Bab 10: Aku Tidak Hamil
Dia pergi dengan cepat. Di jalan menuju kelas Kendra, hapenya bunyi. Lendon udah balikin hapenya kemarin. Ternyata Bianca yang nelpon. Kendra ragu-ragu sebentar trus ngangkat.
"Halo," Suaranya terdengar kurang semangat.
"Kendra! Kamu di mana?" tanya Bianca.
"Aku di sekolah," jawab Kendra.
"Kamu kemana aja sih? Aku telponin terus, tapi hapemu mati. Kamu baik-baik aja kan?" tanya Bianca khawatir.
Ingat apa yang terjadi beberapa hari ini, Kendra kesel trus diem aja. Beberapa detik kemudian, dia bilang, "Aku baik-baik aja. Aku lagi buru-buru, aku tutup teleponnya ya. Nanti aku telepon balik."
"Tunggu, aku liat kamu sekarang. Jangan pergi, please." kata Bianca, ngejar dia.
Kendra bingung. Gak lama, Bianca muncul di depannya, ngos-ngosan.
"Ngapain kamu kesini?" Kendra natap adiknya.
Bianca pegang lengan Kendra dan jawab, "Aku harus ikut kuliah. Luka kamu gimana?"
Bianca ngeliat Kendra dan gak nemuin bekas luka lagi. Dia khawatir dan nanya, "Udah sembuh total? Kamu mau ngapain sama bayimu?"
"Aku gak hamil. Aku ke rumah sakit, dan dokter udah obatin luka aku." Singkat aja, Kendra jelasin, "Kuliah apa yang mau kamu ikutin?"
"Kamu gak tau? Michael udah balik. Papa nyuruh aku ikut kuliahnya. Aku tau kamu juga ada disini, jadi aku mau pergi sama kamu." Bianca senyum ke dia.
Michael? Calonnya? Kendra gak pernah ketemu dia sebelumnya, secara pribadi. Kenapa dia tiba-tiba balik?
Bianca nyadar Kendra lagi gak fokus, jadi dia kibasin tangannya di depan mata Kendra dan bilang, "Kendra, gak usah mikirin apa yang papa bilang waktu itu. Dia cuma lagi marah. Aku gak bakal rebut calon kamu kok."
Kendra senyum kecut. Dia tau papanya serius. Mereka nyimpulin dia hamil, jadi mereka ngusir dia. Robert bukan papanya lagi.
"Jujur, aku gak peduli lagi. Kuliahnya dimana sih? Yuk, kita pergi." Kendra mulai jalan.
Bianca ngekorin dia, "Di ruangan 402."
Michael Baker itu pengacara terkenal. Sejak lulus dari Harvard Law School, dia pergi ke Inggris dan lanjut kuliah. Dia udah menangin banyak kasus yang susah, jadi orang-orang manggil dia "pembunuh berdarah dingin."
"Ramai banget disini." Bianca menghela nafas. Ruang pertemuan yang luas itu penuh orang saat mereka masuk.
Kendra dan Bianca akhirnya nemuin dua kursi dan duduk.
Beberapa menit kemudian, Kendra nyadar ada informasi yang muncul di layar tentang Michael, "Aku gak tau kalau dia temen sekolah aku dulu." Dia baca semua informasinya trus bergumam, "Dia jenius banget!"
"Tentu aja, calon kamu harusnya pinter." Bianca ngejek dia.
Kendra senyum kecut dan gak bilang apa-apa. Dia hampir gak tau apa-apa tentang Michael. Ayahnya cuma bilang dia udah tunangan sama dia.
Setelah kuliah dimulai, pembawa acara ngenalin Michael sebentar dan ngundang dia ke panggung. Semua orang tepuk tangan, muji dia.
Ini pertama kalinya Kendra liat Michael secara langsung. Dia pake setelan kasual dan jalan ke panggung dengan elegan. Waktu lampu sorot kena wajahnya, dia keliatan begitu hangat. Kayaknya "pembunuh berdarah dingin" gak cocok buat dia. Michael lebih kayak pria sejati daripada monster Lendon di rumah. Dia ngegeleng saat nyadar pola pikirnya. Dia natap profil tampan Michael, dia berdiri di panggung dengan tenang.
"Kendra," Bianca manggil dia.
Kendra balik ke kesadarannya. Dia nengok ke adiknya.
"Kamu tertarik sama dia ya?" Bianca nanya santai.
"Enggak, enggak sama sekali." Kendra blushing, dan bibir kecilnya melengkung tipis. Dia ngindarin pandangan Bianca.
"Muka kamu merah kayak apel." Bianca natap Kendra dan ngejek dia.
Kendra ngelirik Bianca dan ngerasa campur aduk.
