Lompat Lalu Jatuh Bagian 1
Dia nyiapin masakan kesukaan dia. Dia masih baca buku, hampir selesai buku ketiga. **Andromeda** pake rok ketat sama crop top, cuma buat godain dia. Mungkin nanti dia bisa mampir ke toko mainan seks, beli baju-baju nakal buat dia.
Dia juga pake sepatu Louboutin yang dibeliin buat dia, cuma buat dipajang di lemari. Dia melangkah ke arah dia, terus lepas celemeknya. Dia berusaha keliatan seksi, cuma buat narik perhatian dia.
"**Suami**, yuk makan," kata **Andromeda**, seksi banget. **Zachary** ngelirik dia, terus lanjut baca. Dia cemberut, terus nepuk bokong dia. Dia ketawa, terus buang bukunya, terus pegang pinggang dia. Dia cium perut bagian bawah dia yang seksi. Dia elus-elus paha bagian dalem dia, terus pegang bagian bawahnya. Dia kaget. "**Suami**!" Dia cemberut.
"**Sayang**, kamu gak pake apa-apa di sini." Dia nyengir.
"Yuk makan sekarang. Aku mau pergi belanja."
"Oke." Dia cium perut bagian atas dia yang seksi duluan, terus dia berdiri, biarin dia pegang tangannya, terus bawa dia ke meja makan. "Wanginya bikin laper." Kata dia, nyium dia.
"Kamu ngomongin aku atau makanannya? Aku bikin kesukaan kamu."
Dia duduk, terus dia nyajiin buat dia. **Zachary** pegang pinggang dia, narik dia ke pangkuannya, terus cium bahu telanjang dia.
"Suapin aku." Kata dia, seksi.
**Andromeda** senyum menggoda, terus nyuapin dia. Mereka makan sambil saling menggoda. **Zachary** kangen momen-momen kayak gini. Biasanya mereka makan bareng kayak gini, ngomong kotor dan menggoda sambil makan. **Andromeda** pernah ngaku ke dia dulu, dia gak pernah seceria ini dalam hidupnya. Dia adalah yang pertama buat semuanya. Dari ciuman, kencan, seks, cinta, patah hati, dan segalanya.
**Andromeda** bawa dia ke kamar buat ganti baju, dan **Zachary** cuma duduk di sofa bundar di dalem walk-in closet mereka yang luas, sambil nyelesaiin buku yang dia baca. Sekarang dia harus milih. Baju santai—kaos putih biasa yang kotor, celana skinny jeans, jaket kulit, dan sepatu sneaker hitam kesukaan dia.
"**Zachary**…" Dia cemberut di depan dia.
"Oke." Dia narik dia berdiri, singkirin bukunya. Dia berdiri, dan dia berlutut di sofa, megangin sandaran. Dia tepuk-te,puk lekuk tubuh dia yang indah, terus buka lututnya. Dia tarik rok ketat seksinya, terus cium pantat dia, terus jilatin bunga basahnya. Dia desah, dan melengkungkan punggungnya.
**Zachary** muter-muter lidahnya di sekitar itu, terus di dalem dia. Terus dia turunin celana pendeknya, terus gosok-gosok 'anu' dia yang keras di bunga dia.
"Aku mau sekarang." Dia nuntut kayak anak kecil yang dimanja.
"Aku dateng." Dia masuk ke dalem dia, dan dia desah. Dia cium telinga dia, terus mulai memompa cepet di dalem dia. Sofa kayaknya goyang karena dorongannya, jadi dia melilitkan tangannya dan bawa dia ke dinding tanpa keluar dari dia.
"**Zachary**…" Dia desah.
Dia percaya. Kukunya nancep di dinding. Jempol kakinya melengkung… dia menggeliat, dan **Zachary** pegang tombol sensitif kecilnya. Dia menggeliat lebih lagi, hampir sampe orgasme. **Zachary** elus-elus tombol kecilnya. Dia teriak nama dia pas dia klimaks beberapa detik. **Zachary** gak berhenti. Dia roboh, dan dia belum selesai.
Dia nyuruh dia tiduran di karpet, dan dia lakuin. **Zachary** tarik kakinya, istirahatin betisnya di bahunya, dan kerja keras di situ. **Andromeda** memerah, dan dia senyum menggoda ke dia saat dia kerja keras. Dia merobek crop top-nya buat pamerin dadanya yang telanjang. Bergetar saat dia dorong ke dalem dia.
Dia jadi ganas, mata terbakar ke arah dia penuh gairah. Dia mainin dadanya yang penuh, jilatin putingnya buat ngegodain dia. **Zachary** ngos-ngosan, dan ningkatinnya lagi. Mata **Andromeda** melebar pas dia kena titik yang tepat.
