Hukuman Bagian 1
Zach nyuruh **istri**-nya buat istirahat, bukannya merayu dia dan ganggu dia kerja. Dia selimutin **istri**-nya terus cium keningnya. Terus Zach pergi ke ruang kerjanya buat kerja, bukannya nemenin **istri**-nya. Dia nyuruh **Sekretaris**-nya buat adain rapat video, biar dia bisa pantau semua laporan.
Dia udah rapat hampir sejam dan **Andromeda** masuk ke ruang kerjanya, masih keliatan ngantuk. Zach matiin kameranya terus nyuruh mereka lanjutin. Zach berdiri dan nyamperin dia. Dia raih wajahnya terus cium bibirnya.
“Ada apa?” bisik dia.
“Kirain kamu mau libur sehari buat aku.” Dia nyender di dada dia terus ngedesah kayak kucing. Zach nahan bibirnya biar gak nyengir. “Jadilah milikku sehari ini, oke?”
“Tunggu bentar lagi. Aku selesaiin ini, oke?” Dia nepuk-nepuk kepalanya terus duduk lagi di kursinya. Dia nyalain kameranya. “Ada yang mau ditanyain?” tanyanya. Mereka nyampein beberapa pertanyaan dan **Sekretaris**-nya nyatet semua itu. “Rapat selesai.”
Dia gendong **istri**-nya balik ke kasur mereka. Dia bantuin dia buka baju dan dia juga buka baju di depan dia. Zach meluk dia erat-erat, nyembunyiin mukanya di antara dadanya.
“Apa **Allanis** ganggu kamu?” tanyanya.
“Iya. Dia lagi nyari ceweknya.” Dia ngisep salah satu putingnya terus natap dia. “**Moira Mondragon**.”
“Iya.” Jawab dia. “Itu rahasia keluarga, bahkan ayahnya gak tau kalo dia punya anak dari selingkuhannya sekarang. **Kakek** yang ngerawat dia setelah ibunya meninggal dan ngasih nama Mondragon. Dia yang berikutnya setelah aku.”
“Hmm. Oke. Terus kenapa sama **Allanis**?” Dia nahan dia di kasur terus posisinya di antara kakinya. “Setelah sepupu kamu, **Sabrina**, dia jatuh cinta banget sama **Moira**.”
“Gak tau. Dia emang ada urusan sama Mondragon. Aku pernah nanya dia soal aku, tapi dia bilang aku kayak cowok buat dia. Itu kan hinaan, ya gak sih?” Dia nge-tskk dan geleng-geleng kepala. Dia senyum terus cium bibirnya.
“Berarti dia gak bisa rebut kamu dari aku.” Dia gosok-gosok yang keras di antara mereka dan dia menghela napas terus cium dia penuh gairah.
“Sayang, aku mau lebih banyak lagi.” **Andy** desah. Zach pelan-pelan masukin dirinya ke bunga basah dia. “Ohhh.” Dia dorong balik pelan-pelan, dan dia merem sambil meluk dia erat-erat.
***
**Moira** berdiri dari sofa terus jalan ke kamarnya. Dia kunci pintunya terus tidur. Tapi dia hampir tidur nyenyak waktu ada tangan yang ngusap-ngusap dia di bawah sana. Karena kaget, matanya melebar dan dia noleh ke arah dia di belakangnya. Matanya liar dan dia cium bahunya.
“Woy!” Dia dorong dia tapi dia tetep meluk dia erat-erat dan jari-jarinya masuk ke inti basahnya. “Uh!” Dia meluk dia erat-erat.
**Allanis** buka kakinya terus terus-terusan mainin dia dan waktu dia hampir, dia tarik tangannya. Dia cemberut frustrasi ke arah dia terus nampar dadanya.
“Keluar dari rumahku!”
