Interogasi Bagian 2
Edmond ngeliatin putrinya keluar dari rumah. Cepet amat? Apa yang dia sembunyiin? Ada apa sih sama dia? Pernikahannya sama Paula bakal berakhir dan putri mereka udah gede. Kadang, dia mikirin Kathleen, apa dia beneran putrinya. Tentu aja, dia sayang sama Kathleen tapi, kenapa rasanya kayak semua ini bohong?
Dia naikin motornya keluar dari perumahan dan pergi ke Golden Haven's Memorial, tempat orang-orangnya bilang dia nemuin Erin. Hatinya berat banget tapi, dia tetep dateng ke pemakaman dan nemuin Monumen Tanda Naga dikelilingi taman yang indah.
Pintunya dikunci tapi bahannya kaca. Dia ngintip ke dalem dan ngeliat lukisan Erin yang cantik banget, kayak dia nggak pernah tua. Hatinya mencelos pas dia terus-terusan ngeliatin Erin. Rasanya kayak Erin masih hidup. Gimana bisa kayak gini? Kenapa setiap cewek yang dia sayang meninggal?
Ibu yang hebat. Orang yang hebat. Aku bakal selalu sayang kamu dan kamu selalu ada di hatiku. --Moira.
Itu diukir di plakat marmer. Berarti dia punya putri. Dia harus nemuin putri ini. Seorang penjaga datang dan nanya ke dia.
"Tuan, apa ada hubungan sama pemiliknya?" dia nanya.
"Iya," kata dia. "Dia mantan tunanganku. Kamu tau nggak di mana putrinya, Moira, sekarang tinggal?"
Penjaga itu kayak ragu-ragu sebentar.
"Aku cuma mau nanya pertanyaan penting. Tolong bantu aku." Dia memohon.
"Nona Moira nggak mau siapapun di sini."
"Tolong."
Orang itu nulis alamat rumahnya dan Edmond langsung pergi ke penthouse tapi nggak ada yang jawab. Terus dia nelpon James. Hatinya nggak tenang. Dia pengen tau.
"Ya?"
"James, kamu di mana?" dia nanya buru-buru.
"Aku di rumah, kenapa?"
"Dengerin, asisten kamu, Moira. Siapa nama lengkapnya lagi?"
"Moira Venice."
Edmond ngeliat ke bawah di kertas. Hatinya deg-degan banget.
"Aku sebenernya di penthousenya dia, tapi dia nggak ada di sini."
"Yah, dia sebenernya pindah ke rumah sama tunangannya."
"Di mana aku bisa nemuin dia?"
"Ck, Om, dia nggak mau siapapun tau di mana dia. Aku bahkan nggak tau dia tinggal di mana sekarang."
"Tolong, bantu aku."
"Om, Om maksa banget."
"James, ini buat balikin budi dari om kamu."
"Oke. Nanti aku kirim nomornya ke kamu."
"Makasih." Dia nerima pesan terus dia keluar dari penthouse.
Pas dia mau nelpon Moira, dia ngeliat Moira jalan di seberang jalan sama dua orang yang ngikutin dia. Dia naruh helmnya dan lari ke Moira cepet-cepet. Moira kaget dan dia ngeliat ke mata Edmond.
"Kita perlu ngomong." Kata Edmond. Bodyguardnya nutupin Moira tapi Moira ngehentiin mereka.
"Nggak papa." Kata Moira.
"Jenderal Mondragon." Sapa Moira.
"Moira, kita perlu ngomong. Ini penting. Kita bisa nggak, ngobrol di kafe aja?"
"Sekarang?" Moira nanya.
"Iya, tolong."
Dia lega pas Moira ngebolehin dia punya waktu. Mereka pergi ke kafe dan membantu Moira mesen es teh. Edmond hampir nggak minum kopinya. Dia terus-terusan ngeliatin Moira yang bikin Moira nggak nyaman.
"Kamu beneran mirip dia."
Mata Moira melebar. Apa Edmond udah tau sekarang? Apa Edmond tau kalo Moira putrinya?
"Udah berapa lama?" Edmond nanya.
"Udah berapa lama apa?"
"Gimana dia meninggal?"
Moira gigit bibir bawahnya. Kematian ibunya menyakitkan buat Moira. Moira nggak inget sama sekali tapi ingatan-ingatan sekilas dateng ke Moira. Moira trauma. Moira megang tas tangannya erat-erat. Edmond ngeluarin liontin dari sakunya dan nunjukkin ke Moira.
"Aku kasih ini ke dia."
Moira ngeliatin liontin itu dan berusaha nyembunyiin emosinya.
"Dia meninggal pas aku umur sembilan." Kata Moira. "Tolong jangan tanya lagi gimana dia meninggal. Itu siksaan buat aku."
"A-aku minta maaf." Edmond ngeliat ke minumannya. "Aku terlalu ceroboh."
Moira nyeruput minumannya pelan-pelan dan buang muka.
"Mr. Ed Mondragon, kenapa ibu aku hidup sendiri?" Moira nanya.
"A--aku nggak bisa nemuin dia."
"Kamu mau dia jadi selingkuhan kamu di belakang istri kamu?"
Edmond ngeliatin Moira.
"Dia ngumpet dari kamu karena dia sayang kamu. Kamu mau tau apa lagi?" Moira nanya dengan nada yang agak kasar. "Tolong, Mr. Mondragon, lebih baik kamu nggak tau apa-apa."
Moira berdiri dan Edmond berdiri juga dan megang pergelangan tangannya.
"Tunggu," Edmond ngeliatin Moira. "Dia meninggal, tujuh belas tahun yang lalu dan kamu waktu itu umur sembilan. Umur kamu sekarang dua puluh enam. Bener kan?"
Moira cuma ngeliatin Edmond terus dia ngeluarin napas.
"Nggak penting buat kamu." Moira narik pergelangan tangannya dari Edmond.
"Moira." Edmond manggil lagi. "Kita ada pesta makan malam nanti malam."
Edmond bisa ngerasainnya. Moira putrinya. Cara dia ngeliat mata Moira akrab banget. Hatinya berdebar-debar dan dia tau sendiri, kalo Moira putrinya.
"Jangan sampe nggak dateng." Edmond meraih tangan Moira dan naruh kalung itu ke Moira.
Moira pergi dan di luar kafe, ada seorang pria nungguin Moira. Moira gigit bibirnya dan ngeliatin pria itu sebentar. Hati pria itu hancur, ngeliat Moira emosional. Dia ngebuka tangannya dan Moira melangkah maju dan meluk pria itu erat-erat.
Alanis megang belakang kepala Moira dan nyiumnya.
"Nggak papa, kelinciku." Alanis ngomong.
"Aku nggak tau kamu dapet nama panggilan itu dari mana. Kamu punya berapa banyak pacar sih?"
Alanis terkekeh.
"Sayang, aku baru dateng." Kata Alanis.
"Kenapa lama banget sih?"
"Yah, banyak hal yang nyita waktu aku dan aku hampir nggak sempet *sex phone* sama kamu." Alanis bergumam.
Alanis ngeliat Edmond Mondragon yang keluar dari kafe yang sama tempat Moira tadi. Edmond ngangguk ke Alanis.
"Jenderal, kita pergi," kata Alanis dan Moira ngelirik ke Edmond sekali lagi dan Alanis ngebuka pintu mobil buat Moira.
"William." Edmond kaget Moira sama pria ini yang punya kerajaan Assassin. Hatinya nggak enak lagi. Moira tau kalo dia Mondragon tapi kenapa Moira sama Raja Assassin?