Bab 72: Mengapa Dia Kembali?
Setengah jam kemudian, beberapa mobil lewat di depan Kendra satu per satu, dan dia cuma bisa jalan selambat mungkin. Dia tahu dia nggak bisa balik jalan kaki. Nggak mungkin banget. Harus gimana, ya? Kendra mikir sebentar dan coba minta bantuan dari mobil-mobil yang lewat, tapi nggak ada satu pun yang berhenti buat nawarin tumpangan. Kendra harus terus jalan kaki. Dia nggak nyangka ada orang yang mau nolongin dia. Nggak lama kemudian, mata kakinya bengkak.
"Sial!" Kendra mengumpat dan duduk di pinggir jalan. Sambil ngeluarin ponselnya dan mikir siapa yang bisa dia telepon, sebuah mobil berhenti di depannya. Kendra ngangkat kepalanya dan ngelihat Lendon nurunin kaca dan natap dia.
Ngelihat mukanya, Kendra jadi kesel banget. Kenapa dia balik lagi?
"Nona Miller, silakan masuk." Curtis turun dan ngajak dia. Dia jalan ke arahnya dan mau bantuin dia berdiri.
"Nggak usah." Kendra ngejauhkan Curtis. Dia lagi nggak mood nerima kebaikan apa pun setelah apa yang Lendon lakuin ke dia.
"Nona Miller, masuk aja," kata Curtis nggak jelas.
"Nggak mau!" Kendra nolak lagi. Dia bukan barang yang bisa Lendon buang dan diambil lagi seenaknya. Dia juga punya harga diri. Dia merasa terhina.
Curtis merasa malu dan ngelirik ke arah Lendon. Lendon nggak ngelihat Kendra, tapi dia gigit bibirnya erat-erat. Jelas banget, dia lagi marah. Kendra bisa nebak suasana hati Lendon dengan jelas, tapi dia nggak peduli. Apa sih yang bisa dia lakuin ke dia?
"Nona Miller, tolong masuk," Curtis memohon dengan pasrah. Kok mereka bisa sering banget berantem sampai akhirnya dia yang rugi? Kenapa nggak ada yang peduli sama dia? Dia kan cuma orang tua miskin!
"Curtis, tinggalin gue sendiri," gerutu Kendra.
Sebelum Curtis sempat ngomong apa pun, Lendon turun dan langsung ngangkat Kendra.
"Kamu ngapain?" Kendra melotot ke Lendon. Dia kaget banget sama apa yang dia lakuin.
"Kalau kamu ngomong sekali lagi, gue jatohin kamu," Lendon memperingatkan dan jalan ke pagar pembatas di tepi tebing.
Kendra ngelihat ke bawah dan teriak, "Kamu gila?"
"Berani-beraninya kamu teriak ke gue lagi?" Lendon ngancam dia.
Kendra gemetaran dan megang leher Lendon erat-erat, "Tolong, aku nggak mau mati." Dia memohon. Lendon pasti marah. Kok dia bisa menghukum dia kayak gini?
"Jawab pertanyaan gue." Lendon natap dia, berusaha nahan ketawanya, ngelihat muka ketakutan Kendra.
"Nggak, aku nggak akan pernah teriak ke kamu lagi," kata Kendra cepat-cepat. Mukanya pucat pasi. Dia harus nyerah sekarang.
Lendon senyum puas, dan dia gendong Kendra ke mobil.
Kendra akhirnya merasa lega. Dia nepuk-nepuk dadanya dan coba nenangin diri.
"Kalau kamu marah lagi sama gue, gue nggak akan balik lagi buat nolongin kamu." Sebuah peringatan jelas keluar dari mulut Lendon.
Kendra ngelihat dia serius dan nggak ngomong apa-apa.
Dia nyebelin banget! Pikirnya dalam hati.
"Mendekat ke gue." Lendon megang tangan Kendra dan bilang.
Kendra mengerutkan dahi dan nggerakin tubuhnya pelan-pelan. Tapi, dia tetap nggak sengaja ngerasain sakit di mata kakinya dan menjerit.
"Kenapa?" Lendon ngelihat ke kakinya dan nanya, "Gue kira kamu udah sembuh. Kenapa?"
