Bab 4: Pengemis
Monster Pribadi Milikku
Ceritaku nggak pernah jadi milikku sendiri, selalu punya orang lain, orang lain yang jadi pusat perhatian.
Aku- Selalu jadi orang yang lewat doang.
Nggak banyak orang yang tahu ceritaku.
Kebanyakan nggak pernah nanya.
Maksudku, ngapain juga mereka nanya? Gue kan cuma pengemis di jalanan.
Gue cewek dekil kurus, kurus banget.
'Pasti dia pecandu narkoba,' kebanyakan orang bilang, 'pelacur'.
Berapa banyak dari mereka yang beneran mikirin kebenarannya, gue laper.
Berapa banyak yang berhenti dan nurunin jendela otomatis mobil mereka dan beneran ngasih gue lima puluh sen, atau satu dolar? Nggak banyak.
Karena gimana mungkin gue bisa laper. Orang-orang ngelihat gue sebagai pecandu narkoba pelacur yang mereka mau lihat.
Nggak ada satupun dari mereka yang berhenti dan mikir kalau gue dulu pernah jadi anak kecil, lahir dari seorang ibu, polos dan bersih kayak mereka.
Telanjang kayak mereka. Nggak, karena dunia menghakimi. Kita dikategorikan biar cocok sama pikiran naif orang.
Dan gue, cewek kurus kelaparan ini dikategorikan sebagai pelacur, pecandu narkoba, dan semua omong kosong menjijikkan lainnya yang orang-orang pikirkan dan tujukan ke gue.
Ngejelasin ke anak-anak mereka gimana caranya para pecandu jalanan ini bertahan hidup, nakut-nakutin mereka dengan kebohongan buat membenarkan kejahatan pikiran mereka sendiri. Itulah yang orang-orang lihat pas mereka ngelihat gue, Pengemis.
Yah, setidaknya mereka dulu ngelihat gue begitu.
Beberapa bulan lalu, gue ketemu sekelompok anak motor. Mereka nyebut diri mereka Satan Snipers.
Gue nyelamatin putri mereka, Falon, dengan ngebunuh dua cowok yang mau nge-rape dia.
Si Penegak klub, Nol, bawa gue bareng mereka malam itu.
Hidup gue berubah DARI malam pertama itu. Gue mandi air panas, punya kamar sendiri, dan tiga kali makan sehari.
Hidup itu luar biasa.
Badai, Wakil Presiden, dan gue jadi temen deket.
Ksatria, Sekop, dan Ular jadi guru gue. Mereka ngajarin gue berantem, ngasih gue kesempatan buat jadi kayak mereka.
Mungkin mereka nggak tahu kalau gue udah jadi senjata mematikan. Pembunuh buronan dengan beberapa target di punggung gue dan hadiah buat kepala gue yang gede banget, kadang bikin gue mikir kenapa gue nggak nyerahin diri aja.
Tapi hidup nggak pernah jalan kayak gitu buat gue, bahkan mati pun terlalu gampang akhir-akhir ini.
Killer, satu-satunya di Klub Satan Sniper yang ngelihat gue apa adanya sejak hari pertama- Seorang wanita tanpa jiwa, nggak pernah berkedip sama sekali soal siapa gue.
Dia jadi sesuatu dalam hidup gue, sesuatu yang bikin gue mempertanyakan hal-hal yang nggak pengen gue pertanyakan. Dan Nol, si Penegak yang punya bekas luka dan nyeremin dari Klub Motor Satan Sniper, dia adalah cowok yang memiliki bagian terakhir dari diri gue.
Dia ngambil potongan terakhir dari kemanusiaan yang ada di diri gue, gue nggak punya kesempatan sama sekali.
Nol bikin iblis-iblis gue bisa ditoleransi dengan kata-kata yang gue tahu nggak akan pernah dia tepati.
Dia adalah orang yang maksa udara masuk ke paru-paru gue pas gue lupa napas. Dia meluk gue pas cuma sentuhan doang udah terlalu deket sama neraka.
Nol ngajarin gue hidup, sesuatu yang gue lupa masih gue punya, dan untuk waktu yang singkat itu gue pura-pura bisa jadi miliknya.
Sekarang dia benci gue, dengan alasan yang bagus, yang nggak bisa gue salahkan.
Dia mikir gue tahu kalau adiknya adalah adiknya. Dia mikir gue pake dia buat ngebunuh adiknya, Duri.
Nol percaya kalau gue akan ngebunuh adiknya.
Dan meskipun kebanyakan dari apa yang dia pikirkan salah, bagian yang paling penting dari itu adalah kebenarannya- Gue akan ngebunuh Duri.
Bukan karena gue pembunuh gila kayak yang mungkin dipikir Klub Motor Satan Sniper, tapi karena gue nggak punya pilihan.
Gue harus lakuin itu buat dia.
Ada hari-hari di mana gue mikirin mereka semua- The Satan Snipers.
Mereka ngebuka rumah mereka buat gue, nerima gue, ngelatih gue.
Untuk sementara gue sebahagia yang gue bisa.
Semuanya kelihatan lebih baik.
Jauh lebih baik.
Sampai-sampai gue lupa kalau monster yang menghantui gue bukan cuma monster tapi seorang pria yang nggak akan berhenti buat dapetin lagi miliknya- Gue.
Dia bukan cuma monster gue, dia juga suami gue dan Bos dari Outfit.
Seorang pria yang bersedia ngelakuin apa pun buat dapetin gue lagi, dan dia melakukannya.
Dia nyulik dua wanita dari Satan Sniper.
Gue tahu apa yang akan dia lakuin ke mereka dan dia tahu gue tahu.
Gue nggak bisa biarin itu terjadi.
Maksud gue adalah pergi dari Klub dengan tenang tapi itu nggak berjalan sebaik yang gue mau. Tapi kapan sih ada yang berjalan sesuai yang gue mau- nggak pernah.
Jadi gue nuker diri gue sama wanita-wanita itu dan ngasih diri gue ke monster yang udah familiar buat gue. Suami gue, Lucca Sanati.
'Amariya,