Bab 50: ITU TIDAK PENTING
Sarah mikir kalau Nyonya Thomas bakal berubah pikiran dan lama-lama suka sama dia. Terus pernikahan mereka bakal bahagia. Tapi sekarang, gak mungkin lagi. Nyonya Thomas sama sekali gak suka dia, dan kayaknya gak ada niatan buat suka sama Sarah – maunya sih ngusir dia jauh-jauh.
Meskipun dia tahu kalau Tuan Thomas dan Charles bakal dukung dia, dan Emma juga gak ada niat buat hancurin keluarganya, Sarah tetep gak enak, malah agak sedih.
Dia balik ke bangsal dan nemuin ponselnya. Tuan Thomas lagi tidur, jadi dia gak bangunin. Dia cuma ngeliatin sebentar terus mau pergi. Nyonya Thomas dan Emma balik saat itu juga.
Emma kaget, "Kak, kok di sini? Kapan baliknya? Aku gak lihat kamu."
Tempat mereka ngobrol tadi itu satu-satunya jalan ke bangsal. Mereka di situ terus dan gak lihat Sarah, jadi pas lihat Sarah di bangsal, mereka kaget.
Sarah jawab, "Oh, tadi ada kendaraan operasi masuk lift, jadi aku naik tangga." Sarah bikin alibi.
"Oh gitu." Mungkin Emma emang polos, dia percaya aja. "Kamu ngapain balik ke sini?" Tanya dia lagi.
Sarah goyang-goyangin ponselnya dan sok santai. "Aku balik buat ambil ponselku. Sekarang udah dapet, aku balik ya. Emma, Mama, sampai jumpa! Kalian pasti capek banget hari ini."
"Oke, sampai jumpa. Kakak lagi nungguin kamu nih." Jawab Emma.
Sarah ngangguk dan nunduk ke Nyonya Thomas. Terus dia pergi.
Setelah Sarah pergi, Emma bilang ke Nyonya Thomas, "Mah, dia kayaknya gak bahagia deh."
Nyonya Thomas nyengir sinis, "Bagus deh kalau dia denger percakapan kita. Jadi aku gak buang-buang waktu."
"Hah?" Emma bingung. Gak lama dia ngerti maksudnya. Mungkin Sarah denger mereka ngomongin sesuatu. Pas Emma noleh dan ngeliat koridor kosong, dia langsung merasa bersalah.
Sarah jalan keluar dari rumah sakit dengan pikiran berat. Pas dia lihat mobil Charles di pinggir jalan dan senyumnya yang ganteng dan mempesona, Sarah langsung merasa hangat karena dia tahu semua itu buat dia. Gimanapun juga, Charles bakal dukung dan nyemangatin dia.
Makanya, dia milih buat lupain rasa sakitnya dan jalan ke arah Charles dengan senyum cerah.
Charles buka pintu dan nyuruh dia masuk. Terus dia bilang, "Kenapa? Kamu kayak gak bahagia tadi."
"Gak papa kok."
"Papa makin parah ya?"
"Enggak. Kamu mikirnya kejauhan. Papa baik-baik aja kok. Gak ada apa-apa."
"Kok kamu kayak gak bahagia?"
Sarah bikin alibi dan jawab, "Aku cuma mikirin nanti mau ngapain setelah nikah."
"Oke." Charles senyum dan masuk setelah jalan ke sisi yang lain. Terus dia bilang, "Gak usah dipikirin. Kamu bisa lakuin apa aja yang kamu mau. Kalau kamu gak mau ngapa-ngapain, ya udah di rumah aja, terus lahiran anak-anak kita. Kita kan butuh banyak anak. Aku takut kamu kewalahan." Charles mendekat ke dia dan ketawa gak jelas.
"Cowok nakal," kata Sarah sambil nepuk dia manja.
Charles noleh dan mulai nyalain mobil. Terus, dia lanjut, "Tadi, Mama nelpon. Dia minta kita balik ke rumah buat nemenin Papa yang mau berhenti kerja, terus Emma juga mau balik ke Chicago. Aku udah janji iya. Soalnya kan kamu bilang mau balik buat jagain Papa kita."
Senyum di wajah Sarah langsung membeku. Percakapan Nyonya Thomas dan Emma masih muter-muter di pikirannya. Kalau dia gak denger, mungkin dia bakal baik-baik aja dan emang mau jagain Tuan Thomas. Tapi, saat ini, dia tahu kalau Nyonya Thomas mungkin lagi ngerjain dia dan berusaha buat hancurin pernikahannya. Jadi dia khawatir kalau balik itu bukan pilihan yang bagus.