Bab 26: Nol
Masa lalu, sekarang, dan lanjut terus
Aku dan Sungai ngebut di jalanan yang lantainya dari metal tipis dan sempit.
Kita berdua mulai nendangin pintu-pintu. Di pintu kelima, AKU LIHAT dua anggota geng dan dua tembakan langsung bikin mereka KO.
Kita terus lakuin ini sampe pintu terakhir. Kesel banget pas kita gak nemu apa-apa, dan tiga peluru meleset dari kaki gue cuma beberapa inci.
Peluru gue abis, gue pasang peluru baru, muter badan, terus nembak anggota geng botak yang nembakin gue dari bawah gudang.
"Turun, gue liat ada pintu di ujung," Sungai nunjuk ke bawah, di sisi kiri gudang.
Kelihatannya sih pintu terkunci.
Kita lari ke bawah pas peluru berdesir di udara. Tempatnya berasap dan bau mesiu. Anak buah kita, cowok dan cewek, berantem, terus nahan serangan dari mereka berdua, sementara kita nyari Beggar dan Kylie.
Aku dan Sungai sampe di bawah dan ngebut ke pintu pas dua anggota geng muncul entah dari mana dan nembak.
Gue kena di lengan, yang lain kena di kuping.
"Sial," gue misuh sambil nahan napas, terus gue masukin dua peluru ke kepala mereka.
Gue liat Sungai megangin kakinya dan pincang ke arah pintu. Dan gue langsung lega pas liat itu cuma goresan.
Dia nembakin dua gembok, terus kita buka pintunya.
"Beggar." Ruangannya gelap dan kita gak bisa liat apa-apa.
Sungai nyalain lampu dari hapenya, terus kita berdua nyamperin dia. Dia diikat di kursi, mulutnya dibekap. Kepalanya lemes.
Tapi gue gak yakin itu dia atau Kylie. Mereka berdua mirip banget.
Sungai ngegigit hapenya, terus kita berdua mulai ngelepasin dia dari kursi. Gue tau itu dia.
"Dia terlalu lemah, kita harus gendong dia," Sungai ngomong, dan gue gak mikir panjang, langsung angkat tubuhnya yang hampir gak berdaya di lengan gue.
Gue abaikan rasa sakit di lengan gue sambil ngerangkul dia di dada.
Ada sejuta emosi yang campur aduk di otak gue, dan butuh kontrol luar biasa buat gak ngamuk ngeliat kondisinya. Gue bilang ke diri gue sendiri, gue bakal ngerasain hal yang sama buat cewek-cewek kita.
"Lo cek Kylie, gue urus dia," gue bilang ke sang Presiden pas tembakan berhenti.
Gue keluar ruangan sambil gendong dia dan ngeliat lewat asap. Semua musuh kita tewas di tanah.
Tempat jagal yang gak gue sesalin.
Ksatria dan Sekop mulai ngeret sebagian mayat, sementara Setelah ngerawat Banteng yang kayaknya kena tembak.
Pasti selalu ada luka atau kematian, atau keduanya, dalam perang. Hari ini emang gitu, perang. Setidaknya awalnya.
"Kylie gak ada di sini," Sungai teriak dari seberang gue.
Beggar bergerak di pelukan gue, "Kecantikan, Kecantikan, bangun dong."
Matanya kebuka,
"Nol," dia tersedak dan mengerang, "Kylie, di mana sh...ah...shia dia."
Perasaan ringan muncul pas denger nama gue dari suara yang bisa dikenali itu.
"Iya, Kylie, dia gak ada di sini, lo tau dia di mana? TOLONG SAYANG, coba mikir," gue pake tangan gue yang masih bagus buat ngusap pipinya pelan, berusaha bikin dia tetep sadar.
"Washington, di dermaga D.S," katanya sebelum tubuhnya benar-benar gak bergerak.
Gue ulang infonya ke mereka.
"Vincent lagi otw ke sana," Killer ngomong pas dia selesai nelpon VINCENT.
"Ayo gerak, guys," Sungai berteriak dan kita ngebut keluar.
Pas gue keluar, gue ngeliat satu hal yang gak kita pikirin.
"Gimana caranya kita bawa dia naik motor, jaraknya sejam setengah ke rumah sakit terdekat."
Killer maju sama gue dan ngeluarin tali panjang dengan velcro. Dan walaupun malam ini dan kondisi Beggar, gue senyum ke si brengsek.
"Kita gak bakal berhenti di rumah sakit. Ada hotel empat puluh mil dari sini, Rusuk dan Gizbee bakal ketemu kita di sana dan bawa apa yang dia butuhin. Dia buronan," Sungai ngomong, mengingatkan kita tentang apa yang bisa dia lakuin.
Mata gue turun ke dia yang lagi gue peluk.
Dia cantik banget, dan rapuh.
Bibirnya pecah-pecah, darah kering menempel di kulitnya yang bengkak dan pucat. Bulu mata panjangnya merem.
Gimana cewek tinggi kurus ini bisa lakuin apa yang dia dituduhin. Kenapa dia mau bunuh saudara gue?
Pertanyaan-pertanyaan ini ngebuat gue bingung pas ngeliat cewek yang kekeuh nyebut dirinya Beggar.
"Lengan lo parah. Gue aja yang bawa dia, sampe kita sampe sana, Gizbee punya kandang. Lo bisa pake ini," Killer ngejatuhin tasnya ke tanah dan gue tau gak boleh debat. Lengan gue EMANG parah.
Gue kasih dia ke dia dan entah kenapa gue gak bisa ngebiarin tubuhnya yang lemah atau tatapan terakhir.
Bahkan dalam kondisinya sekarang, dia sempurna, sampe gue mikir apa dia yang milih nama Beggar, atau ada entitas yang lebih tinggi berbisik, 'Minta dia'.
Senyum tipis muncul pas gue geleng-geleng kepala dan ngejar pikiran-pikiran aneh ini.
Rahmat nyamperin kita. Dia ngeluarin jarum suntik yang isinya cairan dan nyuntik gue di lengan, deket tempat gue kena tembak.
"Mungkin bisa ngilangin rasa sakitnya sampe kita urus."
Ksatria nyusul kita, dan dia sama Rahmat mulai nali Beggar ke depan Killer. Gabung sama mereka sampe kaki Beggar diikat di tubuh bagian atas Killer dan kepalanya yang lemes di dada dia.
Gak bisa ngontrol diri, gue ngeliatin mereka, dan ngeliat dia bergerak sedikit pas dia dengan mudah ngangkat kakinya ke mesin motor.
Killer ngebisikin sesuatu ke dia dan dia makin ngeratin diri di dada dia. Tindakan itu, bakal selamanya tertanam di otak gue.
Mata dia natap gue yang lagi merhatiin dan kayak gue lagi ngeliat orang yang jauh lebih tua dari gue, bukan saudara gue yang dua puluh empat tahun, tapi Wakil Presiden Nasional.
Gue ngasih dia dagu dan dia ngegas motornya. Yang lain semua mulai. Banteng dan Setelah siapin kita biar Killer ada di tengah kita pas kita ngebut di jalan, ngehalangin Beggar.
Jalanan bebas, ngebasahin rasa sakit di lengan gue dan sensasi terbakar di ujung kuping gue.
Kita ngebut dan rasa sesuatu yang bebas terjadi sama gue pas gue sadar Beggar ada di sini. Dia di pelukan gue.
Punggung gue kerasa aneh dan gue ngebut, ngebersihin pikiran gue dari kegilaan pikiran gue.
Gue punya cewek, gue udah move on.