Bencana Bagian 2
Andromeda minum botol anggur keduanya sambil nunggu mereka dateng. Tiba-tiba, ada sepeda motor berhenti dan dia mantau dari kamera. Terus, Fin masuk bawa kantong kertas berisi makanan. Dia naruh di meja kopi terus ngeliatin botol-botolnya.
"Woi, kenapa nih?" Dia nanya.
"Kita perlu ngobrol."
Fin duduk di atas bantal kursi di depannya dan natap dia dengan perhatian.
"Berapa kali lo ngeliat Selina mati?"
"Tiga kali." Dia bergumam.
"Gue ngeliat dia mati semalem." Dia ngehembus napas. "Punya penglihatan kayak gini tuh berat."
"Gue tau." Dia ngeliatin botolnya. "Gue baru aja ngeliat dia mati di depan gue, ada cewek nembak pake pistol dan dia nutup-nutupin gue." Dia bergumam.
Andy diem sebentar terus dia naruh gelasnya dan natap lurus ke dia.
"Gue ngeliat lo narik pelatuknya dan peluru itu langsung nusuk ke jantungnya."
Fin jadi diem terus dia megang dadanya.
"Andy, apa yang gue liat mungkin yang bener dan apa yang lo liat itu teka-teki. Gue gak kenal cewek yang ngebunuh dia... Tapi dia bilang sesuatu, kalau gue gak bisa sama seorang Naga karena gue adalah Phoenix."
"Apa artinya?" Dia ngernyitkan alisnya. "Kita berdua bisa ngeliat masa depan... Jadi kalau lo bikin dia hamil yang kemungkinan besar bakal lo lakuin, anak lo bakal lebih dari apa yang lo punya. Kayak, garis keturunan kita udah cukup kacau..."
"Iya. Itu jawabannya. Tapi--kita gak tau. Gue harus lindungin dia." Dia bergumam.
"Lo gak bisa lindungin dia kalau kita udah balik ke Madagaskar. Kita harus tau apa yang ada di sana." Dia nuangin lagi ke gelasnya dan minum semuanya. Dia meluk dirinya sendiri karena belum pernah setakut ini. Dia takut kalau dia bakal ngeliat sesuatu tentang suaminya.
Pintu kebuka dan Andel dateng sama Moira bawa minuman keras. Tapi mereka berhenti ngeliat Andy yang khawatir dan minum lebih banyak. Dia ngelirik Fin dan kayaknya mereka lagi ngobrolin sesuatu yang serius banget. Dia duduk dan buka semua makanannya terus nyuruh mereka makan.
"Oke." Moira duduk dan ngambil bir. "Jadi, kita mau ngapain sama Nicholas? Dia baru aja jaminannya dilepas."
"Dia udah gila," kata Fin dan ngambil sebotol bir. Dia ngeliatin Andromeda nunggu perintahnya tentang si psikopat itu.
"Kita harus nangkap Kathleen," Andromeda bergumam. Dia minum lagi.
Moira naruh tangan di bahunya buat nenangin apa pun yang dia rasain.
"Andel, kita perlu nambah keamanan buat Selina, si kembar, dan James..."
"Andromeda," Andel ngehembus napas. "Gak kebanyakan nih?" Dia nanya. Andy narik kerah Andel.
"Apa yang gue liat itu nyata, gue gak tau di mana itu bakal terjadi tapi kita harus siap!" Dia hampir teriak ke dia. "Maaf." Dia nenangin dirinya. "Semuanya terlalu banyak buat gue dan gue pengen berentiin semuanya. Dan bencana selanjutnya bakal lebih tragis--apa yang kakek kita tulis di sana, kita harus tau tentang itu."
Andel ngehembus napas dan nyender di sofa.
"Iya, ayo ke sana," kata Andel. Mereka semua ngeliatin dia. "Ayo ke Madagaskar. Gue pengen intan buat Ellen gue." Dia bilang terus ngunyah keripik.
"Kita belum bisa pergi," Andromeda bergumam. "Kita perlu nge-distract Yves dulu." Dia ngeliatin Moira.
Moira muter matanya.
"Gue gak bakal jual diri gue ke cowok Yves itu." Dia bilang ke dia.
