Bab 3: Nol
Gue tau apa yang dia lakuin, bangsat, dia mastiin kalau gue jatuh, jatuhnya juga ke dia.
Nama itu cocok banget sama pantatnya, Ksatria dan Armor sialan yang bersinar.
Gue ngikutin dia nurunin anak tangga tanpa ngomong sepatah kata pun.
Muka-muka yang gue kenal, saudara-saudara gue dan salah satu cewek kami yang pake emblem, Venus, semuanya ngeliatin gue.
Sekop duduk di belakang kursi gue, tempat gue jalan sekarang, ngasih isyarat dagu.
Ksatria pergi ke sisi lain ruang bawah tanah yang kami pake buat gereja dan berdiri di sebelah Texas.
Texas ngejatuhin topinya dan nutupin mukanya pas Ksatria mulai ngomongin sesuatu sama dia.
Venus mainin rambut panjangnya sambil ngegoda Ular tanpa malu, sementara dia merhatiin Venus sambil mainin tato ular di pipinya.
Semua orang di ruangan ini tau kalau mereka berdua nggak bakal pernah ngeseks.
Ular udah nggak mau lagi sama dia pas tau dia dokter.
Tapi gue nggak nyalahin Venus sih, bro nggak dapet nama itu gara-gara tato, itu udah pasti.
Banteng masih sama kayak dulu, masih meratapi kehilangan istrinya, masih gede dan nyeremin, ngeliatin lantai semen nyari jawaban yang nggak bakal pernah muncul.
Ya, kecuali rokok ganja dan tambahin mata biru sama alis yang luka.
Ya, cowok itu bacot ke Killer.
Killer nggak suka kalau saudara-saudara nggak ngehormatin dia, apalagi kalau dia ngerasa bener dan orang lain salah, (yang emang selalu terjadi).
Sungai geleng-geleng pas ngeliat Banteng dua malem lalu, dan ngebiarin gitu aja, bilang Banteng kena Killer di waktu yang nggak tepat.
Belakangan ini, tiap hari sejak Kecantikan pergi emang waktu yang nggak tepat buat Killer. Semua orang ngehindar dari dia.
Untung dia ngikutin Sungai, soalnya gue nggak yakin kita berdua bakal ngobrol basa-basi.
Perubahan sikap Killer bikin gue mikir, apa bener dia nggak punya perasaan atau emang ada pengecualian kalau soal cewek gue.
Ya, nggak bisa dibilang cewek gue juga sih, secara teknis dia kan punya Lucca.
Dia kan istrinya, sialan.
Pas saudara sedarah gue, Duri ngasih tau gue, gue nggak percaya, itu berita paling buruk yang pernah gue denger saat itu.
Itu bukan cuma hiasan di atas kue, tapi pisau yang motong kuenya.
Killer muncul dari bayangan. Dan ini bukan pertama kalinya dia ngasih tatapan yang bikin merinding.
Bisa berarti seribu hal, tapi kita berdua ngerti maksudnya apa.
Sejak berita tentang Kecantikan dan saudara sedarah gue, Duri, klub udah mulai pecah.
Nggak cuma cowok-cowok masih mikirin ego mereka, tapi sekarang kita udah terpecah.
Kebanyakan dari kita, termasuk gue, pengen Kecantikan ketemu dan dihukum atas apa yang dia lakuin.
Killer dan beberapa orang lain percaya dia nggak bersalah sampai terbukti bersalah.
Bukankah luka yang dia kasih ke saudara gue udah bukti kalau dia bersalah?
Kelihatannya nggak.
National ngirim orang khusus mereka buat bantuin nyari dia.
Sungai itu orang yang datang dari National. Gue nggak pernah terlalu deket sama dia, tapi gue tau Killer dan Ular pernah ikut misi bareng dia.
Dia yang bawa dua anak muda itu ke klub.
Walaupun dia belum bilang dia ada di pihak mana, gue ngerasa dia nyembunyiin banyak hal yang seharusnya kita tau.
Badai masuk, wakil ketua baru kita.
Nggak ada yang masalahin dia pas dia jadi wakil ketua waktu Rounder masih jadi dirinya yang dulu.
Badai emang pemimpin dan mungkin suatu saat dia bakal jadi ketua yang hebat, tapi bukan sekarang.
Satu-satunya masalahnya, nggak ada yang berani nyuruh Rounder mundur selain Killer dan Texas.
Killer udah nyatain pendapatnya dengan lantang, berkali-kali. Texas emang nggak peduli sama politik klub.
Kita yang lain punya 'alasan sampah' emosional kita sendiri, seperti yang dibilang Killer, kenapa kita nggak ngomong apa-apa.
Masalahnya, sekarang klub udah pecah, kita butuh ketua yang solid buat bikin kita tetap sejalan.
Rumah penuh pembunuh yang pengen berantem itu zona yang nggak banget.
Suatu hari nanti, semuanya bakal meledak.
Gue ngerasainnya dalam tulang gue, sama kayak waktu gue ngeliat Kecantikan naik di belakang Badai dan tau kalau masalah bakal datang.
Emang bakal datang, beneran.
Pisau ditancepin Badai di meja. Gereja sekarang dimulai.
