Bab 73: AKU AKAN MENELEPONMU NANTI
Dia berbalik dan lihat Daniel udah cabut, dan mereka bertiga nungguin dia. Nunduk sok polos, dia jalan ke arah mereka dengan ekspresi kayak baru aja ngeraih sesuatu yang hebat. Tuan Thomas mikir dia lagi ngurusin urusan sama orang-orang di perusahaan mereka dan gak mikirin lebih lanjut.
Pas mereka balik rumah, Tuan Thomas nanya santai. "Kalian berdua belum honeymoon, nih. Sekarang Emma udah pergi, pernah kepikiran mau kemana?"
Denger pertanyaan Tuan Thomas, Sarah ngeliatin Charles, yang juga lagi natap dia, tapi terus dia nunduk sambil masukin tangan ke kantong seolah-olah gak mau jawab. Sarah gak punya pilihan selain jawab dan bilang. "Kita tadinya mikir mau ke Maladewa, tapi karena situasi sekarang, jadi ditunda dulu. Nanti kan bisa kapan aja."
Tuan Thomas ketawa senang. "Sebenernya, diem di rumah juga bisa enak, kok. Siapa bilang jalan-jalan ke luar negeri lebih bagus dari rumah? Malah banyak tempat di Los Angeles yang bisa kalian kunjungi kalau mau jalan-jalan... Gak mau kesana, nih?" Kayaknya Tuan Thomas pengen banget mereka tetap tinggal.
Sarah, jelas, ngerti maksudnya, dia mau mereka tinggal bareng dia karena Emma udah pergi, tapi Charles terlalu keras kepala dan sombong buat ngomong apa-apa. Kalo dia gak ngomong sesuatu biar Tuan Thomas tenang, dia bakal ngerasa malu dan bersalah. Tapi, di depan Christina, dia gak tau gimana ngomongnya karena mereka berantem waktu Charles bilang mereka gak bakal balik ke Los Angeles.
Sarah ngeliatin Christina, yang tangannya masih nyilang tanpa ada niatan buat ngomong apa-apa. Gak tau gimana reaksi Christina sama apa yang Sarah omongin, dia tahan diri buat gak ngomong dan narik lengan Charles, sambil berbisik.
"Charles... Kamu..."
Charles gak peduli sama semuanya dan cuma bilang dengan tenang, "Kita bisa tinggal di sini beberapa hari, terus balik kapan aja kalau kita gak diterima di sini."
Kata-katanya jelas ditujukan buat ibunya, yang tiba-tiba nurunin tangannya, menyipitkan mata ke arahnya, terus nyindir. "Kamu pikir ada yang ngemis-ngemis minta kamu buat tinggal?"
"Christina!" Tuan Thomas negur dia. Dia cuma mendengus, masuk ke mobilnya, banting pintu, dan pergi, ninggalin mereka berdua. Ngeliat Charles gak peduli sama apa yang terjadi, Sarah menghela nafas.
Akhirnya, mereka mutusin buat tinggal di Los Angeles buat sementara. Soalnya, kondisi Tuan Thomas belum stabil, dan dia bisa kambuh kapan aja. Lebih baik mereka tinggal dan ngerawat dia buat sementara.
Karena Christina udah sibuk sama urusannya sendiri beberapa hari terakhir tanpa bikin masalah yang terlalu banyak, makanya Sarah gak mau mancing emosinya dan lebih santai dan tenang. Karena Christina sering keluar rumah, dia ngabisin waktunya nemenin Nyonya Thomas, ngebantuin dia nanam bunga dan rumput, yang bikin dia sayang sama Sarah kayak anaknya sendiri.
Sarah suka banget rasanya punya ayah yang peduli setelah kehilangan orang tuanya di usia muda, dan akhirnya, mereka makin deket.
Yang Sarah gak tau adalah Christina lagi sibuk nyusun rencana jahat buat dia diam-diam. Dia nelpon Burt, yang punya agen detektif, lagi dan nanya tentang penyelidikan pribadi mereka.
Burt lapor ke dia kalau penyelidikannya udah selesai. "Frank Daniel lahir di Philadelphia tanggal 9 Oktober 1983, dan tingginya 1,80 meter. Dia lulus dari..." dia lanjutin semua informasi penting sampai akhirnya nyampe ke poin yang cuma bikin Christina tertarik.
"Keluarga Daniel dan nenek Sarah tinggal sebelahan. Setelah orang tua Sarah meninggal, Sarah dan adiknya tinggal sama nenek mereka beberapa waktu. Selama itu, Daniel dan Sarah jadi deket banget. Waktu Sarah balik ke Houston umur 17 tahun sama adiknya, mereka udah gak kontakan sampai akhirnya ketemu lagi beberapa hari lalu. Adiknya Sarah pernah bilang kalau Daniel kayaknya naksir sama Sarah." Dia nyelesain laporannya.
"Oh, gitu, bagus, aku bakal bayar kamu dua kali lipat." Christina senyum bangga, "Sekarang, kamu bisa ambil kesempatan buat kirim foto Charles dan Emma ke Daniel diam-diam. Kirim aja fotonya ke dia, tanpa penjelasan apa-apa. Kalau dia beneran sayang sama Sarah, dia pasti bakal ngelakuin sesuatu setelah liat fotonya."
"Baik, saya mengerti, perintah Anda adalah perintah saya." Mereka selesai telepon.
Christina nyinyir, mikir. "Sarah, kamu berani nantang aku, sekarang kamu bakal rasain akibatnya!"
Karena mereka tinggal di Los Angeles sekarang, Charles sibuk banget karena dia harus terbang ke Houston pagi-pagi buat kerja terus balik lagi ke Los Angeles malemnya. Sarah nyaranin Charles buat tinggal di Houston selama seminggu buat ngurangin stresnya, tapi dia nolak.
"Gimana bisa aku tidur tanpa kamu? Aku bisa nanggung stresnya kalau artinya kamu bisa tidur nyenyak setelahnya." dia godain Sarah.
Sarah gak bisa nahan ketawa. Charles emang brengsek. Justru dia yang gak bisa tidur tanpa dia. Tau dia gak bakal dengerin, dia biarin aja, tau kalau ini gak bakal lama. Mereka berencana buat pergi minggu depan bareng.
Charles nyampe rumah mereka di Los Angeles sekitar jam 10 malem. Tuan Thomas biasanya lagi di ruang kerjanya baca buku jam segitu, dan Christina biasanya lagi keluar buat perawatan kecantikan di beberapa klinik atau lagi ikut kegiatan sosial.
Sarah lagi duduk di kamarnya, baca buku waktu Charles balik. Seperti biasa, dia nyapa dia dengan senang. "Istriku sayang, aku pulang!" Terus langsung nanya. "Mama bikin masalah gak hari ini?"
Sarah berdiri buat bantuin dia lepas jaketnya dan jawab dengan manis. "Kamu anggap aku kayak anak kecil aja, selalu nanya mama kamu bikin masalah apa enggak."
"Tapi emang bener kan. Kamu selalu ngalah buat dia!" Charles bilang.