Bab 46: Kamu Harus Tidur
Waktu berlalu cepet banget, tapi Kendra saking fokusnya, dia gak nyadar sampe hampir tengah malem. Pas dia mulai agak capek, dia mutusin buat berhenti.
"Lendon, udah malem nih, besok aja ya," kata dia sambil ngambil buku-buku itu dan naruh lagi di lemari pajangan.
Lendon ngangguk dan nyender lagi di sofa.
"Ya ampun, udah malem banget. Tuan baru keluar dari rumah sakit. Jangan begadang, deh," Curtis masuk dan ngingetin Lendon.
Kendra tiba-tiba inget Lendon baru sembuh. "Kamu tidur aja sana. Aku juga mau balik kamar," dia nyuruh Lendon sambil nguap.
Lendon keliatan kesel dan gak mau noleh ke arah Curtis, yang sekarang berdiri di samping mereka, "Santai aja, gue gak papa. Kamu yang tidur sana,"
Kendra natap dia serius, bingung, dan mulai pusing. Kalo dia gak istirahat malem ini, dia gak bakal punya energi buat besok. Tapi mikirin waktu yang mepet sebelum ujian, dia berubah pikiran, "Gue mutusin buat lanjut baca buku,"
Dia ngambil beberapa buku lagi dan siap buat duduk lagi di kursinya.
"Kendra, udah, istirahat, deh," Lendon kedengeran kesel, natap dia dengan muka dingin. Gimana bisa dia begadang malem-malem?
Dia ngusap-ngusap jidatnya dan bilang, "Nggak, gue harus ngafalin." Aslinya, dia emang belum familiar sama hukum internasional, jadi dia butuh lebih banyak waktu buat ngafalin semuanya.
Lendon nyamperin dia dan ngangkat dia.
"Kamu ngapain sih?" Kendra cepet-cepet meluk leher Lendon biar badannya gak jatuh. Dia malu banget, ngeliat Curtis di samping mereka.
"Udah waktunya tidur. Kamu bakal ngantuk besok kalo begadang," Lendon ngelirik Kendra dan memperingatkan, "Jangan bilang nggak ya."
Kendra langsung diem dan geleng-geleng kepala. Mereka jalan ngelewatin Curtis, dan dia nyembunyiin mukanya di dada Lendon. Dia bisa nyium aroma segar parfum Lendon. Senyum muncul di sudut bibir Curtis sambil ngeliatin mereka.
Lendon ngebawa Kendra balik ke kamarnya dan nyuruh dia mandi. Sepuluh menit kemudian, Kendra keluar dari kamar mandi. Lendon berdiri di depan jendela dan lagi nelpon seseorang. Ngeliat Kendra keluar, dia senyum dan nyamperin Kendra, meluk pinggangnya.
Kendra berontak tapi cuma bikin Lendon meluk dia makin erat. Dia manyun dan natap Lendon. Lendon lagi nelpon urusan bisnis, tapi matanya natap Kendra serius banget. Tiba-tiba, Lendon nyembunyiin kepalanya di leher Kendra dan nyium dia rakus. Habis mandi, Kendra wangi banget kayak permen, dan Lendon pengen gigit dia! Kendra gak nyaman dan bergumam.
Dia pelan-pelan nyoba buat menjauh dari badannya, tapi Lendon gak ngebiarin dia gerak. Lendon tiba-tiba kaku dan ngangkat kepalanya. Dia natap mata Kendra, dan tatapannya penuh amarah yang membara, ngancem dia buat gak pergi.
Kendra ngalihin pandangan dengan gugup dan pipinya merah.
Lendon mulai gak sabaran sama teleponnya dan bilang, "Oke, udah. Bikin laporan aja." Dia pengen langsung matiin teleponnya.