'Jadi, apa yang kita punya?' tanya Badai sambil ngeliat Sungai yang duduk di sebelah kiri gue.
Kalau orang nanya gue, gue bakal bilang Sungai dan Badai harus tukeran tempat, bro yang satu ini orang yang kita dengerin.
Sungai agak lebih kecil badannya dari Banteng, tapi cowok itu otot semua, dan mukanya tipe yang bikin lo mikir dua kali.
Mungkin dia kurang jago di urusan kepribadian, tapi nggak bisa bilang dia nggak lucu kadang-kadang.
Dia punya yang gue sebut humor kering. Lo bisa ngertiin atau nggak, tapi lo nggak bakal ngeliat dia senyum.
Ya, gue pernah ngeliat dia ketawa selama sejam waktu dia baru dateng.
Dia lagi nonton rekaman kita kena bogem mentah sama Kecantikan.
Dia dan Killer sama-sama ngerasa itu lucu. Jamin, mereka nggak bakal sesenang itu kalau ada di sana.
Waktu gue tau Sungai yang ngirim kita ke Kanla pas kartel narkoba mutusin buat make tempat ini sebagai tempat pembuangan sampah mereka, gue butuh beberapa saat buat nyerna.
Cowok itu bilang dia udah nggak pernah ke sini selama tujuh tahun.
Dari pengalaman gue sendiri, satu-satunya orang yang nggak pernah pulang selama itu adalah orang yang lagi kabur.
Pertanyaannya, dia kabur ke sesuatu atau kabur dari seseorang?
Apapun itu, gue pengen tau lebih banyak tentang Sersan Atas Nasional kita.
Sungai menghela napas, sebelum dia berdiri dan menghadap kita semua,
'Minggu depan, Outfit bakal ngadain pertemuan bisnis tahunan mereka di New Orleans. Sanati harus hadir, kalau nggak, dia bakal kelihatan lemah. Dengan Deno yang nguasai barisan depan Famiglia, Sanati nggak bisa kelihatan ragu karena istrinya seorang Demarco. Itu buruk buat bisnis. Informan kita bilang kalau rumor istrinya berasal dari Famiglia udah nyebar. Nggak yakin gimana dia mau bikin istrinya tetap sejalan, tapi kita tau dia harus ada di sana.'
'Deno bakal ngobrol sama Capo dei Capi. Nggak ada yang tau pasti apakah Famiglia bakal balas dendam atau mereka berencana melindungi Amariya,' kata Killer ngasih tau kita.
'Jadi, itu cara lo bilang lo berubah pikiran tentang dia?' gue nanya dia sambil dia mundur lagi ke bayangan, sialan.
Ruangan jadi hening, dan gue tetep natep tajam bayangan gelap itu sambil The Ghost mundur selangkah,
'Itu cara gue bilang lo banci,'
Gue ngelempar kursi gue ke belakang sambil berdiri.
Ruangan meledak, Sekop nangkep gue dari belakang dan Sungai maju selangkah di depan gue, nutupin pandangan gue ke Killer.
Nggak ada yang nyentuh Killer, tapi gue harus kasih kredit ke Sungai karena tetep di posisinya pas Killer makin deket ke gue. Mata birunya yang dalam ngeliatin gue kayak belati dingin.
Mukanya--cemberut, kayak gue bikin dia pengen muntah.
Itu cuma bikin gue kesel, sialan.
Gue pengen nonjok dia, bahkan tau gue terlalu emosi buat ngelawan kalau dia mutusin buat mukulin gue.
'Gue bukan orang yang teriak-teriak nama dia di puncak bukit, terlalu emosi buat ngomong bener, jadi jangan duduk dengan pantat mabuk lo mempertanyakan gue pas lo terus bohong ke diri sendiri.'
'Cukup, Killer,' bentak Badai.
'Seseorang harus ngasih tau si brengsek itu, gue nggak ngeliat lo ngelakuinnya, Presiden,' Killer ngeliatin Badai, nggak nyembunyiin rasa nggak sukanya sama situasi yang ada pada ketua kita.
'Killer, cukup,' suara Sungai kayaknya bergema di kepala tebal Killer dan The Ghost balik lagi ke bayangannya.
Kata-katanya nggak ninggalin gue bahkan waktu dia udah nggak keliatan. The Ghost ngawasin, dia ngeliat semuanya. Gue selalu cocok jadi penegak hukum karena alasan yang sama, tapi The Ghost nggak pernah ngomong kecuali dia punya rencana.
Itu sesuatu yang gue pelajarin tentang Killer. Dia selalu punya rencana. Setiap kata, setiap gerakan dibuat karena suatu alasan.
Gue natap bentuk bayangannya, pikiran gue tertuju pada apa sebenernya yang dia rencanain.
Gereja berlangsung selama setengah jam lagi saat kita ngomongin soal nyari Kecantikan dan pembukaan Klub kita.
Yang rupanya Daisy Jane, pemilik klub lain dan juga sepupu Sungai, nggak terlalu seneng soal itu.
Gue dengerin beberapa bagian di sana-sini, tapi kebanyakan waktu pikiran gue fokus ke The Ghost.