Bab 21: Pengemis
Nasib yang disegel
Tamparan di pipiku gak keras, tapi dengan memar di rahangku dari pemukulan yang kudapat tadi malam setelah kubunuh salah satu anak buah Lucca, rasanya nyengat banget, kayak tai.
"Lo harusnya lihat gimana dia teriak. Pengemis, pengemis," dia ketawa sambil niruin suara Kylie.
Setiap hari dia nunjukkin video pendek, maksa gue buat nonton apa yang anak buahnya lakuin ke Kylie.
Ini bener-bener bikin eneg. Gue udah ngalamin siksaannya berjam-jam. Buat dia, udah berminggu-minggu.
Gue udah lupa berapa hari yang udah berlalu. Pikiran gue buntu, badan gue lemes karena kurang makan, air, dan rasa sakit yang gue rasain. Tapi gue malah seneng, tahu kalau rasa sakitnya dia jauh lebih parah. Seharusnya gue yang di sana dan dia yang di sini.
Buat Lucca, itu terlalu gampang buat gue.
"Perkosaan," katanya minggu lalu, "adalah sesuatu yang sekali terjadi, yang lainnya gak ada apa-apanya."
Dia gak tahu betapa salahnya dia.
Itu cuma makin sakit.
Setiap kali sedikit jiwamu rontok sampai gak ada yang tersisa.
Gue tahu dia teriak manggil gue.
Waktu dia tidur, dia nangis, mohon gue buat bunuh dia.
Dia pengen mati.
Kylie ada di gudang lain di Washington.
Lucca pikir lucu anak buahnya memperkosa dan menyiksa dia di wilayah Vincent.
Gue pikir itu bodoh. Vincent itu jiwa yang gelap, dia lahir dengan kegilaan yang bikin orang gila jadi waras.
Gue udah lihat sendiri dengan mata kepala gue.
Lucca gak kenal Vincent kayak gue. Dia belum pernah lihat Vincent kayak gue.
Lelaki yang dihantui, dengan jiwa yang terkutuk jauh lebih buruk daripada lelaki dengan jiwa yang mati.