Kendra nggak jawab pertanyaannya. Salah Lendon bikin kakinya bengkak kayak gini.
Lendon naruh kaki Kendra di pangkuannya dan mijitnya pelan-pelan.
Kendra ngelihat dia dengan kaget. Kadang-kadang, dia nggak ngerti dia. Dia sering marah karena hal-hal kecil tapi kemudian nunjukkin kelembutannya.
Lendon ngecek kaki Kendra yang bengkak dan bilang, "Curtis, cari rumah sakit."
"Siap, Tuan," Curtis nyuruh sopir buat nyari rumah sakit terdekat.
Waktu mereka sampai di rumah sakit, hari udah hampir gelap.
Setelah setengah jam, Kendra loncat dari tempat tidur.
"Nggak bisa, ya, telepon gue? Kaki kamu luka parah, nggak tahu, ya? Kamu bukan kelinci yang bisa loncat bebas!" Lendon komplain ke dia, mukanya muram. Cewek ini sering banget bikin dia kesel.
Kendra nundukin kepalanya dan diam.
"Jangan lagi, ya." Dia ngangkat Kendra, takut dia bakal luka lagi.
Kendra natap Lendon dan ngerasa aneh. Dia nggak ngomong sepatah kata pun ke dia sekarang, tapi dia kayaknya nggak peduli. Dia cuma terus-terusan ngingetin dia tapi sekaligus merhatiin dia. Dia lagi ngapain, sih?
"Lendon," Kendra manggil nama Lendon tiba-tiba.
"Kenapa?" Lendon nanya.
"Kenapa kamu balik lagi?" Dia perlu tahu jawabannya. Kenapa dia ngedorong dia keluar dari mobil tapi balik lagi buat jemput dia? Dia mau tahu pikirannya. Kenapa tiba-tiba berubah?
"Kamu nakal banget, jadi gue dorong kamu keluar. Tapi… tapi gue takut kamu dalam bahaya kalau jalan kaki di jalan sendirian, jadi gue terpaksa balik lagi," kata Lendon dingin.
"Kamu khawatir sama aku?" Kendra nebak.
"Emang nggak boleh? Gimana kalau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu?" Lendon balik nanya, nggak ngelihat dia.
Iya, pasti bahaya banget kalau dia sendirian di jalan. Lendon seharusnya khawatir sama dia. Di sisi lain, Kendra ngerasa Lendon nggak susah buat diajak ngobrol kadang-kadang. Dia cuma terlalu bossy dan sombong.
"Aku lagi nggak mood hari ini. Maaf," Kendra minta maaf. Dia bertindak impulsif ke Lendon hari ini.
Denger kata-kata Kendra, Lendon ngehentiin langkahnya dan natap mukanya.
"Kenapa kamu natap aku?" Kendra buang muka, mukanya merah.
"Akhirnya kamu ngomong sesuatu yang pengen gue denger," kata Lendon pelan.
Setelah natap dia sebentar, Lendon tiba-tiba merasa tertarik sama dia. Dia naruh dia dan neken dia ke tembok. Walaupun banyak orang yang lewat, Lendon megang dagu Kendra dan nyium bibirnya dengan penuh gairah, nggak peduli orang-orang di sekitarnya.
Kayaknya Lendon udah kecanduan sama dia. Dia bakal merasa nggak nyaman kalau nggak nyentuh Kendra sehari aja. Udah makin parah.
"Lendon." Kendra blushing dan coba ngejauhin dia.
Lendon nggak ngebiarin Kendra pergi dan terus melahap bibirnya.
Orang-orang mulai ngebahas mereka. Beberapa dari mereka bahkan berhenti dan natap pasangan itu.
Kendra ngerasa malu banget. Dia ngejauhin Lendon sekuat tenaga dan narik napas panjang.
"Kendra!" Lendon nggak puas sama apa yang Kendra lakuin.
"Lendon, kita lagi di rumah sakit sekarang," kata Kendra pasrah.
"Oke, kita pulang sekarang." Lendon megang Kendra lagi dan keluar dari rumah sakit.
Bianca ngelihat semuanya dengan jelas di pojokan deket situ. Dia mengerutkan dahi dan mikir apa yang terjadi antara Kendra dan Lendon.
