Bab 75: APA KAU MENYUKAINYA?
(Peringatan: Bab ini berisi adegan dewasa. Kalau lo nggak nyaman, mending skip aja dan lanjut ke bab lain.)
Dia nggak pernah nyangka kalau suatu hari nanti bakal *begituan* sama Charles langsung di sofa sambil ngadep komputer, nonton bokep.
Mungkin karena mereka udah beberapa hari nggak *begituan*, atau mungkin juga karena mereka udah kayak pasangan lain. Apapun itu, Sarah langsung *klimaks* dan lemes, tapi Charles masih semangat dan keras kayak biasanya. Dia meluk tubuh Sarah dari belakang dan nahan dia di lengannya, sambil berbisik. "Sarah… Sarah…" Suaranya bikin *klepek-klepek*, dan Sarah tahu Charles pengen lebih.
Sarah coba ngeliat Charles dan bilang, "Kamu… Belum cukup?"
Charles keliatan nggak berdaya banget. Ngeliat ekspresi Sarah yang capek, dia nggak tahu harus berhenti atau lanjut. Keningnya berkeringat. Sarah tahu kalau Charles belum puas, jadi dia balik badan dan buka mulut buat ngisep *senjata* Charles yang keras kayak batu biar Charles seneng.
Di luar dugaan, hisapan Sarah malah bikin Charles makin *horny*, dan dia mulai *nembus* Sarah lagi. Kali ini, gerakan Charles makin kuat, bikin Sarah mengerang dan teriak persis kayak cewek di film.
Tapi, apapun yang Sarah lakuin, *senjata* Charles tetep keras, gede, dan panas. Charles terus *ngentot* Sarah, bikin dia *crot* lagi dan lagi. Beberapa lama kemudian, Sarah udah nggak tahan lagi dan mulai teriak. "Charles… Charles… tolong… Aku… Ah… Tolong… Ah…"
Karena tahu Sarah udah nggak kuat lagi, Charles akhirnya *nembus* Sarah beberapa kali lagi sebelum dia *ngeluarin* dan akhirnya nyemprotin semua spermanya ke dalam tubuh Sarah. Keduanya ngos-ngosan, dan filmnya juga berhenti. Charles meluk Sarah erat-erat saat mereka rebahan di sofa bareng.
Sarah nggak punya tenaga buat gerak, dia cuma biarin Charles balik badannya dan meluk dia.
Charles nyium kening Sarah dan nanya. "Kamu suka?"
Sarah masih ngos-ngosan dan ngejawab, "Suka…" Suaranya manis dan menggoda, bahkan Sarah sendiri kaget sama ekspresinya.
Charles ketawa pelan dan nyium kening Sarah lagi. Setelah istirahat sebentar, Charles gendong Sarah ke kamar mandi buat mandi sebelum tidur.
Sebelum tidur, Sarah tiba-tiba inget sesuatu dan bilang. "Daniel nelpon aku hari ini dan minta ketemu besok. Boleh, nggak?"
Charles cemberut pas denger nama Daniel dan ngejawab dengan nada yang agak nggak seneng. "Dia minta kamu ngapain? Jangan lupa, kamu itu istri aku!"
"Jangan salah paham. Dia banyak bantu aku waktu aku masih muda, mana mungkin dia punya niat lain sama aku?"
"Hum, jangan lupa dia itu cowok. Aku tahu gimana cowok. Kamu itu cewek yang gampang percaya, polos, aku rasa dia suka sama kamu."
"Hah?" Sarah kaget denger Charles ngomong gitu, tapi terus ketawa, nyenggol bahu Charles. "Kamu gitu amat. Jangan cemburu! Mana mungkin dia suka sama aku? Dia kan masih muda dan punya masa depan cerah, sedangkan aku udah nikah…"
Ngeliat Charles mau marah, Sarah buru-buru nambahin, "Lagian, kalaupun dia suka sama aku, aku kan cintanya sama kamu, jadi dia bisa apa? Aku cinta banget sama kamu. Mana mungkin aku ninggalin kamu? Pokoknya, aku bakal ketemu dia sekali besok. Kayaknya ada yang penting dari nada bicaranya hari ini. Kedengerannya nggak biasa. Mungkin dia emang ada yang penting buat diomongin."
Charles nyium Sarah dan bilang. "Ya udah, pulang cepet ya. Telepon aku kalau butuh apa-apa."
Setelah dapet izin, Sarah tidur di pelukan Charles.
Keesokan paginya, Sarah nepati janjinya dan pergi ke kafe buat ketemu Daniel. Dia dateng duluan, jadi dia duduk di deket jendela dan nunggu Daniel. Beberapa saat kemudian, dia ngeliat mobil Daniel masuk ke tempat parkir. Karena dia masih kerja, Daniel masih pake jas dokter putihnya, yang bikin dia keliatan makin ganteng.
Beberapa cewek muda pada noleh, ngeliatin Daniel pas dia jalan masuk ke Kafe.
Sarah mikir kalau Daniel malah lebih ganteng dari Charles. Tapi, Charles itu cowok yang punya pesona unik, mungkin itu sebabnya Charles lebih populer di kalangan cewek daripada Daniel.
Sarah berdiri dan senyum pas Daniel masuk ke kafe dan nyapa Daniel. "Hai Daniel, kamu ke sini pas istirahat ya? Kok buru-buru banget?"
Daniel keliatan khawatir. Dia megang amplop gede yang menggembung di tangannya. Sarah nggak tahu itu apa, dan Daniel cuma ngejawab. "Hai Sarah, duduk. Aku ada beberapa hal penting, nih."
Pelayan dateng buat mesen. Mereka cuma mesen dua cangkir kopi. Sarah mendekat ke Daniel, naruh kedua tangannya di meja, dan nanya. "Ada apa?"
Daniel keliatan agak nggak mau langsung cerita. "Nanti aku kasih tahu. Charles ada di rumah? Dia tahu kamu ke sini buat ketemu aku?"
Sarah ngangguk. "Udah aku kasih tahu."
Daniel cemberut. Dia keliatan agak nggak seneng dan khawatir.
"Kenapa?" Sarah mikir Daniel aneh.
Pelayan balik lagi bawa kopi mereka. Naruh kopi di depan mereka, pelayan bilang dengan sopan. "Silakan dinikmati. Kalau butuh apa-apa, bilang aja ya."
Mereka ngangguk ke pelayan dan nunggu sampe pelayan pergi, terus Sarah nanya lagi, "Bisa kasih tahu aku ada apa? Nggak ada yang ganggu kita sekarang."
Daniel ngeliat sekeliling kafe. Karena lagi jam kerja, cuma ada beberapa anak kuliahan dan sepasang kakek-nenek di kafe. Daniel megang amplop gede itu erat-erat di tangannya, ragu-ragu buat ngasih ke Sarah. Akhirnya dia ngeliat Sarah dan bilang, "Nanti aku tunjukin. Tenang aja."
Sarah ngeliat amplop di tangan Daniel terus ngeliat Daniel dengan ragu.
Daniel ngangkat amplop dan ngegoyangin amplop itu. "Ini muncul di meja aku di rumah sakit kemarin. Nggak ada tanda tangan atau indikasi dari siapa, dan waktu aku nanya ke staf rumah sakit dan rekan kerja aku, nggak ada yang ngeliat ada orang masuk ke ruang jaga di mana meja aku berada. Awalnya, aku curiga, tapi kayaknya ini muncul entah dari mana… Aku rasa aku perlu nunjukkin ini ke kamu. Kalau ini beneran, aku rasa kamu harus tahu."
"Apaan sih?" Sarah cemberut.