Bab 86: JANGAN TINGGALKAN AKU
🚨 PERINGATAN: Bab ini ada adegan dewasa. Kalau kamu nggak nyaman baca, mending skip aja dan lanjut ke bab lain.
Sarah nonjok dia lagi sambil nangis. "Charles, pergi deh, lepasin aku!"
Nggak peduli sama kelakuannya yang nyolot dan kata-kata kasarnya, dia cuma meluk Sarah erat-erat. Dia ngerasa putus asa dan tiba-tiba teriak, memohon. "Sarah… jangan pergi… jangan tinggalin aku… Aku nggak mau kamu pergi…"
"Kenapa kamu lakuin ini ke aku? Lepasin aku!" Sarah terus berontak.
Charles ngangkat kepalanya lagi dan nyium Sarah. Kali ini, dia nyiumnya lembut dan mesra. Dengan suara pelan, dia terus memohon. "Jangan pergi. Jangan ceraiin aku. Aku salah tadi. Aku rela kok… jangan tinggalin aku…"
Denger kesedihan di kata-katanya, hati Sarah pelan-pelan jadi luluh. Kenapa Charles ngelakuin ini ke dia? Kenapa dia ngomong kayak gini? Dia selama ini cuek banget, seolah cowok yang dia percaya selama ini cuma ilusi. Kenapa? Setelah ngomong kasar, dia tiba-tiba meluk dan mohon-mohon supaya Sarah nggak pergi.
Gimana bisa Sarah tega sama dia?
Dia selalu gitu. Awalnya nyakitin, terus meluk, nyakitin hati Sarah sampai Sarah maafin lagi dan lagi. Apa dia pikir nggak ada bekas luka di hati Sarah setelah dia nenangin Sarah? Kalau Sarah biarin dia nyakitin terus-terusan, Sarah nggak akan jadi cewek yang dulu lagi, bahkan kalau dia datang nenangin Sarah. Sarah harus inget luka-lukanya biar bisa jauh-jauh dari dia.
Charles nyium Sarah, tangannya mulai menjelajah tubuh Sarah. Tiba-tiba dia pengen banget nge-**ituin** Sarah. Dia cinta banget sama Sarah sampai nggak mau ngelepas Sarah, bahkan waktu dia benci sama Sarah.
"Sarah… maaf… Aku cinta kamu… Aku mau kamu, cuma kamu…" bisiknya sambil nyium Sarah pakai lidah, terus turun dari dagu ke cuping telinga dan tulang selangka. Dia ngebuka baju Sarah dan akhirnya nyium payudara Sarah, kayak bayi kelaparan yang nyusu dengan rakus. Dia mulai misahin kaki Sarah dan ngangkat Sarah, bikin bagian pribadinya nempel sama kejantanannya. Dia neken pinggul Sarah biar Sarah ngerasain nafsunya sambil nyium payudara Sarah lebih keras.
Sarah masih nangis, tapi hatinya mulai mati rasa. Dia nggak tahu apa yang terjadi di antara mereka sekarang. Satu menit mereka berantem dan nyakitin satu sama lain lagi dan lagi, dan menit berikutnya mereka mau nge-**ituin**.
Apa mereka bakal punya masa depan kalau terus kayak gini?
Charles nggak sadar reaksi Sarah, tapi terus nyium dan meluk Sarah. "Sarah… Sarah…" dia bergumam memohon sambil ngebaringin Sarah di kasur.
Sarah nggak melawan, tapi ngikutin apa yang dia lakuin; dia ngerasa sedih banget dan kecewa, nggak yakin sama masa depan mereka.
Charles kayak lagi menghukum Sarah, dan tanpa peringatan, dia tiba-tiba masukin tubuhnya dengan paksa. Kaget, Sarah teriak, natap dia dengan mata berkaca-kaca. Keningnya penuh keringat, dia natap Sarah dan bergerak dengan irama yang mantap.