"Gue gak bilang lo harus jual tubuh lo ke dia. Lo tetep bakal sama kita di Madagaskar dan biar cowok lo yang urus Yves."
"Oh." Moira nepuk jidatnya. "Iya. Tentu aja, ck. Kita batasin dikit aja. Gue gak mau cowok gue keliatan kayak kerangka."
"Mantap." Andromeda ngabisin botol keduanya. "Oke, jadi, ini rencananya. Karena Nicholas udah jaminan, ada kemungkinan dia bakal nyari gue karena dia terobsesi dan gila sekarang."
"Itu bagus." Andel bergumam dan ngecek tabletnya buat mantau Ellen. Rumahnya tenang dan dia udah tidur.
"Andy, gimana sama Audi?" Dia tiba-tiba nanya.
***
Zachary naruh tas kerja di meja kopi dan bukanya. Dia narik kainnya dan ngintip. Dia ngeceknya terus pas dia puas, dia balikin lagi ke tasnya dan ngaktifin kuncinya. Istrinya mungkin bakal suka yang ini.
Dia nyampe rumah dan dia gak ada di rumah sama sekali. Udah seperempat jam dua dan dia gak ada di rumah. Dia ngelepas dasinya dan jasnya terus telepon di kamar mereka bunyi. Dia jawab dengan singkat.
"Tuan, ada mobil di luar dan Nyonya ada di kursi belakang. Supirnya gak dikenal."
"Oke, suruh mereka masuk."
Dia lari ke bawah dan nunggu mobilnya muncul di jalan masuk dan supirnya nyetir SUV. Mobilnya muter di sekitar air mancur dan mereka buka kursi belakang. Supirnya keluar dan cowok kekar, ganteng dan tinggi nyapa dia.
"Fin." dia nyapa dia.
"Iya, gue dateng ke tempat pertemuan kita dan dia udah ngabisin sebotol anggur."
"Makasih. Gue bakal urus dia." Dia pergi ke kursi belakang dan dia ngambil dia dan gendong dia ke pelukannya. Dia nyium keningnya dan dia langsung meluk dirinya. "Makasih, Fin." Dia bilang lagi. Fin ngangguk dan balik lagi ke dalam pas dia pergi.
Dia balik lagi ke dalam rumah dan bawa dia ke kamar mereka. Dia ngelepas sepatunya dan pergi ke wastafel dan nyiapin baskom berisi air hangat dan handuk yang udah direndem. Dia naruh di meja samping buat rendem handuknya.
Dia ngelepas bajunya dan narik lengan bajunya dan ngambil handuk yang udah direndem dan remesnya. Dia ngelap wajahnya, lehernya, dan bagian tubuhnya, terus dia selimutin dia karena dia udah biasa tidur telanjang.
Dia nyimpen tas kerjanya dan mandi air hangat terus meluk dia. Dia belum bisa tidur dan natap dia. Dia ngambil wajahnya dan ngelus-ngelus dengan sayang. Dia mabuk dan ada sesuatu yang besar yang dia khawatirkan. Dan dia khawatir banget sama dia.
"Zach..." Dia bergumam dan buka matanya.
"Iya?" Dia ngelus alisnya.
"Boleh minta air, please?"
"Tentu." Dia geser dari tempat tidur dan jalan ke konter dan ngambil kendi. Dia nuangin sejumlah ke gelas terus balik lagi ke dia dan ngasihnya.
Dia duduk dan minum dengan napas lega. Dia senyum ke dia dan dia merem. Dia ngelus rambutnya terus mijat kepalanya.
"Kenapa lo minum banyak banget?"
"Kita baru aja ngobrolin sesuatu... Dan rencana buat perjalanan ke Madagaskar... Cincin tunangan..." Dia nundukin wajahnya. "Gue udah sikat gigi balik ke ruang konferensi kita, jadi, cium gue."
Dia ketawa dan nepuk kepalanya.
"Oh, sayang." dia nyium keningnya.
"Zach,"
"Hmm?"
"Gue selalu mimpi buruk." Dia gigit bibirnya. "Gue capek."
Zach ngerasa kayak hatinya udah diremes. Dia ngelus rambutnya.
"Lepasin aja kalau gitu. Gue selalu di sini." Dia ngambil kepalanya dan bikin dia nyender di bahunya.