Bab 39: Membalas Dendam Padanya
Kendra ngasih tatapan tajam ke dia. Gak mau debat di depan umum, jadi dia ngejabat tangan, balik badan, terus diem aja.
Tapi, Fiona malah narik lengan Kendra lagi sambil melotot, "Resepsionis gak ngebolehin lo masuk juga, kan? Dan lo sok-sokan bangga, emang lo siapa sih?"
"Lepasin tangan lo dari gue. Gak perlu gue jelasin apa-apa ke lo," Dia menyipitkan mata, terus ngejauhin tangan Fiona.
"Dasar jalang, lo pikir gue bakal biarin lo lolos gitu aja? Kalo bukan karena lo, gue gak bakal diusir dari kastil waktu itu. Gue malu banget di depan tamu-tamu Lendon," Fiona ngumpat. Dia udah kenal Lendon lama, dan dia tahu gimana caranya bikin Lendon seneng. Tapi pas Kendra muncul malam itu, dia malah diceburin ke kolam renang dan diusir dari kastil. Memalukan!
Fiona keinget malam itu dan jadi gila mikirin kejadian yang memalukan itu. Dia melotot ke Kendra, terus megangin lengannya erat-erat, "Lo gak bisa kabur hari ini. Gue bakal tunjukkin gimana caranya gue bales dendam ke lo,"
Fiona pengen nampar Kendra sambil ngomong gitu.
Kendra mundur dan bilang, "Lo gila ya? Kita ada di area Martin Group, berenti bikin masalah!" Gimana bisa Fiona sekasar itu?
"Gue gak peduli. Takut, ya?" Fiona ngegerutu marah ke dia.
Resepsionis langsung nelpon tim keamanan.
"Silakan keluar, Nona-nona." Petugas keamanan datang gak lama kemudian dan maksa Kendra sama Fiona buat keluar.
Waktu itu, Lendon lagi di kantornya. Matanya fokus ke proposal, terus tiba-tiba dia ngelempar map itu ke lantai.
"Lo udah ngecek proposal ini sebelum lo kasih ke gue? Apa yang udah lo lakuin? Gue udah bilang buat perbaikin. Gak ngerti ya sama instruksi gue?" Lendon ngegebrak mejanya dan teriak.
"Tuan Martin, saya akan kerjakan lagi." Seorang staf berdiri di depan Lendon sambil gemetaran. Dia takut banget, sampe suaranya juga gemeteran.
"Gue kasih satu kesempatan lagi. Kalo gak bisa, keluar aja dari sini." Lendon melotot ke staf itu. Nunjuk ke arah pintu.
"Iya, Tuan Martin." Staf itu langsung jawab dan langsung ngambil map itu. Dia lari buat ngehindarin omelan Lendon lagi.
Lendon nyender di kursinya dan ngusap dahinya. Dia merem, pengen istirahat, tapi wajah Kendra terus muncul di pikirannya. Gak lama kemudian, Lendon buka matanya dan mengerutkan dahi. Apaan sih? Kenapa dia mikirin Kendra terus akhir-akhir ini? Ada apa sama dia? Dia udah ngelakuin banyak hal bodoh gara-gara Kendra! Lendon kesel dan keluar dari kantornya.
"Denger-denger ada dua cewek berantem di lantai dasar."
"Hah? Mereka gak waras ya? Kok berantem di dalam Gedung Martin?"
"Gak tahu. Tapi mereka berdua ke sini buat ketemu Tuan Martin."
"Oh, gitu. Mungkin mereka cuma mau liat apa ada kesempatan buat ngobrol sama Tuan Martin."
Pas Lendon lewat kantor sekretarisnya, dia denger mereka lagi gosip. Dia berhenti dan tiba-tiba mikirin Kendra.
Salah satu sekretarisnya tiba-tiba nyadar dia lagi ngeliatin mereka dan langsung nanya, "Tuan Martin, kenapa di sini? Eh, maaf, ada yang bisa saya bantu?"
"Kalian lagi ngomongin apa?" Lendon nanya.
"Gak ada apa-apa." Kata sekretaris itu.
"Gue gak mau ngulang kata-kata gue lagi." Lendon natap wanita itu, suaranya penuh ancaman.
"Mereka bilang ada dua wanita berantem di lantai dasar." Sekretaris itu nunduk dan ngomong pelan.
"Tunjukin rekaman CCTV-nya," Lendon perintah. Pas dia liat layar CCTV, dia jadi marah.
Dia liat dua wanita itu di deket gerbang utama. Fiona lagi narik-narik baju Kendra buat ngehentiin dia pergi. Dia ngerasain rahangnya mengeras. Dia langsung pergi dan turun.
Di gerbang utama, Kendra berdiri di pinggir jalan dan ngerasa malu banget. Dia berusaha ngejauhin Fiona dan pengen kabur.
"Ini semua salah lo. Gue gak bisa masuk sekarang," Fiona teriak dan gak mau biarin Kendra pergi.
Kendra gak bisa berentiin Fiona lagi, meskipun dia udah berusaha buat pergi. Dia berjuang buat ngelepasin tangannya, bilang, "Berhenti! Gue bakal nelpon polisi kalo lo gak berenti gila-gilaan gini,"
Gimana bisa orang segila ini? Dia benci debat dan lebih milih pergi daripada berdebat sama orang gila kayak gini.
"Lo gak boleh pergi. Lo harus bayar apa yang udah lo lakuin ke gue hari ini." Fiona narik kerah baju Kendra dan teriak.
Kendra berusaha buat ngejauh dari dia, tapi pas dia gerakin badannya, bajunya sobek.
