Ramalan Bagian 2
Ellen cuci piring sementara Andel mondar-mandir setelah dengar apa yang terjadi. Prediksi-nya bener. Dia gak bisa duduk, meskipun Zach bilang dia baik-baik aja dan Nicholas udah ketangkep, Andy masih kaget banget.
Dia selesai cuci dan terus duduk di sofa terus ngegenggam tangannya. Dia jadi tenang
dikit dan pegang tangannya. Dia pegang keduanya terus ngecek.
"Lain kali kalau kamu cuci piring, pake sarung tangan."
Semua kekhawatiran-nya tentang kejadian udah cukup, tapi dia masih khawatir sama tangan-nya.
"Kamu kan cewek kecil aku dan aku gak mau tangan kamu kotor atau kasar." Dia cium keduanya.
"Andel." Dia cekikikan. "Udah deh, tidur aja. Kamu capek banget."
"Maaf ya aku biarin kamu masak dan gak bantu cuci piring."
"Gak papa." Dia bilang. "Aku ngerti kok."
"Kamu harus selalu cantik." Dia cium hidungnya. "Gimana kalau pijat?" Dia nyengir ke dia.
"Oke."
Ellen gak pernah ngerasa kayak Ratu seumur hidupnya. Sekarang, yang ini, cinta dalam hidupnya memperlakukan dia kayak gitu.
Dia mijitin seluruh tubuhnya dan bukan cuma seluruh tubuhnya, dia ngelakuin sesuatu yang bikin mikir dan semuanya
berakhir di adegan panas.
Andel geser ke sampingnya dan biarin dia punya ruang. Dia buang napas dan pelan-pelan mendekat ke dia.
"Jadi? Kamu mau apa lagi?" Dia nanya.
"Uhm," Dia mikir sebentar terus megang perutnya. "Andel, gak ada yang aku mau di Natal ini kecuali kamu." Dia ngedip.
Dia ketawa dan megang wajahnya yang menggemaskan.
"Kamu nakal banget." Dia duduk. "Aku gak punya kado buat kamu soalnya aku gak punya uang." Dia ngedip. Dia senyum
dan megang batang tebalnya.
"Ini kan hadiah kamu, iya kan."
Senyum Andel memudar saat dia ngeliat ke bawah batang yang dia pegang. Dia buang napas.
"Sayang, aku baru aja dapet pukulan keras di dalem kamu." Dia lepasin tangannya dan narik laci sambil ngeluarin
sebuah kantong kertas kecil. "Ini hadiah aku buat kamu."
Dia duduk dan buka dengan semangat. Dia ngeluarin kotak kecil dan ngebukanya. Dia berharap
kalo itu cincin, tapi dia tau dia belum mau ngasih itu ke dia. Tapi, dia terpesona sama
sepasang anting yang indah. Itu anting ametis dan ada berlian kecil dan warnanya perak.
"Ini cantik banget." Dia kasih ke dia supaya dia bisa pasangin ke dia. Dia ambil remot dan nyalain
lampu dan bantu dia masangin. Cocok banget di dia. Dia ngelus rambutnya dan senyum ke dia.
"Kamu imut banget." Dia cium bibirnya. "Aku cinta kamu, Kucing kecilku."
"Aku lebih cinta kamu, beruang besarku."
***
Moira nikmatin suara biola. Itu bikin dia tenang. Meskipun belakangan ini ada masalah besar
ke Zach dan Andy, dia berhasil ngumpulin dirinya dan sekarang, Alanis ada di sana
untuk bikin dia merasa lebih baik.
Dia pegang tangan kiri dia dan kagum sama cincin yang dia pake. Seandainya dia bisa nikahin dia
sekarang juga. Tapi gak masalah buat sekarang, kalau dia deket sama dia dan mereka saling
deekat.
Dia cium bahunya dan ngambil kotak.
Dia ambil dan bukanya. Dia berhenti ngeliat sepasang cincin emas dengan berlian kecil di atasnya.
Dia tekan tubuhnya ke punggungnya dan tekan bibirnya.
"Apa ini bagus buat cincin pernikahan kita? Kita simpen aja."
Dia diem sebentar. Terus dia tutup dan ngadep ke dia. Dia ngeliat ke atas ke dia dan terus
dia nyelipin wajahnya ke dadanya.
"Maaf, aku gak bisa nikahin kamu sekarang."
"Aku gak minta kamu buat nikah sama aku sekarang juga. Selama kamu tunangan aku dan kita tinggal bareng
dan kamu suka setiap aku bercinta sama kamu."
Dia cemberut dan ngangguk.
"Aku minta maaf, Ratu-ku. Aku gak bisa penuhi semua yang kamu butuhin."
