Bab 14: Nol
Gak kayak *Kecantikan* sama sekali.
"Woi, kukira gak bakal nelpon secepet ini. Gue lagi *shift* di rumah sakit malam ini. *Hannah* bilang kekurangan staf jadi gue nawarin buat nambah beban, lumayan mulai duluan."
Gue denger suaranya yang manis, gak kayak *Beggar*. *Quinn* si cerewet.
"Iya, bagus, tapi yakinin pantat lo ada di kasur gue pas gue balik," *Quinn* cewek hebat.
Dia ngerti gue peduli sama dia. Itu yang paling banyak yang bakal dia dapat dari gue dan dia gak masalah.
Udah cukup. Dia gak punya beban, gak ada drama emosional dan dia lebih tua.
Dia ngerti kerjaan gue sama pemerintah jadi gue gak perlu nutup-nutupin apa pun dari dia.
Gue ketemu *Quinn* sebelum gue dikirim buat misi ambil barang di Hong Kong. Sebulan setelah *Beggar* ninggalin gue.
Gue hancur, berantem sama semua saudara selain *Killer*. Dia bilang kalau dia ngehajar gue itu sama aja kayak gue mau dan dia lagi gak mau baik hati. Sialan emang selalu bener, waktu itu juga sama.
Gue kelelep di sungai yang gak ada awalnya, gak ada akhirnya, nyaris mau naik motor dan bilang serah deh sama semuanya. Terus gue ketemu *Quinn* yang cerewet.
"Kapan tuh? Kukira lo mau ketemu gue di luar, kok bisa dari luar jadi di dalam, apalagi di kasur lo."
"Sayang, udah lama, gue perlu mastiin masih ada titit gue."
"Ya buat apa tangan lo *Nol*, pake itu."
Ini yang gue suka dari dia, sifatnya yang santai, alurnya. Bareng *Quinn* semudah bernapas.
Gak ada stres, atau emosi, atau dibohongin atau ngumpet-ngumpet kayak anak ABG.
Gak yakin gimana bisa terjadi, awalnya kita cuma dua orang, sama-sama ngurusin urusan masing-masing. Dia curhat dan cerita ke gue, yang gak seburuk *Beggar* atau cewek-cewek lain di masa lalu gue.
Awalnya gue ragu mau cerita apa pun ke dia, tapi akhirnya gue mabok berat dan cerita ke dia.
Dan dalam keadaan mabuk itu kita nyambung dalam segala hal, gue *ena-ena* sama dia dan dia gak jelek-jelek amat, *head*nya mantep.
Setelah gue pergi pertama kali, gue mulai dapat surat dari dia dan sekarang gue di sini, empat bulan kemudian dan misi kedua gue di Trinidad selesai, siap balik ke Kanla.
Cewek baru yang nunggu gue yang gak akan pernah minta lebih dari yang gue kasih. Atau, dia gak gila dan merencanakan kematian saudara gue kayak *Beggar*.
Gue bisa panggil dia *Beggar* sekarang, itu dia yang sebenarnya. Melepas *Kecantikan* itu susah, dan gue rasa gue udah ngelepasin. Gue udah *move on*.
Hidup terlalu singkat, gue gak mau hidup gue berakhir tanpa mapan. Gue udah di umur di mana gue pengen punya anak, gue udah terlalu tua buat omong kosong dan cewek pembohong.
Kalau ada satu hal yang *Quinn* jelasin ke gue adalah dia gak pernah mau jadi cewek simpanan. Dia mau semuanya atau gak sama sekali. Gue hargai itu.
Itu yang akan gue kasih ke dia setelah gue nemuin *Beggar*. *Quinn* cocok, kita sama-sama lebih tua dan lebih dewasa.
Masih gak percaya gue mau pulang, udah lama gak ketemu saudara dan cewek-cewek.
*Quinn* bilang dia bakal ketemu gue di sana minggu lalu pas gue kasih tau beritanya. Dia anggota baru klub kita.
Dia lebih tua dari kebanyakan cewek-cewek kita di chapter Kanla.
"Gue ketemu lo secepatnya, jangan lupa, kasur lo dan bugil."
"Aha, gimana kalau lo yang ke sini dan kita lihat gimana jadinya."
"Ketemu besok."
"*Later*." Kita selesai telepon pas gue denger suara salah satu saudara klub gue,
"Jangan bilang lo lelet, kita harus cepet-cepet jalan, *motherfucker*," *Bor* yang badannya gede masuk ke kamar barak kita sementara suaranya masih menggema di ruangan.
Kulitnya yang gelap kayak cokelat, rompi dan celana lorengnya basah semua kena hujan di luar.
"Lo ngamuk kenapa, lo mau pulang ketemu bini lo?" Gue bilang ke dia pas dia nyamperin gue.
Dia cium pipi gue, yang banyak orang mikir itu aneh tapi kebanyakan anak motor itu kolot gitu, dan *Bor* adalah salah satu anggota paling lama di chapter induk kita di Houston.
Dia gabung beberapa tahun setelah klub terbentuk, empat puluh tahun lalu. Di umur lima puluh enam, orang itu mulai di Satan Sniper di umur enam belas. Ayahnya *Badai*, *Rusuk*, presiden Nasional kita yang baru ngasih chapter induk ke dia baru-baru ini. Ini adalah tugas terakhirnya sama pemerintah.