Kendra megangin kerahnya dengan malu dan berusaha nutupin bagian tubuhnya yang terbuka. Orang-orang yang lewat ngeliatin dia, termasuk staf Martin Group.
"Gue bakal buka baju lo dan biarin semua orang liat tubuh lo." Fiona ketawa, tujuannya buat ngehina dia. Dia pengen banget bales dendam. Gak mungkin dia biarin dia pergi gitu aja.
Pas Fiona berusaha narik baju Kendra lagi, tamparan keras dan kencang mendarat di pipinya.
Kendra marah banget sampe tangannya gemeteran. Dia melotot ke Fiona dan teriak, "Lo memalukan, lo pantes dapet itu,"
"Lo nampar gue?" Fiona balas teriak dan ngangkat tangannya buat nampar dia. Dia pengen hukum dia. Tapi, seseorang megang lengannya dan menariknya.
Fiona jatuh. "Lo... Tuan Martin!" Pas dia ngangkat wajahnya, Lendon lagi natap dia. Gak ada yang tahu kapan Lendon datang karena mereka berdua lagi berantem.
Lendon gak peduli sama Fiona sama sekali dan ngelepasin mantelnya. Dia pakein ke Kendra, dan wajahnya muram.
Kendra gak nyangka Lendon bakal muncul. Dia nunduk dan ngerasa malu.
"Tuan Martin, dia..." Fiona ngomong. Dia pengen komplain.
"DIEM!" Lendon teriak, "Lo sok jago sebelum gue datang ke sini. Gue rasa lo gak belajar dari hukuman terakhir,"
Lendon ngasih isyarat dengan tangannya. Gak lama kemudian, keamanan keluar dari Martin Group dan ngepung Fiona.
"Bawa dia ke kantor polisi. Bilang ke direktur dia melakukan kejahatan penganiayaan yang disengaja. Masukin dia ke penjara setidaknya setengah tahun." Lendon ngomong dingin.
"Siap, Tuan." Keamanan bilang dan narik Fiona.
Fiona panik dan memohon, "Maafkan saya, Tuan Martin. Saya akan minta maaf. Tolong," Dia berlutut di depan Kendra dan nangis.
Kendra mengerutkan dahi dan pengen ngomong sesuatu, tapi Lendon ngelirik Kendra dan bilang, "Lo mau bantu dia? Yakin? Dia udah bikin lo malu beberapa menit yang lalu,"
Lendon mengingatkan Kendra. Dia gak tega ngeliat dia menderita di tangan orang lain.
Kendra menghela nafas dan jelasin, "Gue cuma mikir setengah tahun itu terlalu lama."
"Gue rasa satu tahun lebih baik," Lendon ngomong sarkas.
"Terserah lo deh," Kendra buang muka. Dia nyadar banyak orang yang ngeliatin mereka.
"Saya minta maaf, Nona Miller. Tolong maafkan saya." Fiona terus memohon.
Lendon kesel dan nyuruh keamanan buat pergi.
Keamanan pergi gak lama kemudian dengan teriakan Fiona.
Kendra diem dan mengerutkan dahi. Lendon kayak kaisar yang kejam.
"Apa?" Lendon berbalik buat ngeliat dia. Dia nyadar ekspresi wajah Kendra.
"Gak ada apa-apa." Dia natap Lendon dengan serius tapi nahan kata-katanya.
"Lo datang buat ketemu gue?" Lendon narik dia lebih deket, megangin dagu Kendra. Dia maksa Kendra buat ngeliat matanya.
"Iya." Dia ragu-ragu beberapa detik, terus dengan suara pelan, dia jawab. Dia hampir lupa kenapa dia ke sini.
Lendon tiba-tiba ngerasa seneng dan ngalungin tangannya di pinggang kecilnya. "Ikut gue." Dia bisa ngerasain tubuhnya gemeteran dan gak bisa gak senyum.
Pas mereka jalan menuju pintu masuk utama ke Martin Group, semua orang kaget. Mereka mikir dia spesial karena Lendon gak pernah bawa cewek ke gedung ini, apalagi nunjukin sikap perhatian. Siapa cewek ini?
Dalam beberapa menit, berita menyebar ke seluruh gedung. Semua orang ngebahas Kendra dengan penasaran. Mereka semua natap dia, yang bikin dia gak nyaman.
"Siapa cewek ini?"
"Gak tahu. Tapi dia cantik."
"Dia cantik, tapi gak seksi kayak selebriti yang pengen jadi ceweknya Tuan Martin,"
"Dia kayaknya gak kaya. Mungkin Tuan Martin mau bikin perubahan."
Setelah masuk lift, Kendra akhirnya ngerasa lega.
"Makasih udah nolongin gue, Tuan Martin." Dia ngeliat ke dia.
"Lo ke sini karena kangen gue?" Lendon natap Kendra, wajahnya seneng.
"Apa?" Kendra kaget denger apa yang dia bilang, "Gak, gue..." Dia geleng-geleng kepala tanpa sadar.
"Apa? Gak seneng denger gue seneng lo dateng pas jam kerja? Kendra Miller, ada beberapa cewek yang selalu tersanjung pas gue tunjukkin rasa sayang gue ke mereka," Lendon mendengus. Masalahnya, dia cuma ke sini buat gak ada alasan? Lendon entah gimana ngerasa kesel, gak nyangka gerakannya gak nyentuh Kendra.
Bukannya ngejawab pertanyaannya, dia langsung nemuin keberanian buat nanya.
"Gue mau nanya soal posisi itu."