Ramalan Bagian 1
Zachary ngangkat telepon dari istrinya pas lagi nyetir Audi-nya.
"Ya, sayang? Kenapa kangen banget sih sama aku?"
"Kamu lagi nyetir apa?" tanyanya cepat.
"Aku lagi nyetir salah satu Audi kamu. Mobilku harus ganti oli, terus ada yang nyangkut di mesin. Aku nggak ngecek mobilnya, udah lama juga nggak dipake. Jangan khawatir, istriku, aku bakal nyampe kok."
"Kamu dalam bahaya. Buka lokasi kamu, sekarang juga."
"Oke." Karena ponselnya ada di holder, dia langsung buka dan kasih tau lokasinya.
"Jangan matiin teleponnya."
Terus, cuma dalam sedetik, dia udah denger suara motornya kayak lagi ngebut.
"Santai aja, Andy-baby. Aku baik-baik aja kok."
"Kamu nggak baik-baik aja. Lihat ke belakang kamu."
Dia benerin kaca spionnya dan liat ada mobil yang ngikutin. Dia nggak bisa liat orangnya, jadi dia geser dikit biar orang di belakangnya bisa lewat, tapi mobilnya nggak mau. Akhirnya, dia ngegas buat nambah kecepatan.
Mobilnya nambah kecepatan. Tikungan di jalan lumayan buta dan zig-zag. Ini cara paling bagus buat pembunuh buat ngebunuh dia. Karena dia tau jalannya, dia ngebut lagi dan nggak nyangka dia bakal mulai nembak pake satu tangan pake pistol 9mm. Kena spion samping.
Dia agak nunduk dan ngintip di spion. Dia nambah kecepatan dan orang itu juga, sampe akhirnya nabrak bagasi mobilnya. Dia agak hilang kendali dan dia berusaha nggak nabrak langsung ke jurang. Dia fokus dan ngintip ponselnya.
"Zach?"
"Sayang, hati-hati nyetirnya ya? Oke? Aku cinta kamu." Dia ngelebihin batas kecepatan Audi dan meskipun ada tikungan buta, dia mastiin dia ada di jalur yang bener. Dia ngintip di spion dan dia ngeluarin pistol lain. Zachary ngelepas sabuk pengamannya dan siap buat apa aja yang terjadi.
Zachary liat momen yang sempurna buat mati di mata si pembunuh. Dia ngurangin kecepatan dan orang itu nabrak dia dari belakang. Dia nggak nginjek rem dan cuma belokin setirnya ke jurang terus nginjek rem.
***
Andromeda cuma satu kilometer lagi pas dia denger suara kecelakaan dari headset helmnya. Di tikungan lainnya, dia liat mobil kecil itu lari ke jurang dan orang dari mobil lain keluar dan ngeliatin Audi mulai jatuh.
Matanya makin ganas dan dia ngambil Battuta terus mukul ke udara sampe memanjang, terus dia pukul orang itu tepat di kepala. Dia berhentiin motornya dan muter balik. Dia turun dan ngeliatin Audi jatuh.
"Zachary!" dia teriak. Dia terus ngeliat sekeliling dan terus nyampe di tepi jurang.
Pikirannya kosong dan berantakan. Dia nggak bisa hidup tanpa dia.
"Zachary…" Dia hampir ngejatuhin dirinya sendiri ke jurang buat mati bareng dia, tapi ada tangan yang ngeraihnya.
"Aku di sini." Zachary meluk dia dari belakang dan dia sesenggukan. Dia narik dia dari jurang dan ngeraih wajahnya.
"Kenapa kamu nggak bawa bodyguard?!" dia teriak ke dia.
"Sayang, mereka butuh liburan sama keluarga mereka. Aku cuma nganterin hadiah."
Dia masih nangis sambil ngeraih lengan yang memar dan ada luka kecil di wajahnya. Terus dia melotot ke Nicholas yang nggak sadar. Dia melangkah ke dia dan masih pake Battuta-nya, dia pukul lengan dan perutnya. Zachary meluk dia buat nenangin dia.
"Nggak apa-apa. Aku baik-baik aja." Dia cium pipinya cuma buat nenangin dia. Andromeda dorong dia dikit dan pergi ke motornya buat ngambil tali.
Dia bawa talinya buat ngiket pergelangan tangannya dan ngiket kedua tangannya ke belakang terus mata kakinya. Dia nelpon anak buahnya buat bantuan dan ambulans. Dia nggak puas cuma ngiket orang itu dan dia mukul hidungnya.