"**Zachary**, jangan berhenti." Dia menggeliat dan meremas gunungnya. "Ohh. **Zachary**!"
"Ayo **sayang**…" dia bergumam. "Datang buatku lagi…"
Dia teriak keras banget saat dia klimaks lagi. **Zachary** klimaks setelahnya. Itu sangat kuat, dia roboh di atas dia. Dia cium gunungnya, dan senyum ke dia.
"Aku gak pernah seneng dalam seks seumur hidupku…" dia bergumam. "Selalu seru kalo sama kamu."
"Tentu saja. Kamu cinta aku." Dia cium hidungnya. "Yuk mandi. Aku mau belanja sepatu."
Mereka mandi kilat, terus dandan kayak kebanyakan orang. Dia nyetir Land Rover mereka ke mall. **Zachary** pergi ke food court buat beliin dia limun, sementara dia pergi ke Toko Louis Vuitton. Dia masuk, dan penjualnya cuma di pojokan ngobrol, dan cuma ngelirik dia. Dia cemberut. Harusnya mereka lebih perhatian dan bantu dia?
Dia keliling, dan salah satu penjual dateng, terus liatin kakinya.
"Kita gak jual sneaker, nona." Suara cewek itu kasar, bikin dia cemberut. Dia liat sekeliling, terus pergi.
Suaminya dateng gak lama kemudian, dan liat dia cemberut. Dia pengen mundur karena aura yang berbahaya.
"**Cinta**." Dia meluk dia dari belakang, terus kasih dia limun. "Ada apa? Kamu gak liat yang kamu suka?"
"Aku bakal bikin hidup mereka sengsara." Dia bergumam.
"Ada apa? Serius, kamu bikin aku takut."
"Telpon pemilik toko itu." Kata dia, nunjuk toko Louis Vuitton.
"Oh." Kata dia. "Biar aku yang urus." Dia cium pelipisnya, terus nelpon pemilik mall buat nyambungin dia ke pemilik toko Louis Vuitton. "Udah gak papa sekarang."
Dia sekarang lagi liatin toko Forever 21, terus masuk ke sana.
Penjualnya ngelayanin mereka, dan dia mulai nunjuk baju-baju di manekin. **Zachary** nyuruh penjualnya buat pilihin sesuatu yang ukurannya sama dia. Dia liatin sepatunya, terus nunjuk semua. Tokonya persis di depan toko Louise Vuitton.
**Zachary** nelpon pengawal mereka yang ngikutin mereka, dan mereka ambil kantong kertas setelah dia bayar semuanya. Dia nyeruput limun dinginnya, dan entah gimana itu mendinginkan dia. Teleponnya bunyi, dan dia jawab.
"Ini **Zachary Pattinson**." Kata dia.
"Kami minta maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan."
"Gak papa. Aku rasa istriku bakal nemuin yang lain." Dia tutup teleponnya. "**Sayang**?" dia manggil dia.
"Aku mau sepatu boots Louis Vuitton." Dia cemberut ke dia. **Gabriel** nepuk kepalanya.
"Kita bisa beli yang beda di toko lain…" dia bilang. "Aku bisa beliin kamu Versace? Belum dirilis… tapi aku bisa dapet buat kamu."
"Gak papa. Bisa beliin ransel, tolong? Aku butuh buat misi aku." Dia bergumam dan ngedip ke dia.
"Oke." Dia pegang tangannya saat mereka keluar toko, dan manajernya bahkan berterima kasih banyak.
Dia mundur lagi masuk ke kamar, dan manajernya ada di sana, dan dia ulurin tangannya ke dia. Manajer, tentu saja, kenal dia karena dia pernah ada di berita bisnis bareng **Zachary** di foto pernikahan mereka.
Dia jalan melewati manajer, dan menghela napas saat pengawal-pengawalnya ngikutin dia dengan kantong kertas di tangan mereka.
Dia duduk di sofa dengan nyaman, dan Manajer pribadi ngelayanin dia. Dia menyilangkan kakinya dan tangannya, terus liat sekeliling. Sepatu boots yang dia mau ada di sana, duduk. Dia nunjuknya, terus nunjuk yang lain satu per satu. Penjualnya langsung gerakin pantat jelek mereka, terus nunjukkin ke dia satu per satu.
Dia liatin cewek yang menghina dia tadi. Dia memutar matanya, terus nyuruh dia ambil yang lain di paling atas. Dia kayak ratu manja. Dia adalah Ratu, toh. Ratu dari kerajaannya sendiri.