Bab 6: Pengemis
Enam tahun lalu
Jalanan di Washington lagi sepi banget sekarang, lebih dingin dari beberapa malam pas gue kejebak tidur di sungai.
Gue benci tidur di tempat sialan itu.
Kaki gue sakit pas jalan ke klub yang disuruh si pelacur Patricia.
Dasar jalang, jangan buang-buang waktu gue, ya. Gue baru enam belas tahun, nggak punya pendidikan, nggak punya kerjaan sialan.
Gue hidup di jalanan, nggak punya baju hangat, nggak punya makanan, sial, gue bahkan nggak tahu kapan terakhir kali gue sikat gigi sebelum hari ini. Caranya aja udah nggak asing lagi buat gue. Bakalan gitu kalau gue nggak sekolah pas masih kecil, berhasil naik kelas enam sebelum hidup jadi kacau dan ibu gue meninggal karena kanker.
Waktu umur dua belas tahun, gue dibuang ke sistem kayak anak nggak jelas yang gue jadiin.
Gue bilang ke pekerja sosial kalau gue nggak mau pergi, tapi pilihan lain apa yang gue punya – nggak ada, itu yang mereka pikirin.
Gue diem aja dan nerima nasib buruk yang gue dapat dan ngejalaninnya beberapa minggu.
Kena sial sama sekumpulan anak paling nyebelin yang pernah gue kenal. Gue pikir anak-anak yang dekil di sekolah udah parah.
Janet, yang waktu itu pekerja sosial gue, cewek Afro-Amerika yang mungkin makan buat tiga orang setiap hari, ngebuktiin kalau gue salah pas dia bawa gue ke rumah itu.
Kecuali Ally, kasihan banget anak itu, kadang gue mikir dia gimana kabarnya, berakhir di mana.
Anak-anak lain di rumah itu adalah sekumpulan remaja yang berantakan.
Luke udah jual ganja. Gill dikeluarkan waktu umur tiga belas tahun karena nusuk guru di tangannya, tapi bahkan mereka kayak malaikat dibandingkan sama ayah asuh, David Fucking Dale.
Bajingan itu ngambil dari gue, dia perkosa gue di meja dapur.
Gue ambil pembuka kaleng dan iris lehernya.
Rasanya enak banget pas gue ninggalin bajingan itu berdarah di tanah.
Terus gue lari, gue nggak berhenti lari sampai gue ada di kamar mandi di stasiun kereta.
Balik lagi ke jalanan dan inilah gue, enam belas, masih pengemis. Nggak ada mimpi, nggak ada rencana, cuma ngejalanin apa yang hidup kasih ke gue.
Ya, mungkin nggak terlalu buruk, gue udah mulai cari kerjaan yang terkenal itu.
Udah keliling kota beberapa minggu terakhir ini, nyari di semua tempat yang bisa gue temuin. Nggak ada yang nerima.
Katanya gue butuh alamat rumah jadi gue pakai alamat dari daerah Washington yang lebih bagus, berharap itu bisa ubah pikiran mereka.
Patricia ngasih tahu gue tentang kerjaan di klub namanya Bulls-Eye, jadi inilah gue jalan kaki sembilan belas blok.
Nggak ada makanan di perut gue, nggak ada air buat ngilangin haus.
Ketiak gue udah keringetan padahal dingin.
Setidaknya gue mandi di sungai, itu yang terbaik yang bisa gue dapet. Nggak mungkin gue jalan ke stasiun kayak kebanyakan gelandangan di sini.
Gue punya kenangan buruk tentang stasiun. Kenangan buruk tentang banyak tempat.
Nggak peduli air sungai itu dingin banget, dan gue kena radang dingin di pantat gue. Nggak peduli kalau kakek-kakek yang tidur di bawah jembatan lihat gue telanjang.
Ada rasa damai dalam kegelapan, sebuah kelegaan.
Ibu gue benci itu, tapi ibu gue benci hampir semua hal.
Nggak pernah lihat dia senyum kecuali salah satu senyum palsu yang dia simpan buat orang-orang yang ngasih dia se-dollar.
Udah banyak waktu berlalu dan perut gue keroncongan dengan cara yang familiar yang udah biasa gue rasain pas gue lihat tanda – Bulls-Eye. Itu tempat striptis mewah buat kalangan atas.
Pas gue makin deket, gue lihat cowok-cowok kaya dengan jas tiga potong mewah mereka masuk.
Gue nggak perlu sekolah buat tahu kalau cowok-cowok itu orang jahat. Ini bukan pertama kalinya gue lihat orang kayak gitu.
Ayah gue salah satunya.
Gue jauh lebih muda pas gue nyari dia, itu pertama kalinya gue lihat dia.
Dan gue harap nggak ketemu dia lagi.
Gue jalan ke penjaga di pintu, cowok botak Italia itu tinggi dan murung. Gue nunggu giliran lebih lama di antrean dan gue kasih kartu identitas gue ke dia.
"Hai, gue di sini buat kerja," kata gue dengan suara keras dan jelas.
Dia lihat kartu gue terus ke gue.
Cowok itu natap agak lama ke Sepatu Kets angkatan laut gue yang udah bolong-bolong.
"Katanya lo enam belas tahun, kita nggak nerima anak kecil, balik lagi kalau udah gede."
"Apa," gue teriak, kesel pas dia dorong kartu identitas gue dan manggil orang selanjutnya.
"Bocah, minggat dari sini, ini bukan tempat buat anak kecil."
"Patricia nyuruh gue ke sini, gue pakai semua uang gue buat bikin KTP bodoh ini buat cari kerja."
"Permisi," Suara cowok lembut terdengar dari belakang gue dan gue noleh buat nyuruh dia minggat.
Gue kaget pas mulut gue kebuka dan gue lihat wajah tersenyum di depan mata gue.
Rambutnya dipotong pendek, wajahnya bersih banget, kulitnya bersinar.
Gue buka mulut gue dan nutupnya lagi. Pikiran buat ngomong apa aja, bisu pas gue natap takjub ke cowok ganteng ini.
"Halo, Jadi cewek cantik kayak lo ngapain di tempat sampah ini," kata-katanya gampang keluar, dia senyum, senyum ke gue.
Kayak dunia gue udah nggak ada.
"Ah, gue.. gue... E... datang buat kerja," gue nunduk pas ngomong ke dia.
Suara malu-malu gue bergumam dan gagap yang cocok sama emosi gue sekarang, sama cowok ini di depan gue.
"Lo punya nama?" Dia nanya, dan entah kenapa gue natap mata cokelatnya pas gue jawab,
"Amariya."
"Senang bertemu Amariya, lo orang Italia, cantik, nama gue Lucca Sanati."