"Tuan Martin, udah malem nih. Boleh saya…"
"Lo gak mau ngerjain? Dipecat. Jangan masuk kerja besok," kata Lendon dan langsung matiin teleponnya. Dia ngelempar teleponnya ke kasur dan nindihin Kendra ke tembok, nyium dia dengan mendesak.
Kendra berontak dan nyoba buat dorong dia. "Udah malem. Aku harus tidur!" dia ngingetin Lendon.
Lendon natap Kendra dan ngusap bibirnya setelah nyium dia, tapi akhirnya dia nyerah dan bilang, "Oke, tidur sana." Dia ngebawa Kendra ke kasur dan masih natap dia.
Kendra buka mata dan sama sekali gak ngantuk.
"Kamu gak mau pergi?" Kendra nanya.
"Iya." Lendon ngangguk, dan tangannya tiba-tiba meluk dia.
"Kamu gak mau tidur?" Kendra nanya lagi.
"Kamu mau aku tidur di sini?" Lendon ngejek dia. "Aku suka tidur sama kamu," dia berbisik dan ngegigit telinga Kendra.
Kendra nyolek, "Dengar, udah malem, dan kamu baru sembuh, kamu gak bisa ngapa-ngapain,"
"Kenapa nggak? Aku lagi dalam kondisi yang bagus nih," Dia ngejek lagi.
Kendra muter bola mata, "Aku capek, lagi gak mood,"
Alih-alih ngejawab dia lagi, Lendon nangkep bibirnya, nyium dia dengan penuh gairah sampe mereka berdua ngos-ngosan.
Kendra gak bilang apa-apa tapi merem canggung, nunggu gerakan selanjutnya. Dia mikir dia gak bisa nghentiin dia.
"Sst. Tidur aja, aku mau pergi kok," Lendon nepuk-nepuk Kendra pelan dan bergumam.
Setelah beberapa saat, Kendra akhirnya tidur. Lendon matiin lampu dan keluar dari kamar Kendra.
Curtis ngeliat Lendon keluar dan nanya, "Mau tidur, Tuan?"
"Nggak, aku mau balik ke ruang kerja. Masih ada beberapa dokumen yang harus dicek," kata Lendon dan pergi.
Kendra buka mata pelan-pelan setelah Lendon pergi. Apa dia masih kerja? Dia ngerasa bersalah karena dia udah ngabisin waktu Lendon buat ngajarin dia.
Udah malem. Kastil sepi banget. Lendon masih sibuk kerja.
Curtis berdiri di samping Lendon dan bilang, "Tuan, udah waktunya tidur nih."
"Jam berapa sekarang?" Lendon ngangkat kepalanya dan pelan-pelan mijat pelipisnya. Dia capek.
"Hampir jam 4 pagi," Curtis ngejawab langsung, natap dia dengan iba.
Lendon ngucek-ngucek matanya dan nyender di kursi.
Curtis nuangin segelas air buat Lendon dan bilang dengan khawatir, "Tuan, udah lama banget gak begadang kayak gini."
"Iya, aku tahu," Lendon minum air dan bilang, "Kalo aku gak ngajarin Kendra, aku gak perlu kecapekan kayak gini."
"Tuan suka banget sama Nona Miller," Curtis senyum.
Lendon natap Curtis dan nanya, "Kok kamu bisa bilang gitu?" Apa dia keliatan banget nunjukkin perasaan ke Kendra?
"Tuan gak suka sama dia?" Curtis senyum lagi, "Kalo Tuan gak suka sama Nona Miller, kenapa Tuan baik banget sama dia? Tuan gak pernah peduli sama orang lain kayak gitu sebelumnya,"
Curtis udah nemenin Lendon selama 20 tahun. Dia bisa dengan mudah nebak kalo Tuannya punya perasaan yang besar ke Kendra.
Lendon gak senang, mendengus, "Siapa bilang aku baik sama dia? Apa aku gak baik sama kamu? Aku gak pernah jahat kan sama kamu selama ini?"