Bianca berhenti bercanda dan dengerin kuliahnya dengan seksama.
"Hai, semuanya. Senang bertemu dengan kalian." Suara Michael terdengar.
Suara Michael terdengar begitu mempesona sampai para cewek pada histeris. Mereka ngebahas dia dengan heboh.
"Ya Tuhan, dia imut banget."
"Dan suaranya menarik banget."
"Jangan tertarik sama dia. Aku denger dia udah punya tunangan. Dia udah tunangan sejak kecil."
"Apa? Siapa tunangannya? Oh, aku iri banget sama dia."
"Gak tau. Tapi aku denger Michael balik buat nikahin cewek itu kali ini."
"Sayang banget!"
Kendra denger obrolan cewek-cewek itu dengan jelas. Michael balik buat nikahin dia? Selama ini, dia gak pernah peduli sama pertunangan mereka. Kenapa dia tiba-tiba mau nikah sama dia? Kendra megangin dagunya dan mikir. Waktu dia ngeliat Michael, Michael kebetulan ngeliat dia juga. Michael senyum ke dia waktu mata mereka ketemu.
Kendra blushing seakan dia ketahuan curi-curi pandang ke dia tanpa izin. Dia langsung nundukin kepalanya dan pengen ngumpet di lubang.
"Wow, dia senyum!"
"Dia senyum ke aku! Ya Tuhan, dia ganteng banget."
"Kamu bercanda? Dia ngeliatin aku."
"Jangan bohongi diri sendiri!"
Waktu kuliahnya selesai, Michael udah dapet banyak fans. Cewek-cewek itu bahkan gak pergi.
Kendra dan Bianca akhirnya keluar dari ruang pertemuan. Waktu Kendra nganter Bianca keluar kampus, dia liat Robert berdiri di depan.
Kendra diem aja dan gak bilang apa-apa.
"Aku nyuruh papa buat dateng. Ngobrol sama papa. Gimana pun, kita keluarga kamu. Bilangin aja kamu gak hamil." Bianca pegang lengan Kendra dan jelasin.
"Gak perlu," kata Kendra dingin. Dia masih inget gimana Robert ngumpat dan ngebentak dia. Kenapa dia harus repot-repot jelasin lagi?
Robert denger perkataan Kendra dan juga ngerasa sedikit marah.
"Kendra, papa mungkin salah paham. Tapi dia papa kita. Aku udah susah payah nyuruh dia buat dateng kesini. Ngobrol aja sama dia." desak Bianca.
Denger perkataan Bianca, Kendra menghela nafas dan bilang, "Ayo kita pergi."
Kendra dan Bianca jalan ke Robert bareng.
Tapi, waktu Kendra berdiri di depan Robert, hal pertama yang dia tanyain adalah, "Aku denger kamu aborsi."
Kendra langsung emosi dan natap Robert dengan tajam. Dia harus gigit bibirnya buat nahan marahnya.
"Jangan lakuin hal bodoh kayak gitu lagi," kata Robert santai. Dia nepuk bahu Bianca dan bilang, "Kamu ikut kuliahnya gak? Nanti aku ajak kamu ketemu Michael."
"Papa," Bianca mengerutkan dahi dan bilang, "Harusnya ajak Kendra dong? Kendra kan tunangannya."
"Bianca!" Robert natap Bianca dan ngingetin, "Aku udah bilang apa? Jaga omonganmu."
Kendra ngerasa dia orang asing disini. Dia ngepelin tangannya dan bilang, "Aku harus pergi."
"Kendra!" Bianca manggil Kendra dan pengen nyuruh dia buat tetep disitu.
Waktu Kendra berbalik, sebuah Bentley hitam berhenti di sampingnya.
Seorang pria turun. Ternyata Michael. Mereka semua kaget.
"Mr. Miller." Michael nyapa Robert dan tersenyum.
Entah kenapa, Kendra natap Michael dan gak bisa bergerak.
Robert ngelirik Kendra dan narik Bianca mendekat ke Michael. "Kuliahnya gimana?" Dia nanya ramah.
"Bagus," kata Michael. Dia ngeliat Bianca dan nanya, "Dia siapa?"
"Dia anakku. Bianca, bilang halo." Jawab Robert langsung.
"Halo," kata Bianca canggung.
"Halo," kata Michael dan jabat tangan Bianca dengan sopan.
Kendra ngerasa malu banget, ngeliat mereka ngobrol dengan enak. Robert sama sekali gak mikirin gimana perasaannya. Dia gak seharusnya ada disini.
Kendra senyum kecut dan pengen pergi.
Saat itu, Michael nyadar Kendra, yang lagi berdiri di dekat mereka, dan nanya, "Dan dia siapa?"