Waktu dia masih basah, **Allanis** robek piyama dia dan masukin dia pelan-pelan. Matanya melebar dan dia cemberut ke arah dia. Apa dia mau main-main kayak gini terus? Itu bikin frustrasi. Dia gak bisa ngerasain pelepasan karena setiap kali dia hampir, dia bakal narik keluar dan main-main lagi.
“Kamu kencang banget, sayang.” Bisik dia terus robek juga bajunya. Bagian tubuh indahnya keluar dan bergoyang waktu dia masuk ke dalam dia. **Moira** natap dia dengan marah dan pengen nonjok dia tapi dia kuat dan dia megang pergelangan tangannya. “Jangan khawatir, ratuku, ini cuma hukuman kecil.” Dia nyium wajahnya di lehernya, menjilati dia dan mengisap kulitnya.
Dia pergi ke dadanya dan ngelepasin pergelangan tangannya. Dia melengkungkan punggungnya waktu dia ngerasain kekuatan klimaks yang akan datang. Dia melingkarkan tangan lainnya di punggung kecilnya dan masuk lebih dalam ke dalam dia.
“Ahh!” Dia meluk dia erat-erat dan dia klimaks. Dia menghela napas tapi dia belum selesai. “Gak mau lagi…” desah dia dengan tenggorokan kering dan dia memohon.
“Gak, sayang. Kamu bisa lagi.” Dia pelan-pelan membalikkan dia jadi tengkurap terus pelan-pelan mengelusnya. Dia pegangan erat bantal waktu dia kena di titik yang tepat.
Suara dia menggeliat adalah musik di telinganya. Dia mengerang dan dia klimaks lagi.
Dia udah kecapekan sekarang dan dia terus lanjut dan sebelum dia nyampe ketiga kalinya, dia klimaks dan berhenti. Dia tiduran di sampingnya dan dia cemberut ke arah dia.
“Bajingan!” Dia tampar dadanya. **Allanis** menyeringai dan narik dia ke dadanya.
“Nona, aku punya beberapa cara lagi buat hukum kamu karena ninggalin aku.”
Dia memutar matanya.
“Dengar, aku gak mau ada hubungan romantis. Jadi, kita selesaiin aja di sini.” Kata dia terus terang.
**Allanis** natap dia serius dan sebentar. Terus dia ketawa. Dia melingkarkan tangannya dengan posesif di sekelilingnya dan meraih dagunya ke arah dia.
“**Moira**, kamu pikir ini gampang? Kamu milikku. Aku udah tandain kamu dan gak ada yang bisa memiliki kamu selain aku. Kamu ngerti itu?”
“Aku bukan milikmu.” Gerutu dia. **Allanis** cemberut ke arah dia terus dia duduk nyuruh dia rebahan.
Oke, dia bener. Dia gak bisa cuma nyuruh dia jadi miliknya. Tapi dia pengen banget dia, dia bakal mati kalau dia ninggalin dia.
“Kamu baik banget sama aku.” Kata dia dan natap dia. Dia meraih wajahnya. “Kamu bikin hatiku berdebar. Di saat yang sama, kamu jahat banget sama aku, kamu kayak narkoba **Moira**. Aku gak bisa nolak kamu. Dan kalau kamu pergi, kamu bikin aku gila. Jadi berhentilah mendorongku ke batas… Aku bersedia ngasih kamu semua yang termasuk seluruh hidupku.” Dia mengucapkan kata-kata itu dengan tulus.
Hatinya **Moira** hampir meledak. Tapi dia gak mau ada orang yang ngasih segalanya buat dia. Dia duduk dan meraih wajahnya.
“Aku gak mau kamu kayak gini. Aku gak mau ada orang yang ngasih segalanya buat aku.”
“Tapi aku mau.” Dia pegang tangannya terus cium pergelangan tangannya. “Biarin aku, ratuku. Biarin aku lakuin ini buat kamu.”
**Moira** gigit bibirnya dan narik tangannya dari dia.
“**Allanis**, jangan… aku mohon.”