"Nggak, tapi semoga gue bisa dapat calon istri pas jalan ke Houston, salah satu yang bodoh."
Gue ketawa, "Sialan, lo bakal bikin cewek mana pun kabur begitu lo buka mulut."
"Makanya dia harus bodoh, bener-bener bodoh."
Gue pukul punggungnya, pas anggota lain masuk. Ngambil tas ransel kosong gue dari kasur atas, gue lihat pria botak berotot itu masuk.
Dia mengingatkan gue sama *Banteng*, ya, *Banteng* yang dulu sebelum ceweknya meninggal.
"Yo *Big Z*. Kita semua mampir di Kanla. Semuanya udah di sana. *Sungai* ngenalin ceweknya ke chapter yang lain," gue bilang sambil nyiapin semua barang dari atas kasur gue di tas.
Pas gue sampai di pangkalan gue harus nyari-nyari HP gue. Gue selipin di antara pakaian gue. Belajar gitu pas gue dinas pertama kali dan balik ke sini cuma buat nemuin HP gue rusak, layarnya retak.
Setelah itu gue beli HP murah dan mastiin ada banyak bantalan di sekelilingnya buat mencegah kerusakan parah. Pas anak-anak mulai main, yang ada cuma tinju dan nendangin barang-barang.
"Sial, orang itu gak tau arti kata stabil."
"Woi, jangan ngomong gitu soal saudara, dia kan udah punya anak sekarang, preman kata *Kodok*,"
Gue ngakak pas denger deskripsi ayah gue soal *Jo*.
Nghabiskan beberapa hari sama anak itu pas gue pertama kali balik dari dinas sebelumnya. Dia nyaris meledakin lumbung, dan bikin dampak yang luar biasa ke kita semua.
Gue udah siap buat hajar dia dan *Sungai* sama *Killer* udah siap buat ngasih dia medali kehormatan. Anak itu emang sesuatu, dan nyuri hati *Prez*. Sialan itu sayang sama dia kayak laki mana pun sayang sama darah dagingnya sendiri.
"Kukira *Sungai* benci anak kecil," kata *Pembantaian* pas dia nyamperin kita sama *Trey*. Mereka berdua temen lama dari Detroit. *Pembantaian* meluk *Big Z* duluan.
"Si freak di sini," *Big Z* berteriak pas *Trey* maju buat meluk dia.
Gue resleting tas gue yang udah dipak dan ninggalin di kasur. Ngikutin *Bor* pas dia pergi meluk dua sniper itu.
"Masih mikirin *Nana Sam*?" *Bor* nanya *Trey*.
Dia bukan saudara klub dan alasannya cuma karena kesetiaannya sama neneknya.
Dia masih di umur dua puluhan seumuran sama *Killer* jadi gue kasih dia waktu. Kalau ada satu hal yang gue pelajari pas di angkatan laut, terus di pasukan khusus adalah kita gak bisa lama-lama di dunia nyata.
Aturannya terlalu kaku, masyarakat terlalu penuh omong kosong. Kita perlu dikelilingi orang-orang yang akrab, orang-orang yang ngerti kita.
Tapi gue gak pernah tau cara lain.
Buat *Trey* dia cuma pernah kenal *Nana Sam*.
*Pembantaian* gabung klub beberapa tahun lalu, dan betah di Houston dan jauhin *Killer*. Kalau ada satu orang yang *Pembantaian* hindari adalah *Killer*.
Gue gak nyalahin saudara itu setelah *Killer* nyaris nembak dia. Gak yakin apa yang terjadi di fasilitas pelatihan yang mereka kirim kita ke sana, tapi apa pun itu bikin *Pembantaian* jauh-jauh dari *Killer*.
"Gue cuma punya *Nana Sam*, dia bakal bikin gue gak jantan kalau gabung."
Gue peluk *Pembantaian*, dan kita semua mulai ngobrol.
Empat jam setelah *debriefing*, dan ngisi formulir, akhirnya kita di udara dan dalam perjalanan pulang.
Cuma *Beggar* yang perlu pulang juga. Biar gue akhirnya bisa *move on* dari hidup gue.
Pikiran ketemu dia bikin dada gue sakit, tapi pikiran dia membunuh saudara gue bikin rasa gak enak di mulut gue.
Pertanyaan yang ada di pikiran gue beberapa bulan terakhir ini adalah gimana caranya gue mau menghentikan dia tanpa membunuhnya.
Itu kalau *Killer* gak duluan.
Sebelum gue pergi gue denger *Sungai* dan dia ngobrol, dia bilang, perlindungannya meluas ke *Beggar*, kesetiaannya ke dia adalah kesetiaannya ke klubnya.
*Duri* bukan klubnya, dia adalah perpanjangan kayak *Falon*. Kata-katanya adalah sesuatu yang gak bisa gue lupain karena gue tau dia tau gue denger dan kata-kata itu buat gue. Gue belum yakin kenapa dia bilang gitu, tapi segera gue bakal tau.
*The Ghost* selalu punya rencana.