Bab 9: Pengemis
Kylie Bray ngomong sama gue, gak jelas dia ngomong apa.
Abis itu isinya cuma kilatan-kilatan, beberapa kata kepotong sana-sini.
Kylie, Deno, Marco, Vincent.
Gue gak yakin udah berapa hari gue tiduran di kasur.
Rasanya kurang lama, tapi bisa jadi udah berhari-hari atau berminggu-minggu.
Pagi ngeblur, malam-malam tetep dihantui Lucca sampe Nol muncul di dalamnya, mata bekas lukanya menusuk gue dengan kebencian yang pengen gue garuk keluar dari tenggorokan.
Suatu saat gue ngerasa mereka mengikat gue, itu saat di mana gue pengen mati, akhirnya pergi aja.
Gue terus nyakitin diri sendiri, gue tahu itu karena dia terus teriak ke gue.
Kylie selalu ada, ngomong sama gue, bahkan pas dia mikir gue tidur.
Dia kadang cerita tentang orang-orang terkenal, waktu-waktu dia bikin masalah, perasaannya ke Vincent, dia ceritain semua ke gue.
Tapi yang paling sedih dengan kenangan yang bahagia selalu diceritain tentang cewek namanya Berlian, pas Kylie cerita tentang dia, gue bisa denger rasa sakit di suaranya.
Itu ngingetin gue sama rasa sakit gue pas cerita tentang nyokap gue.
Malam-malam gue habiskan buat dengerin Kylie, belajar lebih banyak tentang dia di waktu-waktu di kasur ini, daripada yang gue yakin gak banyak orang tahu tentang cewek Texas itu, dan pelan-pelan setiap hari tubuh gue sembuh.
Setiap hari gue bernapas lebih lega, dengan pengetahuan bahwa gue aman, bahwa mungkin gue bisa ketemu Nol lagi.
Itu bukan kemungkinan sebelumnya, tapi sekarang, gue bisa bilang untuk pertama kalinya sejak gue kecil dan tahu kalau gue ternyata pinter, gue ngerasain secercah harapan buat hari esok yang lebih cerah.