Pendonor Sperma Sempurna Bagian 2
Dia pakai jubah sutranya, telepon Pelayan buat bawain mereka buah-buahan segar. Dia balik lagi ke sofa tempatnya duduk, cuma pakai celana dalam, dan gabung buat nonton acara apa pun itu. Tangannya melingkar di pinggangnya, dia nyender di lengan besarnya dan dada bidangnya. Rasanya kayak udah kenal lama banget, dan dia udah nyaman banget di sekitarnya.
"Masih sakit?" dia nanya.
"Agak sih. Tapi aku mau lagi," dia bilang sambil ngusap batang tenangnya. Jadi agak keras gara-gara usapan penuh gairah itu.
"Santai dulu," dia megang kepalanya dan nyium pelipisnya.
"Kencan yuk," dia ngambil tangan besarnya.
"Oke," katanya. Dia senyum lebar ke dia dan nyender ke dia.
"Kok gampang banget sih kamu setuju sama semua yang aku minta?"
"Kan udah kubilang, aku udah jadi milikmu."
"Tapi, semuanya terjadi cepet banget," dia gumam. "Aku takutnya kehilangan kamu dengan cepat."
"Nggak akan," dia nepuk kepalanya. "Jangan pikirin kemungkinan di masa depan. Pikirin aja sekarang."
Dia setuju sama dia dan terus natap dia, berusaha ngapalin wajahnya. Fox ngeliatin wanita imutnya dan nyium keningnya.
***
Fox ngecek HP-nya dan biarin Selina yang imut nyuapin dia buah. Sambil dia mantau operasi, dia ngebuat dia ngabisin semuanya dan dia ngejauhin nampan kosongnya. Terus dia meluk dia kayak beruang besar. Dia nggak bisa berhenti senyum ke dia. Dia emang imut dan peduli banget.
"Kamu mau bikin aku gendut, ya, anak nakal?"
Dia cekikikan dan nangkring di pangkuannya.
"Aku cuma pengen punya pacar yang sehat."
"Gimana kalau kamu tidur? Aku mau hubungin orang-orangku buat operasi dulu."
"Oke," dia nyium bibirnya dan dia pergi tidur, buka jubahnya dan tetap di sana.
Fox telepon orang-orangnya dan mereka konfirmasi semuanya. Dia telepon Andromeda tentang itu dan dia bilang buat turunin mereka langsung. Dia kerja selama satu jam di telepon. Setelah selesai, dia jauhin HP-nya dan dia nyamperin wanita cantiknya dengan hati-hati. Dia ngeliat laci dia. Dia mulai nyelidikin pil yang dia omongin. Dia geledah sana sini dengan hati-hati biar nggak ngebangunin dia, terus ke walk-in closet-nya.
Dia nggak nemuin satu pun alat kontrasepsi. Terus dia ngecek kamar mandi dan lemarinya. Nggak ada. Cuma ada vitamin dan produk perawatan kecantikannya. Sialan. Dia ngegebrak tembok. Dia bohong sama dia dan dia bakal jadi pendonor sperma.
Dia nyamperin kasur dan ngeliatin anak nakalnya yang malang. Dia merangkak ke arahnya dan ngasih ciuman kecil di wajahnya. Dia udah mimpiin dia pengen punya bayi. Walaupun dia pengen dia jadi pendonor sperma, dia nggak mau ninggalin dia. Dia separuhnya. Dia tiduran di sampingnya dan ngambil tangannya, naruh di dadanya, tempat jantungnya berada.
Yah, untungnya dia nemuin dia. Dia harus fokus sama dia sementara misi mereka yang sebenarnya masih tertunda. Dia yakin banget kalau dia yang tepat dan dia pengen tua bareng dia. Ada hal-hal yang bakal bikin dia dalam bahaya dan dia takut akan hal itu. Tapi dia bakal lakuin apa aja buat ngejaga dia karena hati dan raganya milik dia.
"Hmm," dia buka matanya dan natap balik ke dia. "Aku lapar," dia gumam.
"Kalau gitu, aku masakin buat kamu," dia ngelirik jam, jam 21.00 dan udah malem.
"Beneran?" Dia duduk dan nunduk buat nyium bibirnya. "Pasti kamu bakal campurin ramuan cinta di dalamnya," dia nyengir ke dia.
