagi dan ngejawab, "Jurusan aku di universitas ekonomi dan perdagangan internasional."
"Kenapa sih cewek belajar jurusan ini? Cewek yang anggun itu harusnya belajar jurusan seni kayak musik, lukis, dansa, dan lain-lain. Kamu bisa apa sekarang setelah lulus kuliah? Gimana caranya itu ngebantu kamu buat ngelayanin suami dan anak-anak kamu?"
Sarah nundukin kepalanya dan bilang, "Maaf, Nyonya Thomas. Aku bukan cewek yang kayak gitu. Aku harus kerja, jadi aku gak bisa nyempetin waktu buat belajar seni atau musik. Tapi, aku bakal berusaha keras buat belajar sekarang. Aku gak bakal bikin malu Charles."
"Kamu masih punya kesempatan buat belajar sekarang?" Nyonya Thomas nyinyir, "Menurut aku, kamu gak pantas jadi istrinya Charles!"
Sarah gak nyangka Nyonya Thomas bakal ngehina dia sejelas itu. Nyonya Thomas kelihatan nyeremin; dia naruh bunga yang dipegangnya ke samping, nyilangin tangan, dan nyender di sofa. Ngeliatin sekeliling meja, kayak lagi berusaha buat nahan diri terus bilang, "Seharusnya aku dukung hubungan Emma dan Charles. Walaupun Emma dari keluarga miskin, setidaknya dia udah diadopsi sama kita. Dia lebih baik daripada cewek yang bahkan gak kita kenal yang masuk ke keluarga kita tanpa diundang!"
Sarah marah banget. Dia nganggap Nyonya Thomas sebagai orang yang lebih tua, tapi dia sama sekali gak menghargai Sarah. Gak perlu lagi buat Sarah nahan emosinya. Dia natap mata Nyonya Thomas langsung dan bilang, "Nyonya Thomas, apa kamu beneran gak suka sama aku? Apa kamu cuma bakal senang kalau aku ninggalin Charles?"
"Iya!" Nyonya Thomas natap dia, dingin, ngejawab tanpa ragu.
"Jadi, bisa kamu kasih tau kenapa kamu gak suka sama aku? Aku gak mikir pernah bikin masalah buat kamu dan keluarga kamu. Kenapa kamu benci sama aku?"
"Karena latar belakang kamu!" Nyonya Thomas nyembur. "Kalau kamu nikah sama Charles, keluarga kita bakal jadi bahan omongan!"
"Apa salah aku? Kenapa keluarga kamu bakal jadi bahan omongan kalau aku nikah sama Charles? Apa cuma karena aku dari keluarga miskin? Apa orang-orang beneran curiga kalau aku nikah sama Charles cuma karena uang?" balas Sarah.
"Itu cara ngomong yang sopan buat ngomong sama orang yang lebih tua? Kamu gak punya sopan santun sama sekali!" Nyonya Thomas ngomong dengan nada sewot.
Sarah tenang banget, ngejawab dengan logis, "Nyonya Thomas, kamu gak nganggep aku sebagai calon menantu kamu, dan aku juga belum nikah, jadi kamu bukan orang tua aku. Kalau kamu mau musuhan sama aku, ya udah, aku juga musuhan sama kamu!"