Sang Mata-Mata Bagian 1
Andromeda dan Moira nungguin cowok-cowok itu lewat dari mereka. Pas sasaran mereka udah jauh, Andy manjat pohon dan pake teropong buat ngecek ada orang lain di sekitar. Dia turun dan ngasih kode ke Moira buat terus jalan bareng dia.
Mereka pake topeng yang cuma nunjukin mata mereka waktu jalan cepat tanpa suara. Mereka terus jalan tanpa bikin suara apapun. Mereka saling ngecek punggung masing-masing buat mastiin mereka aman.
Moira belum pernah dalam misi kayak gini bareng Andromeda dan pastinya, sepupunya tau banget gimana mimpin. Kerja sama bareng dia dalam misi yang penuh petualangan tapi bahaya ini keputusan yang bagus.
Mereka terus jalan ke arah sinyal. Mereka butuh waktu kurang dari tiga jam buat nyampe tanpa istirahat.
Mereka cuma satu kilometer dari rumah pohon yang disamarkan ke pepohonan yang kayaknya pohon-pohon gede yang emang dijadiin rumah pohon. Ranting-ranting membentuk lingkaran, bikin atap.
"Wow." Andy ngangguk setuju.
"Terus?" tanya Moira.
"Mata-mata gue." Dia ngedipin mata. "Gue ngajarin dia gimana caranya ngelakuin hal-hal kayak gitu."
"Lo punya hubungan spesial sama cowok ini?" tanya Moira.
"Nggak juga." Katanya. "Kalo lo maksudnya hubungan seks dan hubungan romantis—gue harus bikin lo kecewa. Gue cuma berhubungan seks sama suami gue dari awal."
"Wow," kata Moira agak kaget.
"Iya. Gue mungkin dibilang obsesi sama suami gue tapi dia satu-satunya cowok yang ngerti gue, sayang gue, dan dia manja banget sama gue."
"Gue bisa lihat itu." Dia bilang. "Kita bisa pergi sekarang?"
"Nggak." Katanya. "Kita harus mastiin itu mata-mata gue."
Dia nyuruh Moira buat ngecek semuanya dan mereka nemuin jebakan di pintu masuk dan dia nebak itu ada di sekeliling gubuknya sejauh satu kilometer biar dia bisa kabur kapan aja kalo ada orang masuk.
"Hati-hati ya, oke?" kata Andy.
"Iya, oke." Moira ngangguk.
Karena udah gelap, Andy pake lampu merah buat nemuin beberapa tali. Moira langsung inget, jadi mereka mulai jalan pelan-pelan mastiin mereka nggak kesandung. Perjalanannya jauh dan setiap sepuluh meter ada tali lagi.
Andy dan Moira membeku. Mereka saling pandang. Apa mungkin mata-mata ini juga masang bom di bawah? Yang dampaknya kecil? Gimana kalo hewan nginjek? Tapi gimana pun, dia ngelakuinnya. Mereka cuma bakal nanya sama orang yang masang hal-hal kayak gitu.
Nggak butuh waktu lama pas mereka nyampe. Andromeda celingak-celinguk. Dia manjat duluan dan nyuruh Moira nunggu terus nyusul dia. Begitu dia udah di atas dan masuk ke gubuk kosong, dia nyuruh Moira naik. Dia ngecek kalo semua sudut aman, biar Moira bisa naik dengan aman.
Andy dan Moira jalan-jalan dan ngecek barang-barang yang dibikin dari alam. Wow. Orang yang tinggal di sini kreatif dan banyak akal.
Mereka berhenti pas cowok gede keluar sambil megang dua pistol.
***
Andel nyenderin pipinya di tangan sambil menyangga siku di meja. Dia merhatiin dia ngomong terus nyoret-nyoret posisi dan stiker yang bakal dia pasang di resto. Dia imut banget dengan ide-ide yang penuh dan imajinasi yang liar. Kayak dia lagi nonton film.
"Lo dengerin gue nggak sih?" Dia nanya pas nyadar tatapan Andel. Dia ngejepretin jarinya di depan Andel. Terus Andel ngedip dan nguap biar nggak kelihatan kalo dia udah terpesona sama dia.
