Bencana Bagian 1
Selina merasa cemas karena Fin jadi lengket dan dia lagi gak waras. Dia lagi datang bulan dan seharusnya dia melakukan hal-hal aneh kayak makan es krim sambil minum teh dan nangis nonton film komedi. Tapi cowoknya butuh dia, jadi daripada keluyuran, dia bawa balik cowoknya ke dalam dan minta dia buat bantuin ganti seprai, dan dia mau.
Dia bahkan masang sarung selimut biar kalau dia bocor, mereka gak perlu ganti semua seprainya.
Dia ambil pembalut dan pasang. Terus dia mandi cuma buat ngilangin semua stres, pintunya dibiarin kebuka biar dia tetep bisa lihat Selina dan mastiin kalau Selina aman.
Dia jadi terlalu protektif. Tapi gimana dia bisa santai kalau dia lihat gimana Selina mati. Ada banyak cara buat orang yang dia sayang mati, dan satu-satunya yang harus dia lakuin adalah mencegah itu terjadi.
"Sayang, mau nonton film action atau thriller?"
"Apa aja deh." Jawabnya sambil matiin shower, ambil handuk, dan ngeringin badannya. Dia pakai celana pendeknya, terus jalan ke kasur dan meluk Selina dari belakang sambil mereka nonton film apa aja itu.
Dia berusaha buat tetep melek, tapi Selina udah tidur duluan dan dia pelan-pelan ikutan tidur.
***
**Andromeda** berdiri di depan cermin, natap dirinya sendiri sambil mikirin mimpi aneh itu. Dia cuci mulutnya dan ngelirik **Suami**nya yang lagi susah payah masang dasi. Dia keringin mukanya dan tangannya, terus jalan ke dia buat benerin dasinya.
"Makasih, **Goddess**-ku." dia cium keningnya. "Aku bakal telat nanti."
"Hmm. Gak masalah, pulang aja."
"Dan..."
"Apa?" Dia ngelihat ke dia sambil dengan ahli ngebenerin dasinya.
"Kamu udah ngecek **Ibu** kamu?"
"Aku bakal jenguk dia hari ini."
"Aku berencana buat makan malam sama orang tua dan saudara kamu... Cuma kita..." Dia cium hidungnya dan kayaknya dia jadi lengket hari ini. Dia gak bisa berhenti nyiumin dia.
"Oke." Dia senyum. "Aku juga ada rapat penting malam ini, jadi aku juga bakal telat."
Dia nganterin dia sampai pintu dan ngelihat dia pergi. Dia balik lagi ke kamar tidur mereka dan mikirin mimpinya.
Fin ada di tebing, dan di depannya ada Selina pakai gaun putih. Angin menerpa rambutnya saat dia senyum ke Fin. Tapi, terus, Fin megang pistol dan dia arahin langsung ke jantung Selina.
"Aku cinta kamu," kata Selina ke Fin saat air mata jatuh dari matanya. Dan terus, Fin narik pelatuknya dan peluru itu melesat kayak gerakan lambat menembus jantungnya.
Dia tersentak dan mijat kepalanya sebentar. Dia raih dadanya tempat jantungnya berada. Dia gak boleh kehilangan sepupunya. Dia cinta dia dan dia keluarganya. Selina sama kayak dia dan kayak **Mondragon** lainnya, mereka ngasih cinta mereka dengan sepenuh hati.
Dia ambil ponselnya dan masih mikirin **Suami**nya. Dia telpon dia. Dia jawab gak lama kemudian.
"Kangen, cepet banget?" Dia goda.
"Aku cuma mikirin kamu." Katanya. "Uhm, makan yang banyak ya. Oke?"
**Zachary** diam sebentar dari seberang telepon. Dia kelihatan jelas di sekitarnya. Dia udah sadar kalau ada yang salah.
"Apa yang bikin kamu khawatir?" Dia tanya.
"Cuma, mimpi buruk..."
"Aku tahu kamu bisa hindarin semuanya. Kamu **Goddess**-ku."
**Andromeda** pegang dadanya. Dia baru aja nyemangatin dia.
"Makasih, **Zachary**."
"Aku akan selalu ada buat kamu."
"Aku tahu. Kabarin aku kalau kamu udah sampai kantor."
"Oke."
***
Fin duduk dan meraih ponselnya. Dia terima pesan dari **Andromeda**.
Rapat jam 1900H, seperti biasa.
Dia balas pesannya.
Siap.
Dia celingak-celinguk cari dia.
"Sayang?" Dia panggil. Dia keluar dari kamar mandi dan cemberut ke dia, terus dia jalan ke lemarinya.
"Jangan masuk sini." Dia teriak.
"Oke, aku gak akan."
Fin ngerti kalau dia lagi datang bulan, jadi dia biarin dan gak nyebutin soal seks.
"Kamu mau makan apa, sayang?" Dia jalan ke walk-in closet dan ngetok. "Mau keluar gak?"
"Kalau kamu mau." Dia keluar gak lama kemudian, ngelihat dia. "Kamu mau keluar? Jalan-jalan? Belanja atau makan di suatu tempat?"
"Tentu." Dia cium mukanya. "Tapi kamu lagi datang bulan, jadi kita bisa di sini aja."
"Hmm."
"Dan aku ada konferensi rapat malam ini." Dia raih bibirnya dan terus nyiumin wajahnya.
"Apa?" Dia cemberut. "Kamu gak perlu kerja sama sekali. Aku bisa nyediain."
"Enggak." Dia geleng-geleng kepala. "Aku laki-laki dan aku akan nyediain semua hal mewah kamu."
"Aku cuma mau bareng kamu terus."
"Sayang, kamu gak akan kangen aku kalau kita selalu bareng."
Dia menghela napas terus nyender di dia.
"Aku cuma ngerasa kayak kita udah pisah selama berabad-abad."
Dia juga ngerasa sama. Dia cubit pipinya pelan dan menempelkan bibirnya ke dia.
***
**Kathleen** nyewa salah satu pengacara terbaik buat **Nicholas**. Dia pakai uang yang dia sisihkan buat keadaan darurat kayak gini dan dia juga ambil sebagian uangnya buat bayar pengacara. Dia menjauhkan diri dari pandangan semua orang dan biarin pengacara itu yang beroperasi. Pengacara itu bahkan gak tahu dia karena dia menyamar dengan baik.
Dari jauh, dia lihat **Nicholas** dibebaskan dengan jaminan. Matanya merah dan dia bertanya-tanya apa yang mereka lakuin ke dia sampai dia kelihatan seburuk itu. Dia punya lingkaran hitam di bawah matanya dan dia kelihatan pucat dan kurus.
Dia masuk ke mobil yang dia siapin buat dia dan terus dia pergi dan langsung ke apartemen yang dia sewa. Dia ketutup rapat jadi gak ada yang bisa lihat dia, terus dalam beberapa menit, **Nicholas** datang, dia nyungsep di sofa dan dia cuci tangannya ke mukanya.
"Aku harus balik ke sana."
"Apa?" Dia mengerutkan kening. "Kamu tahu apa yang kamu omongin?"
"Mereka punya **Andromeda**. Aku harus keluarin dia dari sana." Dia berdiri dan ngecek setiap sudut apartemen mencoba mencari sesuatu.
"Apa?" Dia mengerutkan kening. "**Andromeda** yang nyiapin semua ini. Dia tahu tentang operasi dan dia tahu segalanya."
"Mereka punya dia!" Dia ngotot.
**Kathleen** melongo, bingung dengan tingkah lakunya yang gila.