Bab 24: Pembunuh
'Cari anak cewek gue, Kevin.'
'Siap, Bos,' kataku ke telepon sebelum matiin panggilannya.
Marcus Bray itu orang yang gue hormati. Orang yang punya koneksi di tempat-tempat yang bahkan saudara laki-laki gue, Michael, gak punya, dan dia temenan sama Presiden.
Tiga minggu kita udah nyari Beggar dan saudara cewek gue.
Gue lagi di ujung tanduk.
Badan gue kayak minta banget buat ikut aksi balas dendam yang lagi dilakuin Vincent buat nyari Kylie.
Pilihan terakhir gue adalah Marcus Bray, bokap Kylie. Seminggu lalu gue nemuin dia di Penthouse-nya, gue kasih tau dia yang sebenarnya, gak peduli sama keberatan Vincent dan Michael.
Dan bener aja, dia bantu.
Gue natap alamat yang gue tulis di telapak tangan, terus gue lihat semua saudara laki-laki gue dan cewek-cewek kita yang udah siap buat ngebunuh.
'Kita punya alamat,' teriakku ke mereka semua dan ruangan langsung dipenuhi semangat balas dendam.
Malem ini kita bakal tumpahin darah. Malem ini kita bakal kasih Penghakiman dan tiket sekali jalan ke Setan dan neraka terdalamnya.
'Malem ini kita lakuin apa yang emang udah jadi tugas kita. Kita gak ngerasa, kita gak ngomong, kita kasih balas dendam. Kita kasih mereka kematian, gak ada yang selamat. Ngerti!' teriakku ke cowok-cowok dan cewek-cewek di ruangan itu. Ngamatin ekspresi mereka yang udah gak sabar.
'Siap, Bos,' teriak mereka, berdiri dengan tangan di belakang.
Gue ngerasain sesuatu. Kebanggaan. Mereka ini prajurit, bener-bener.
Nol kepikiran, dan gue langsung nge-text dia, ngasih alamatnya dan nyuruh dia nyusul kita.
Dia udah nyari ke mana-mana, keliling berhari-hari tanpa istirahat. Dia bales, ANJIR, GUE KESANA DALAM BEBERAPA JAM.
Sungai maju, gue masukin hp ke kantong, ambil posisi di belakang dia.
'Waktu gue PERTAMA kali nginjekin kaki di Kanla Chapter, gue tau kalian semua Special Op's dan Militer. Operasi terbaik pemerintah kita. Dulu gue cuma tau itu bener buat beberapa orang doang. Hari ini gue berdiri di sini dan jadi saksi atas pengetahuan itu. Ayo JALAN.'
Ruangan meledak dalam kilatan saat semua orang siap-siap. Tumpukan pistol tersembunyi di balik TV dan yang lainnya di brankas dinding mulai keluar.
Gue jalan ke rumah dan ke kamar, ambil senapan sniper gue, tiga pisau pemburu hitam, dan sekotak amunisi.
Gue masukin semua itu ke tas hitam gue dan resletingnya, ikat di punggung, dan gue nerima kehampaan yang gue rasain.
Kekosongan The Ghost.