"Gue ngantuk." Dia nge-pause hapenya. "Tapi gue rekam kok, jadi lo rencanain semuanya, dan gue bantu atur."
Dia merangkak ke sofa dan tiduran di sana.
"Bangunin gue kalo udah makan malam ya. Lo juga bisa tidur sama gue. Gue butuh boneka yang empuk sekarang."
Dia meraih bantal dan meluknya terus ngelihat dia. Ellen cemberut dan ngegeleng terus lanjut gambar. Andel terus merhatiin dia dan pas dia mau ngelihat Andel, Andel langsung merem. Licik. Tapi Ellen ketahuan.
Jadi, dia pergi ke kamar Andel, ngambil selimut dan boneka beruangnya yang empuk. Dia ngelempar boneka empuknya ke dada Andel dan nutupin Andel dari kepala sampai kaki. Terus dia lanjutin apa yang dia lagi lakuin. Setelah dia mikirin semuanya dan dia puas. Dia meregangkan badannya dan tiduran di bean bag yang dia dudukin. Karena kegedean buat dia, dia tiduran di sana sebentar dan ketiduran.
Andel yang bangun dari suara hapenya yang getar, dorong selimutnya dan meraih hapenya. Itu nomor nggak dikenal. Dia jawab.
"Andel."
"Kak?" Jantung Andel berdebar kencang. "Lo di mana? Lo baik-baik aja? Andy di mana?"
"Kita baik-baik aja. Kita cuma butuh sesuatu dari lo."
"Apa?" Dia nanya.
Dia dengerin baik-baik dan matanya membesar. Serius? Itu terlalu bahaya. Mereka dalam bahaya. Dia menghembuskan napas dan ngangguk.
"Oke." Dia nutup telepon dan ngelihat cewek imut itu yang lagi jongkok di bean bag. Dia bantuin dia bangun dan gendong dia ke kamarnya. Dia nyelimutin dia.
Dia ngelihat sekeliling kamarnya terus pergi ke dinding foto dari kecil sampai sekarang. Dia senyum di fotonya bareng dia. Dia cuma anak kecil dan dia cowok yang tumbuh. Dia di punggungnya dan perban ada di lututnya pas dia kecelakaan naik sepeda.
"Iya… lo cepet banget gedenya." Anak kecil yang selalu dia sayang sekarang udah jadi cewek. Dia ngelihat dia yang lagi tidur kayak bayi.
Berjalan ke arah kasur di deketnya. Dia membungkuk dan nyium bibirnya pelan kayak bulu. Terus dia keluar kamar. Oke, itu gila. Dia nggak boleh jatuh cinta sama anak kecil itu. Perbedaan usia mereka dan dia—dia nggak boleh ngambil keperawanannya, kan? Pokoknya, Zach bakal gila.
Nggak ada adiknya temen yang sialan. Jadi, dia pergi ke kasurnya dan nelpon Gabriel. Butuh beberapa detik buat dia jawab.
"Selamat siang, Pak."
"Jadi, lo balik?"
"Gue rasa gue harus perpanjang liburan. Gue dapat urusan darurat. Kakak gue pergi ke Amazon, dia kecelakaan."
"Gue kasih lo tiga minggu lagi," kata Gabriel.
Suami, gue butuh celana dalam. Suara Sabrina.
"Terima kasih, Pak." Gabriel nutup telepon dan Andel mulai ketawa. Bosnya yang nakutin nikah sama sepupunya Sabrina.
Sabrina bisa manja banget dan dia yakin cuma Gabriel yang bisa sabar sama dia. Gabriel cuma bisa ngasih apa pun yang dia mau. Iya, dia udah tua dan dia juga butuh ML. Tapi kapan?
Dia packing dan masak sesuatu buat dia taruh di meja dan naruh catatan di atasnya. Terus dia ngejenguk dia di kamarnya dan nyium bibirnya, nekennya. Dia ngebuka matanya yang ngantuk dan dia nyium dia lebih bergairah. Kayak ciuman Perancis. Dia mengerang dan masih ngantuk.
Andel ninggalin dia. Dia nggak bakal tau kalo Andel nyium dia. Meski dia setengah sadar, dia mungkin nggak mikir ciumannya nyata atau mimpi.