Dia buang napas dan ngehadap suaminya dan ngeraih wajahnya yang memar. Zachary ngapus air mata itu dan cium keningnya. Andromeda khawatir banget dan marah banget saat itu. Dia harus nenangin dia, jadi dia meluk dia sampe tubuhnya nggak lagi dalam adrenalin dan dia nggak gemeteran.
"Kamu yakin kamu baik-baik aja?" dia nanya dan ngerobek bajunya buat ngecek kalo ada yang berdarah. Nggak ada apa-apa, cuma memar.
"Iya, aku baik-baik aja."
Dia buang napas dan meluk dia erat-erat. Andromeda ketakutan banget tadi dan dia hampir kehilangan dirinya lagi setelah dia liat gimana Audi-nya hancur sama mobil lain. Meskipun mereka ada salah paham dan nggak mulai dengan baik, dia cuma ngasih hatinya ke dia dan dia bakal langsung mati kalo dia kehilangan dia.
Dia terus ngawasin Nicholas sambil nunggu bantuan. Nggak lama kemudian bantuan mereka datang pake helikopter. Mereka bawa Nicholas dan bawa dia ke mobil lapis baja terus helikopter bawa mereka ke rumah sakit buat ngecek dia dari memar dan dia maksa buat nge-MRI dan X-ray yang overacting.
Tapi dia cuma mau mastiin dan suaminya nenangin dia. Di depan semua orang, dia kuat dan dia nggak pernah nunjukin kelemahan meskipun istrinya hampir mati. Zachary ngegenggam dia saat mereka pulang. Dia masih marah dan emosi campur aduk bikin dia gila.
"Sayang, aku baik-baik aja." Dia bawa dia ke kamar tidur mereka dan biarin dia mandi pake spons buat dia. Terus setelah itu, dia ngelempar handuk ke lantai dan dia nyemplungin wajahnya ke dada dia dan mulai sesegukan. Tangisannya kayak menghancurkan dia perlahan.
Zachary hampir mati dan kalo dia nggak pake otaknya buat bertahan hidup, dia juga bakal hilang. Sama kayak sebelumnya. Dia nyesel semuanya, mulai dari ninggalin dia dan nyoba buat lupain dia. Faktanya, meskipun dia punya banyak pacar setelah dia selesai hubungannya sama dia, dia nggak pernah lupain dia selama dua tahun. Dia juga mati perlahan, dan pacar-pacarnya benci dia setiap kali dia nyebut nama dia.
Di sekitar rumahnya dan bahkan kantornya, dia berfantasi tentang dia setiap malam dan dia nangis setiap malam setiap kali dia mimpi tentang dia berdarah banyak. Dia selalu mikir ke dirinya sendiri kalo dia nggak cukup buat dia. Sekarang, dia ngerti kalo alasan-alasan itu cuma alesan karena dia brengsek dan dia takut kehilangan dia secara fisik.
"Udah, aku nggak bakal pergi lagi. Aku minta maaf."
Dia nangis lebih keras dan butuh beberapa menit buat dia berhenti nangis dan sekarang dia cegukan. Dia ngeraih segelas air dan nyuruh dia minum. Dia ngumpulin rambutnya dan ngiketnya. Dia atur AC terus bantu dia ngelepas bajunya terus dia ngeraih handuk bersih dan ngelap keringatnya.
"Jangan tinggalin aku, oke?" katanya.
"Nggak bakal." Dia cium keningnya terus pergi ke walk-in closet dan milih lingerie sutranya terus dia pakein ke dia. Dia matiin lampu terus dia meluk dia dan mastiin dia bakal tidur dengan mimpi yang indah.
"Zach."
"Ya, sayang?"
"Aku bakal mati kalo kamu mati."
"Sayang, tolong hidup buat aku ya? Nggak peduli apa pun."
"Hidup juga buat aku…" Dia ngeraih wajahnya. "Aku cuma ngasih segalanya buat kamu dari awal. Pas aku bilang aku cinta kamu, itu awal aku ngasih hidupku ke kamu."
"Aku minta maaf sayangku. Karena aku ninggalin kamu…"
"Aku ngerti kamu takut. Aku udah maafin kamu. Kali ini, itu nggak bakal terjadi lagi." Dia bersumpah.
"Aku tau sayangku…" Dia cium keningnya. "Pertama kali aku liat kamu, aku tau ke diriku sendiri kalo kamu orangnya. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Andy. Dua tahun jauh dari kamu, kayak hidup di jurang."
"Zach… hati dan jiwa aku cuma milik kamu." Dia cium hidungnya. "Tubuh dan hidup aku ada di tangan kamu."
"Aku tau…" Dia bergumam. "Aku udah ngegenggam tubuh kamu."
Dia nyengir. Dia cekikikan dan meluknya lebih erat.