“Maafkan aku, ratuku… tapi aku pengen hidup.” Dia menahan dia terus mengelus wajah cantiknya. “Aku udah nyari kamu di seluruh dunia selama berhari-hari. Aku udah merenungkan pikiran dan perasaan aku… Aku mau kamu dan aku gak mau hidup tanpa kamu.”
“Tolong…” dia memohon. “Jangan sia-siain dirimu buat aku.”
“Kamu keras kepala. Tapi aku lebih keras kepala dari kamu.” Dia meraih dia di bawah sana dengan jarinya. Dia basah di dalam jadi dia menggosok titiknya dan dia menggigil. Dia klimaks sebentar dan memejamkan mata. “Tidur sekarang, ratuku, aku punya beberapa cara lagi buat buang-buang energiku buat kamu.” Dia cium keningnya dan selimutin dia dengan selimut.
***
**Andel** bangun pagi-pagi dan lari ke penthouse-nya yang ada di gedung yang sama. Dia buka pintunya dan nemuin **Fox** lagi beres-beres penthousenya. Dia berhenti dan ngeliat keranjang cucian penuh baju-bajunya yang dia yakin berserakan di mana-mana. Fox mengangkat bahu.
“Aku udah biasa di hutan bersihin dan nanam beberapa pohon lagi. Aku bahkan bantuin monyet-monyet dengan beberapa hal.” Kata **Fox**. “Aku gak tahan sama yang gak rapi.”
“Iya, deh.” Dia masuk terus ambil beberapa bajunya. Dia kasih kartu yang udah ditransfer **Andy** buat orang itu. “Beli sesuatu buat diri kamu. Aku ada baju bekas di sini dan kamu bebas pakai ruangan lain dan apa aja.”
Dia ambil beberapa bajunya dari lemari terus ngepak beberapa bajunya.
“Aku mau nginep di tempat **Ellen**.” Katanya. “Seseorang bakal jemput cuciannya.”
“Oke. Jadi, apa **Ellen** itu cewek yang kamu bilang Little Girl?” tanya **Fox**. **Andel** membeku dan natap dia.
“Jangan kasih tau siapa-siapa. Ini rahasia kita.” Kata dia dengan tajam. **Fox** nutup mulutnya rapat-rapat dan **Andel** nepuk-nepuk lengannya. “Diam ya?” Dia ngedip dan dia pergi dengan barang-barangnya yang lain. Waktu dia balik ke penthouse **Ellen**, ada laki-laki yang lagi ngetuk pintu dan pintunya kebuka waktu **Ellen** nyambut laki-laki itu.
Dia tinggi, ganteng dan emang menawan kayak Pangeran Disney yang keliatan gay dan dia punya tubuh yang ramping. Tapi gak seramping dia. Dia pasang kacamatanya.
**Ellen** senyum ke arah laki-laki itu dan matanya berbinar. Laki-laki itu senyum ke arah dia dan nunduk buat cium bibirnya. **Andel** tiba-tiba ngerasa gak enak waktu laki-laki itu hampir cium dia. **Andel** naruh tangannya di bahu laki-laki itu dan mereka berhenti. **Ellen** melongo dan **Andel** natap dia dari ujung kaki sampai ujung rambut.
“Sayang, kenapa kamu dandannya kayak gitu?” tanyanya. “Masuk dan ganti baju kamu.”
“Apa?” Dia cemberut.
“Berarti kamu pasti cowok yang lagi dia pacarin.”
**Andel** natap dia dengan matanya dan dia senyum ramah. Tapi **Andel** cemberut waktu dia ngerasa ada sesuatu yang gak beres sama cowok itu.
“Aku Seth.” Dia senyum dengan gigi putihnya yang penuh.
“Oke. Aku Oliver, kakak iparnya.” Mereka salaman dan **Andel** megang erat tangan laki-laki itu. Laki-laki itu bahkan gak berkutik.