"Bianca, kamu lagi ngapain di sini? Papa kamu nyariin kamu," Marga keluar dari bangsal Robert dan nyusulin putrinya.
"Oke, aku datang." Bianca balik badan dan jalan ke ibunya, tapi bayangan Lendon dan Kendra berciuman mesra bikin dia agak cemburu.
***
Waktu mereka balik ke kastil, Lendon gendong Kendra langsung ke kamar mandi. Dia nurunin dia dengan hati-hati dan nyuruh seorang pelayan buat nyiapin air panas. Terus, dia ngasih isyarat buat bantuin Kendra buka bajunya sendiri.
"Kamu ngapain? Tunggu!" Kendra megang kerahnya dan nanya hati-hati.
"Gue harus bantuin kamu mandi," Lendon ngomong santai.
"Nggak, nggak usah. Aku bisa sendiri," Kendra geleng-geleng kepala buru-buru.
"Lihat kaki kamu! Gimana bisa sendiri?" Lendon ngingetin Kendra, dan dengan nada sedih, dia cerita.
"Tapi..."
"Kendra!" Suara Lendon mulai naik.
Kendra nundukin kepalanya dan nutup mulutnya.
"Jangan malu. Gue udah akrab sama tubuh kamu," kata Lendon dan mau ngebuka baju Kendra.
Kendra megang tangan Lendon dan senyum. "Aku bisa sendiri. Kaki aku sakit, bukan tangan aku," Dia ngeyel lagi.
"Nggak." Lendon nolak. Dia ngebuka semua baju Kendra dari kemeja sampai celana dalam dan naruh dia di bak mandi.
Kendra nutup matanya dan ngerasa malu. Dia nggak pernah minta bantuan cowok buat mandi sebelumnya. Jantungnya berdebar kencang banget sampai dia bisa denger. Lendon juga nggak pernah bantuin cewek buat mandi sebelumnya. Dia nggak familiar sama itu, tapi dia nikmatin ngelakuinnya sama Kendra.
Suasana di dalam kamar mandi jadi panas. Lendon ngusap tubuh Kendra pelan-pelan dan senyum nakal terbentuk di sudut mulutnya. Dia natap tubuh Kendra seolah-olah mengagumi sebuah karya seni.
"Bisa cepetan nggak?" Kendra nanya pelan. Air dan tangan Lendon sama-sama panas. Dia ngerasa kulitnya kayak kebakar.
Lendon nggak peduli sama keluhan Kendra. Akhirnya, Kendra nggak tahan lagi. Dia naruh tangannya di bak mandi dan berusaha buat berdiri. Kalau dia tetep di dalam air lebih lama, dia bakal kebakar.
Kendra kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh. Lendon berusaha buat megang Kendra, tapi dia malah ikut jatuh ke bak mandi juga. Mereka bikin suara keras.
"Tuan Martin, nggak apa-apa?" Para pelayan denger suara itu dan nanya khawatir.
"Nggak apa-apa," kata Kendra. Dia ngerasa pinggangnya hampir patah karena dia mendarat di bak mandi di bawah tubuh Lendon. Mereka dalam posisi canggung, dan dia bisa ngerasain selangkangannya langsung mengeras, membentur tubuh bagian bawahnya. Mereka berdua terengah-engah.
"Kami akan menyiapkan makan malam untuk Anda sekarang. Silakan panggil kami setelah Anda selesai." Para pelayan langsung pergi. Mereka tahu apa yang terjadi di dalam kamar mandi dan nggak akan berani ganggu pasangan itu.
Lendon dengan cepat ngangkat tubuhnya, duduk berhadapan dengan Kendra, dan senyum jahat.
"Kamu ngelihat apa?" Kendra ngusap pinggangnya dan komplain.
Lendon juga basah. Kemejanya nempel di dadanya dan tubuhnya yang sempurna kelihatan hot banget.
"Ini salah kamu. Pinggang aku kayaknya sakit," Kendra buang muka dan komplain.
Lendon nggak ngomong apa-apa tapi cuma natap dia.
Sebelum Kendra bisa ngomong lebih banyak, Lendon narik dia ke pelukannya. Dia nundukin kepalanya dan mengklaim mulutnya yang sedikit terbuka.