"Kamu udah cukup bikin aku puas. Aku gak minta apa-apa lagi. Aku cuma orang biasa dan Al, semua yang kamu lakuin
terlalu banyak dan cukup buat aku. Dan aku minta maaf kamu harus merintahin tentara kamu buat perang sama Yves
buat aku." Dia pegang wajahnya. "Ganteng, aku cuma bakal gebukin dia biar perang berhenti."
"Gak. Itu udah mulai. Dan," Dia cium ujung hidungnya. "Itu bukan hadiah aku sama sekali." Dia pegang tangannya
dan narik dia ke pohon Natal raksasa mereka. Matanya melebar. Setidaknya ada 12 hadiah di bawah pohon.
"Hmm, ini buat aku?"
"Iya." Dia ngangguk. "Aku pengen isi waktu-waktu itu kamu gak dapet hadiah apa pun."
"Oke." Dia tarik tangannya dari dia dan naro kotak itu di meja tengah. Terus dia mulai ngebuka masing-masing.
Alanis ngeliatin dia dengan bahagia. Dia gak pernah ngasih hadiah kayak gini ke siapa pun. Dia gak pernah tau
kalo dia bakal seneng banget dan semangat banget tentang hal-hal sederhana itu. Di kotak besar, dia bukanya dan matanya melebar karena ada anak kucing dan anak anjing berbulu muncul dari situ.
Dia ngeliat ke dia dan ambil keduanya dan meluknya. Sekarang dia punya teman. Anak anjing Rottweiler dan Kucing Persia.
"Makasih." Dia bergumam. Anak kucing itu ngusap dirinya ke dia sementara anak anjing itu mulai lari-larian dan main sama bungkus hadiah.
"Kamu suka?" Dia nanya.
"Aku suka banget." Dia cium kucingnya dan terus anjingnya ngegonggong ke Alanis dan lompat ke dia dan mendarat di sepatunya. Dia angkat dan mulai ngelusnya. "Ini mahal." Dia bilang ke dia.
"Iya. Anjing corgi bakal jadi yang terbaik soalnya mereka anjing kerajaan, tapi aku tau kamu butuh anjing penjaga, jadi Rottweiler salah satu yang terbaik." Dia cium hidung Rottweiler dan kasih ke dia. Anjing itu mulai menjilat pipinya terus ngelakuin hal yang sama ke kucingnya terus dia lompat lagi dan mulai lari-larian.
Dia menghela napas dan ngeliat ke dia.
"Bayi sementara kita." Dia pegang wajahnya dan cium dahinya. "Kamu mau tidur? Atau nikmatin hal-hal yang aku beliin buat kamu?"
"Aku mau peluk peliharaan aku dulu." Dia bilang dan balik badan dari dia. Dia buang napas. Yang pertama adalah pilihan terbaik, tapi dia lebih milih sama peliharaan. Sekarang dia nyesel beliin dia peliharaan.
"Gimana kalau kita rayain Malam Natal kita? Kita makan?"
Dia ngeliat ke dia sebentar terus ke peliharaan-nya yang menggemaskan.
"Uhh…"
"Aku bakal kirim mereka balik aja deh." Dia pegang anak anjing dan naro dia balik di kotak.
"Gak! Kamu udah kasih itu ke aku. Mereka milik aku!" Dia nutupin Rottweiler di depannya. Wajahnya menggelap dan dia pegang dagunya.
"Kita makan malam. Mereka punya kamar dan pengasuh. Kamu gak harus merhatiin mereka 24/7. Atau kamu lebih milih sama mereka daripada aku?"
"Kenapa kamu cemburu banget sih?" Dia kasih kucing itu ke dia dan terus ngambil cincin pernikahannya dan dia lari ke atas buat naro di laci. Alanis ada di belakangnya dan dia memiringkan kepalanya ke bawah karena kucing itu mendengkur di dadanya.
"Kamu cuma cemburu sama anjing dan kucing?" Dia melambai ke dia dan dia balik badan dan pergi ke ruangan lain tempat kucing itu berada.
Dia cuma nyediain ruangan terpisah buat anjing dan kucing. Dia balik lagi dan narik lengan bajunya.
"Siapa nama kucingnya?" Dia nyusun beberapa hal karena dia mikir mau naro di mana barang-barang yang dia beliin buat dia.
"Kitty." Dia nyengir. Dia cemberut ke dia. "Namanya Ash soalnya bulunya kayak abu. Terus si kecil Knight… dia bakal lindungin kamu."
Dia gigit bibir bawahnya terus dia naro tas itu balik ke rak dan berjalan ke dia.
"Kamu tau gimana caranya bikin aku seneng." Dia pegang tengkuknya dan melilitkan tangannya di sekelilingnya dan dia berjinjit.
"Tentu aja, aku kan Raja kamu." Dia nyengir ke dia. Dia gigit bibirnya buat menghindari beberapa kata dan dia cium bibirnya.