Merindukanmu Bagian 2
"Tenang, dong," kata Alanis sambil ngambil bantal lagi dan ngelemparnya ke muka dia.
"Aku mau pulang!" Teriak dia.
Alanis nanda tanganin dokumennya terus dirapiin lagi, dimasukin ke map, terus ditaruh di meja di samping dia. Dia ngelempar bantal ke kasur dan nyamperin dia.
"Gimana kalo kita keluar buat belanja atau minum teh panas?"
"Nggak. Aku mau pulang," katanya sambil nyilangin tangannya.
"Ini rumah kamu sekarang," Dia berlutut di depannya dan ngelus pahanya yang nggak ketutupan. Terus nyium kulitnya yang nggak ketutupan. "Ini istana kamu dan kamu ratunya," Dia gendong dia ke kasur, ngebuka kakinya, dan mulai nyedot tombol sensitifnya.
"Ohh," Dia muter matanya dan ngelus rambutnya.
Dia merhatiin ekspresi dia pas dia pake lidahnya buat nunjukkin cinta dan gairahnya ke dia. Dia ngedesah dan bilang ke dia kalo dia udah deket. Jadi, dia pake jarinya dan ngusap titik G itu. Dia menggigil dan suara indahnya pas dia mau keluar. Jadi, dia pake jempolnya buat mijat klitoris sensitif itu pas dia nyemprot.
Setelah orgasme dahsyat yang dia alami, dia nurunin celana tidurnya dan masukin dia tanpa ngomong apa-apa. Dia agak kaget dan masih berusaha buat pulih dari orgasme dahsyatnya.
"Hmm!" Dia gigit bahunya dan ngebales dorongan dia. Dia mengerang dan dia nyium telinganya. "Aku mau denger kamu mengerang lebih banyak lagi."
"Ahh…" Itu malah bikin dia horny, dan argumen satu sisi mereka jadi bercinta penuh gairah. Dia kedengeran seksi banget pas dia mengerang dan nyampur sama erangan kayak alpha yang seksi.
***
Moira natep Alanis pas dia tiduran di kasur dan senyum ke dia dengan menawan.
"Cih," Dia ngebelakangin dia. Dia merangkak ke dia dan nyium bahunya.
"Gimana kalo naik kuda? Aku belum nunjukkin kamu sekeliling Kerajaanku?"
"Iya, terserah deh."
Dia gendong dia dan bawa dia ke lemari pakaian yang mana setengahnya dipenuhin sama baju dia dalam berbagai jenis buat acara yang beda-beda.
"Aku harus mandi dulu."
"Aku yang mandiin kamu," Katanya menggoda dan dia tau bakal berakhir di mana.
Jadi, setelah beberapa tindakan menggoda di kamar mandi, mereka dandan buat musim dingin dan naik kuda. Dia kagum sama pakaiannya. Dia keliatan sempurna di setiap pakaian. Dia ngeluarin hpnya dan foto dia. Dia bergaya dikit terus dia turun ke bawah dan meluk dia kayak gurita.
"Aku baru aja beli kuda buat kamu," Katanya.
"Oh, kenapa beli kuda?" Dia nanya dan loncat dari dia.
Dia berhenti sebentar dan ngelirik sekretarisnya yang terus merhatiin mereka 24/7. Dia nggak ngomong apa-apa sama sekali dan kayak dia kamera CCTV. Dia megang tangan Alanis dan melilitkannya di sekelilingnya. Dia dengan sukarela ngencenginnya pas mereka jalan keluar, dan mobil golf udah nunggu.
"Kamu nggak kedinginan?" Dia nanya. Dia ngambil jubah bulu berkerudung dan naruh di dia, ngiketnya, terus naruh kerudungnya di atas kepala.
"Aku baik-baik aja." Dia nyesuainnya dan nyamperin mukanya, jinjit, dan nyium bibirnya dengan penuh gairah. Dia bales secepat bibirnya nempel di bibirnya.
***
Setelah naik kuda, Moira dan Alanis ninggalin istana buat pergi ke suatu tempat buat makan malam romantis. Dia pake penutup karena lagi salju di negaranya. Dia pake kaus kaki tebal dan sepatu bot musim dingin, terus sarung tangan.
Dia tetep megang salah satu tangannya di dalem jaketnya buat ngehangetinnya pas mereka jalan di sudut jalan sampe ke hotel. Akhirnya, di dalem anget. Dia buka mantel bulunya dan ngasih ke dia. Alanis dengan sopan ngasih ke tukang antar dan buka juga mantelnya.
