Makan Malam Bagian 1
Andel duduk di samping Fox yang menyamar jadi cowok culun dengan jenggot. Dia menyamar jadi salah satu anggota keluarga yang datang dari jauh. Semua orang ngobrol sama dia santai kayak dia bagian dari keluarga mereka.
Dia nanya berkali-kali apa sih tujuan pertemuan itu. Dia bilang itu Thanksgiving dan apa pun itu, makanannya enak dan dia nikmatin waktu sama keluarga Pattinson. Tapi ada juga keluarga Mondragon, kayak dia, terus ada ayahnya yang cuma ngelirik dia karena dia nggak mau dikenali siapa pun.
Edmond cuma setuju dengan ngangguk. Dia mulai bosen jadi dia nge-chat Ellen. Ellen ngelirik Andel dan dia berdehem. Dia ngelirik Percy yang lagi asik ngobrol sama sepupu mereka dan Andrew yang juga ngobrol sama orang lain. Zachary dan Andy sibuk banget sama urusan masing-masing dan Fox cuma diem.
Andel pamit dan pergi dengan bayangan. Terus beberapa menit kemudian, telepon Ellen bunyi dan dia pamit juga, naik ke atas sambil ngomong di telepon kayak lagi ngobrol sama temen ceweknya.
Dia jalan melewati beberapa kamar dan nggak lama kemudian seseorang narik dia ke kamarnya. Orang itu bawa dia masuk dan ngejepit dia di pintu. Ellen meluk dia erat-erat.
"Apaan sih sama makan malam sialan itu?" Dia nanya dan berlutut di depan dia terus meraih celana dalamnya.
"Andel..." Dia bergumam.
"Aku laper." Dia bilang terus ngunci pintu dan setelah dia buka celana dalamnya, dia gendong dia ke tempat tidur.
"Kamu nggak suka makanan yang tadi?" Dia nanya.
"Aku suka, tapi aku lebih suka makan kamu di bawah sana." Dia ngedipin mata. Dia cekikikan dan dia buka kakinya lebih lebar buat dia.
"Kamu emang gitu." Dia cekikikan dan biarin dia ngelakuin apa yang dia mau.
Dia datang dan dia buka kancing celana Zachary buat ngelepas yang sakit. Dia masukin ke dalem dia dengan lega.
"Tsk. Gadis kecil, kenapa aku nggak pernah bosen sama kamu?" Dia nunduk dan cium keningnya.
"Kamu sayang banget sama aku." Dia meluk dirinya.
"Bener." Dia cium pipinya turun ke lehernya. "Aku sayang banget sama kamu sampai aku nggak bisa cukup." Dia dorong dia dan dia tersentak dan memegangnya erat-erat.
***
Andy sengaja ngalihin perhatian Zach dari Ellen biar mereka berdua bisa kabur dan ngelakuin apa yang mereka mau. Begitulah cara Andy sayang sama sepupunya. Pokoknya, cowok ganteng ini mulai sadar kalau dia sengaja godain dia biar dia nggak mikir buat mata-matain Ellen.
"Andromeda," Dia remes pahanya dan dia hampir menjerit. "Makan makananmu." Dia bergumam.
"Oke, cuma..." Dia dorong tangannya dan terus makan. "Sabar, oke?" Dia senyum ke dia.
"Jadi, kapan kalian berdua berencana punya anak?" Bibi Grace-nya nanya. Andy berhenti makan dan dia menghindari ketegangan tapi Zach naruh tangan di pahanya buat nenangin dia.
"Aku dan Andy masih nikmatin masa bulan madu." Dia bilang.
"Kami nggak sabar lihat Andy kecil dan Zachy kecil lari-larian. Kalian berdua cocok banget bakal bikin anak kayak Dewa atau Dewi." Grace nambahin.
"Andromeda itu Dewi aku," kata Zach santai kayak biasa aja ngomong gitu terus dia ngedipin mata ke dia. "Tapi jangan ngomongin kita. Aku nggak mau bagi dia."
Semua orang nggak nyangka Zachary Pattinson bisa seromantis ini ke Andromeda. Sekarang, gosip tentang mereka yang pacaran selama lima tahun udah nggak jadi gosip lagi.
Andromeda nggak mau ketemu keluarga mana pun dan pengen hubungan mereka tetap pribadi dan nggak ada yang ngomongin atau apa pun tentang mereka. Jadi, cuma beberapa orang yang tahu tentang hubungan mereka.