Kayaknya dia mau masuk ke rahasia terdalam jiwanya, tapi Sarah cuma natap dia tanpa ekspresi. Nggak mau lihat wajah Sarah yang cuek, dia terus bergerak lebih cepat. Dia nge-**ituin** Sarah begitu keras sampai Sarah nggak bisa lagi nge-ignore dia, tubuh Sarah ngerespons gesekan terus-menerus, ngebangkitin nafsu birahinya. Dia lagi ngendaliin pikiran Sarah lewat tubuh Sarah biar Sarah nggak mikirin buat ninggalin dia. Setiap gerakan, dia masuk lebih dalam.
Sarah mulai mengerang pelan nikmat, tapi itu nggak cukup buat Charles. Dia terus bergerak kuat, pakai gerakan dan posisi yang beda-beda buat ningkatin kenikmatan Sarah, sampai dia ngebalik Sarah dan nge-**ituin** dari belakang. Ngangkat pinggul Sarah, dia bisa masuk lebih dalam dari sebelumnya, berulang-ulang. Sarah menghadap kasur, dan akhirnya nggak bisa nahan lagi, tenggelam dalam gairahnya dan mengerang keras.
Mau berentiin dia, Sarah manggil. "Charles… Charles…"
Tapi Charles nggak berhenti. Masukin semua emosinya, nafsu fisiknya, dan amarahnya ke gerakannya, dia terus ngegebuk Sarah dengan paksa dari belakang, nikmatin erangan Sarah, hampir hilang kendali.
Dia ganti posisi mereka lagi. Sarah udah nggak keitung udah berapa kali orgasme, dan berapa kali mereka ngelakuin itu malam itu. Charles terus ngerusak tubuh Sarah lagi dan lagi sampai Sarah nggak sadar. Satu-satunya yang Sarah inget adalah mereka lebih gila dari malam pernikahan mereka, soalnya Charles lembut sama Sarah waktu itu.
Malam ini, kayaknya dia udah bener-bener kehilangan kendali diri dan bertindak kasar. Sarah nggak bisa mikir apa yang salah sama dia. Mungkin mereka berdua udah berubah? Apapun itu, nggak akan sama lagi di antara mereka.
Pernikahan mereka udah nggak indah lagi. Udah retak di hati. Mereka nggak tahu seberapa jauh mereka bakal jalan bareng. Rasa nggak percaya udah ngeracunin hubungan mereka, dan nggak akan pernah sama lagi.
***
Pagi berikutnya, waktu matahari udah terang, Sarah bangun. Sinar matahari masuk dari tirai tebal. Kamar panas. Sarah mikir paling nggak udah jam dua belas waktu dia buka mata ngantuk. Dia sadar masih tiduran di pelukan Charles, kepalanya di bahu Charles.
Dia kaget ngelihat Charles masih di kasur soalnya dia biasanya bangun lebih awal, entah buat kerja atau olahraga. Nggak biasa dia bangun telat bareng Sarah.
Dia buka matanya lagi buat ngelihat wajah Charles. Charles bangun di waktu yang sama dan natap balik Sarah. Mereka saling natap dalam diam.
Itu momen yang canggung. Akhirnya, Sarah mecah keheningan. "Jam berapa sih? Kamu nggak ada kerjaan?"
Charles jawab santai. "Jam dua belas. Kamu laper?"
Jam dua belas. Udah siang. Sarah mau bangun, tapi Charles nahan Sarah dan mulai nyium Sarah lagi.
Nggak nyangka reaksinya, Sarah noleh ke dia dan nanya. "Kamu ngapain sih? Lepasin aku…" Sarah mulai berontak.
Tapi Charles nggak mau ngelepas Sarah. Di sela-sela nyium Sarah, dia bilang, "Aku cinta kamu…" dan terus nyium Sarah dengan intens. Tiba-tiba, dia buka kaki Sarah pakai tangannya dan ngeguling Sarah, masukin tubuhnya lagi, bergerak dengan irama pelan.