"Menunya apa?" Dia nanya dan ngusap perutnya.
"Kejutan," Dia bergumam di telinganya dan ngebantu dia buka sarung tangannya.
Mereka nyampe lantai dua di ballroom yang luas, ada musisi di panggung mainin jazz dan meja mereka ada di tengah-tengah banget. Alanis narik kursi buat dia dan dia duduk dengan anggun. Terus salah satu tukang antar narik kursi buat dia dan dia duduk dengan anggun dengan cara yang maskulin.
Dia senyum dan merhatiin dia.
"Ratu ku, merhatiin aku kayak gitu bikin aku pengen makan kamu," Katanya dengan cara yang sangat tenang dan menggoda. Dia cekikikan dan nyamperin kakinya di bawah dan ngelus-ngelus pake sepatunya.
Dia ngelirik dua tukang antar nuangin anggur yang sama ke gelas mereka. Dia nyamperin gelasnya dan berterima kasih ke tukang antar.
"Jadi, kita mau check-in ke hotel ini?"
"Kalo kamu mau, kenapa nggak?" Dia ngedipin mata. Appetizer mereka disajiin dan dia makan sedikit terus hidangan utamanya selanjutnya.
"Jadi, sekretaris kamu tinggal di istana kamu?" Dia nanya.
"Iya, dia di sayap barat…"
"Tuan Wales ada di sayap barat," Katanya.
"Uhuh."
"Aku cuma mikir kalo mungkin sekretaris kamu punya perasaan romantis ke kamu. Apa dia nggak?"
Alanis ngeliatin dia terus ke piringnya.
"Maksud kamu apa?"
"Sekretaris kamu dengan aksen Inggris yang bagus. Apa kamu pernah malem intim sama dia?"
Dia mikir sebentar terus ngegeleng.
"Nggak tau sih. Aku nggak tidur sama bawahan aku." Dia ngerasa agak aneh dia nanya tapi bagus juga. Itu berarti dia mulai ngerasa memiliki dia dan dia suka. "Jangan cemburu, cintaku. Kamu satu-satunya ratuku dan cinta dalam hidupku."
"Oke," Dia bilang santai dan motong kalkunnya. "Tapi apa kamu yakin kalo aku satu-satunya yang kamu suka?"
"Seratus-satu persen positif."
"Hmm. Gimana kalo kamu nemuin orang lain? Atau liat orang lain yang lebih dari aku?" Dia nanya lagi.
"Ya, itu nggak bakal terjadi. Aku cinta kamu apa adanya dan hal lain nggak penting buat aku. Aku udah jatuh cinta sama kamu pertama kali aku ngeliat kamu."
Dia diem sebentar terus mereka lanjut makan dan dia ngomongin topik yang beda-beda dan apapun itu.
Selama makan malam romantis itu, Moira ngerasa kayak cuma makan malam biasa sama dia. Rasanya enak dan dia nggak mau kayak fantasi yang begitu nyata. Yang dia mau sederhana, obrolan santai dan sesuatu yang lucu buat diobrolin. Nggak perlu penuh kejutan dan banyak orang yang ngelamar di area ini. Dia cuma ngerasa merinding.
Dia cuma berharap Alanis nggak bakal ngelamar di area kayak gini.
"Dan buat makanan penutup?" Dia nanya.
"Makanan penutup, dong." Dia bilang. Alanis manggil tukang antar, ngasih isyarat kalo mereka udah siap buat makanan penutup. "Selesain ini cepet. Aku mau jalan-jalan."
Mereka jalan-jalan di London dan terus, di jembatan, mereka nontonin lampu kota dan dia, di sisi lain, megang tangannya erat.
"Aku mau kamu resmi jadi milikku," kata Alanis. "Aku mau kita tinggal bareng. Aku nggak mau terus-terusan kangen kamu setiap hari kamu jauh dari aku mikir kalo kamu mungkin dalam bahaya."
Moira kaget. Dia tau mau ke mana ini.
"Alanis…"
"Moira, meskipun mungkin satu sisi aku bakal selalu milih kamu. Kamu nggak harus bilang iya sekarang, cuma buat sama aku. Aku bisa nunggu sampe kamu siap." Dia buka sarung tangan dari tangan kirinya dan ngeluarin kotak. Dia nyium tangan hangatnya dan dia berlutut. "Jadilah Ratu ku dan aku akan selamanya jadi Raja mu."