Makan malam keluarga berjalan lancar tanpa Ellen dan satu orang lagi yang hilang. Nggak ada yang sadar mereka pergi ke mana. Bahkan Zach yang terlalu sibuk sama istrinya.
Zach bawa dia ke tempat mereka ciuman pertama, yaitu di taman tempat ada hammock-nya. Ciuman itu nggak sengaja tapi terus, setelah dia mabuk untuk pertama kalinya, dia tanpa sengaja ngebantuin dia dan mereka ciuman lagi.
Mereka rebahan di sana dengan tenang di pelukan masing-masing dan natap bintang-bintang. Romantis dan sederhana banget. Andy suka hal-hal kayak gini dan dia juga. Nggak pernah sama cewek-ceweknya yang lain, bahkan yang pertama, suka hal kayak gini. Mereka lebih suka cewek-cewek pesta dan pergi ke tempat-tempat mahal.
"Gimana perjalananmu?" Dia tiba-tiba nanya.
"Perjalanan ke hutan?" Dia nanya dan terus ngelus dadanya.
"Iya."
"Seru banget." Dia ngelihat dia. "Tadi Bibi nyebutin soal anak."
"Jangan dipikirin." Dia cium keningnya.
"Kamu mau punya anak? Banyak gitu?" Dia nanya.
"Tentu aja." Dia merem. "Kalau sama kamu, aku mau banget."
Iya, dia ngerasa bodoh sekarang. Dia pengen dia bahagia. Tapi dia bohong dan dia bersalah. Dia masih takut. Dia nggak bisa kasih itu ke dia. Dia nggak bisa bilang itu ke dia. Dia takut banget sekarang.
"Hmm." Dia buang muka dan pegang tangannya.
"Kalau kamu udah siap, kita bisa konsultasi sama dokter soal itu. Masih ada harapan buat kita punya keluarga yang kita mau."
"Oke." Dia masih takut. Gimana kalau dia kehilangan itu lagi, dia mungkin bakal ninggalin dia?
***
Moira makin bosen di dalam istana Alanis. Jadi, dia keliling sendirian terus dia nemu tempat berkumpulnya para pembunuh bayaran. Kayak menara lain dan lebih luas, mereka semua ngelihatin dia. Mereka semua berdiri dan hormat ke dia.
Yah, dia sekarang adalah wanita di istana... Lebih tepatnya ratu. Dia ngangguk ke mereka dan ngelihat senjata yang mereka pegang.
"Di mana lapangan tembaknya?" Dia nanya. Seseorang maju dan membungkuk ke dia. Terus dia ulurin tangannya ke arah sana dan dia ngangguk saat pria itu nuntun dia ke lapangan tembak.
Dia naikin alisnya. Lapangan tembak ini keren banget.
"Gimana kalau kita main?" Dia senyum ke mereka. Mereka semua saling pandang. "Bukan bunuh-bunuhan atau apa gitu." Dia bilang. "Karena ada skornya, gimana kalau kita ambil penembak terbaik dan main?"
Beberapa orang maju dan para pelayan nyiapin senjatanya buat mereka. Dia megang senjata paling cantik yang pernah dia pegang.
"Ini cantik banget." Dia bilang ke pelayan.
"Tuan pribadi yang beliin buat Anda. Ini edisi terbatas."
Matanya melebar. Apa Alanis baru aja ngasih dia senjata? Dan apa dia lagi ngawasin dia sekarang? Ugh! Tentu aja, banyak mata di sekitar istana.
"Makasih." Dia bilang dan nyoba senjatanya tanpa peluru.
Mereka semua berbaris dan mulai menembak dengan enam peluru dan skor sempurna, bakal saling adu lagi. Saat dia lagi masukin peluru ke magazin, dia ngadep ke kaca di sisi kiri. Kaca itu gelap dan dia nggak bisa lihat orang di dalem tapi seseorang lagi ngelihatin dia.
Seorang pelayan datang dengan baki perak dan telepon di atasnya. Dia ambil dan tempelin ke telinganya.
"Jadi, kamu ngelihatin aku selama ini. Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu punya lapangan tembak? Apa kamu mau ngebunuh aku karena bosen?"
Alanis tertawa di seberang telepon.
"Ratu, aku nggak nyebutin itu karena kamu bakal di sana seharian penuh."
"Terserah. Cuma lihatin dan lakuin aja apa yang kamu lakuin. Aku sibuk." Dia matiin telepon dan balikin ke pelayan.
Lampu di ruangan nyala dan dia ngelihat Alanis, duduk di kursi putar ngelihatin dia. Dia geleng-geleng kepala dan muterin matanya.