Curtis ngerasa lucu dan gak bilang apa-apa. Dia gak mau berdebat sama Lendon karena Lendon gak pernah bersikap gak adil ke dia, meskipun Lendon sering banget berubah suasana hatinya.
"Dia penyelamatku. Satu-satunya orang yang bisa nyembuhin aku, Curtis. Aku butuh dia buat nemuin obat buat racunku. Kamu lupa ya?" Lendon lanjut.
"Tapi…"
"Tapi apa?" Lendon ngelirik Curtis dan nanya dingin.
Curtis langsung diem.
"Curtis, kamu punya pacar gak?" Lendon tiba-tiba nanya setelah beberapa saat.
"Hah?" Curtis bingung.
"Kamu pernah cinta sama seseorang sebelumnya?" Lendon nanya lagi.
Curtis gak tahu kenapa Lendon nanya pertanyaan ini tiba-tiba dan ngerasa gugup. Dia ragu-ragu beberapa detik dan ngejawab jujur, "Pernah."
"Jadi kamu mikir aku suka sama Kendra?" Dia lagi natap Curtis, alisnya naik.
Apa gue salah? Curtis pengen nanya Lendon langsung, tapi dia tahan kata-katanya. "Mungkin Tuan cuma mau berterima kasih, makanya Tuan baik sama dia akhir-akhir ini,"
"Kamu bener." Lendon ngangguk dan bilang pelan. Gimana mungkin dia suka sama cewek bodoh itu? Dia kurang menarik dibanding cewek-cewek yang pernah dia temuin. Dia akui Kendra emang lumayan cakep tapi bukan tipe yang cocok buat statusnya sebagai bangsawan.
"Kamu boleh tidur sekarang." Lendon mengalihkan pandangannya ke Curtis.
"Oke. Selamat malam, Tuan." Curtis bilang dan langsung pergi. Dia nutup pintu dan menghela nafas. Kayaknya Tuan Martin gak bisa liat hatinya sendiri. Apa dia harus bantu Tuan Martin?
Besoknya, Lendon dan Kendra lanjut belajar bareng di malam hari. Tapi dibanding malam sebelumnya, beda banget.
Semua pelayan di kastil ngumpet di luar ruang belajar dan diem-diem dengerin percakapan mereka, termasuk Curtis.
"Aku bilang gak bener. Kamu gak denger aku?" Lendon nanya.
"Tapi profesor aku bilang bener," Kendra berdebat.
"Kamu nanya-nanyain aku? Jangan percaya sama orang tua itu." Lendon bersikeras.
"Tapi…"
"Diem, Kendra!" Lendon teriak gak sabar.
"Mending aku belajar sendiri aja." Dia mendengus. Dia tahu ini gak bakal berakhir baik kalo dia terus berdebat sama dia.
Mereka beda pendapat soal satu soal. Kendra punya pendapat sendiri, tapi Lendon maksa dia buat ngerjain sesuai caranya.
Lendon agak marah dan ngelempar buku ke lantai. "Kamu gak percaya sama aku sekarang?" Dia nunjuk Kendra, mukanya jadi gelap.
"Kamu kenapa sih? Ini bukan masalah besar. Kok kamu marah-marah sih?" Kendra nyaut. Dia bener-bener gak ngerti sikapnya. Lendon gak bisa ngontrol emosinya.
Di mata Lendon, Kendra lebih milih percaya sama profesornya daripada dia. Demi Tuhan, dia lulusan MIT! Dia cuma gak mau dengerin dia.
"Sudahlah. Aku bisa kerjain sendiri aja," Kendra dengan tenang bilang dan fokus lagi ke bukunya.
"Aku laper," kata Lendon pas dia nyadar Kendra gak peduli sama dia sama sekali.
"Aku lagi gak bisa. Kamu gak liat aku lagi belajar? Minta koki buat nyiapin makanan buat kamu," Dia gak ngangkat kepalanya dan bahkan gak ngeliat dia.