"Iya, banyak ramuan cinta," dia ngusap wajah cantiknya. Dia neken bibirnya.
Selina nggak pernah ngerasain emosi sekuat ini ke seorang pria. Apa ini cinta pada pandangan pertama? Sial, dia mau lebih dari dia. Dia meringkuk ke dia dan meraih kejantanannya dan mulai nyium wajahnya, lehernya, dan dada bidangnya. Dia jilatin putingnya dan ngeliat ke dia. Dia ngagumin dia selama ini dia tidur, dan dia ngerasain sensasi panas yang ngebangunin seluruh dewinya.
"Kamu yakin mau sekarang?" dia nanya.
"Iya," dia nyender ke dia terus nangkring di atasnya. Dia meraih pelumas karena dia nggak yakin seberapa basah dia. Tapi pas dia ngerasainnya, dia bocor. Sialan, pria ini emang tau gimana bikin wanita basah dengan sekali pandang. Dia narik keluar batangnya dari celana dalamnya dan dia pelan-pelan ngeselinnya ke dalam dirinya. Dia tersentak dan megang dadanya.
"Kamu nakal," dia megang pinggangnya dan dia duduk dan ngambil bantal biar bisa nyender. "Ayo, naikin aku."
Selina nggak tau persisnya tapi dia emang tau gimana naik kuda. Dia mulai naik di atasnya, tangannya neken dadanya. Caranya dia ngeliat dia membara dengan gairah. Dia bikin suara meringis kecil.
Fox nonton pas dia jadi bahagia dan gimana dia menikmatinya. Dia bergerak lebih deket dan meraih putingnya yang montok, ngisepnya keras-keras. Mulutnya kebuka pas dia terus naik dan dia megang belakang kepalanya biar dia terus ngisep payudaranya.
***
Ellen ngelirik pintu Fox dan dia belum pulang juga. Dia khawatir sama dia karena dia kayak kakak laki-lakinya. Pintunya kebuka dan dia loncat dari kursinya, semangat buat nyender ke pacarnya. Andel naruh tas kerjanya dan nyambut Ellen yang lari, loncat ke dia, melilitkan kakinya di sekelilingnya kayak koala.
Dia mulai nyium seluruh wajahnya dan Andel bawa dia ke sofa. Ellen ngelepasin kancing celananya.
"Kita berdua, ayo lakuin di sini," katanya seksi.
"Oh, cewek kecil!" Dia ngelepasin mantelnya dan nyelinap masuk ke dia karena dia nggak pakai celana dalam. "Udah nunggu lama?"
"Iya, iya… ayo… cintai aku."
Andel ketawa dan dia pelan-pelan buka kancing bajunya buat ngegodain dia. Dia cemberut ke dia, pipinya kayak balon. Dia nyium kedua pipinya dan menusuknya pelan-pelan.
HP-nya bergetar dari kantong celananya dan sambil dia nusuk, dia ngeceknya dan cemberut ke pesan kakeknya.
Naga! Kumpul besok 12.07.2019 pukul 20.00.
Dia berhenti dan Ellen ngegebuk perut kerasnya.
"Kitty, tunggu," dia nepuk kepalanya dan bales pesan kakeknya.
Bolehkah aku nggak ikut?
Nggak.
Dia ngembus napas. Kakeknya emang bossy banget. Dia jauhin HP-nya dan ngeliat ke kitty yang cemberut. Dia nyium bibirnya, tapi dia nggak bales. Dia ngegebuk dadanya.
"Lakuin aja!" dia bilang dengan cara yang sangat bossy. Dia cekikikan dan ngerobek gaunnya.
"Kamu juga bossy?"
"Tsk. Aku cuma kangen kamu. Dan kita bisa nikmatin seluruh rumah karena Fox di luar, mungkin lagi ena-ena," katanya. Andel ketawa dan nyium bibirnya lebih banyak.
"Kamu sekarang bisa teriak sesukamu," dia gumam di telinganya.
"Bagus. Karena aku benci berjuang dan diam aja sementara kamu di sana," dia ngedip.
Andel geleng-geleng nggak nyadar betapa liarnya kucing kecil ini.