Bab 58: Itu Adalah Rencana
Lucy nyamperin dia dengan muka songong, terus bilang, "Gue gak liat kedatangan lo tadi. Gimana caranya lo bisa masuk?" Tanya Lucy.
Waktu Kendra masuk, Lucy lagi sama Bianca, jadi dia gak ngeh sama kehadiran Kendra.
"Gue dateng sendiri," jawab Kendra kalem, terus pengen pergi.
Tapi, Lucy nahan dia. "Lo mau ngapain sih dateng kesini malem ini? Mau ngerusuh pesta ini? Gue ingetin ya, pertunangan ini penting banget buat bokap lo. Mending lo pergi sekarang deh, kalau gue jadi lo," Lucy memperingati.
Kendra ngepalin tangannya, berusaha nahan emosi.
"Kalo lo gak pergi sekarang, gue bakal panggil satpam buat ngusir lo," kata Lucy sambil tepuk tangan.
"Lo!" Kendra kesel banget.
"Dia tamu gue." Sebuah suara muncul dari belakang.
Kendra noleh, terus ngeliat Michael jalan ke arah mereka. Dia kaget Michael ngebela dia.
"Michael, pestanya bentar lagi mulai. Kenapa lo gak siap-siap aja?" Wajah Lucy tiba-tiba berubah, terus dia pasang senyum paling manis sambil ngelirik Michael.
"Gak ada yang perlu disiapin." Michael gak peduli sama Lucy, malah natap Kendra.
Lucy nyadar pandangan Michael, terus memperingati, "Michael, jangan lupa tunangan lo itu Bianca."
"Permisi, bisa gak sih kalian tinggalin kita berdua?" Michael melotot ke Lucy, terus ngasih isyarat tangan biar Lucy pergi.
"Lo..." Lucy gak nyangka Michael bakal sekurang ajar ini, jadi dia bilang, "Michael, mending lo inget siapa diri lo." Dia melotot ke Kendra sebelum akhirnya ngacir.
"Makasih," Kendra ngangguk ke Michael setelah Lucy pergi.
Michael gak jawab. Dia cuma natap Kendra. Harusnya dia yang berdiri di samping Michael sekarang.
"Selamat ya," Kendra senyum sambil nyapa dia.
"Kendra," Michael nyebut nama dia.
"Kenapa?" Dia nunggu kata-kata selanjutnya dari Michael.
"Gak ada apa-apa." Michael buang muka sambil senyum kecut. Gimana caranya dia bilang kalau dia gak bahagia sama pertunangan ini?
Kendra bisa ngerasain kalau Michael gak bahagia. Dia inget apa yang Michael bilang waktu itu. Apa dia beneran gak mau nikah sama Bianca? Tapi apa bedanya Bianca sama dia? Kendra gak ngerti. Kakak tirinya juga cantik, banyak orang yang kagum sama dia.
"Lo kesini sendiri?" Tanya Michael.
"Gak, gue..."
"Nona Kendra, Nona Bianca mau ketemu sama anda." Seorang pelayan tiba-tiba muncul dan memotong pembicaraan mereka.
"Dia mau ketemu gue?" Tanya Kendra ragu.
"Iya, silakan ikut saya," kata pelayan itu sopan.
"Oke," Kendra ngangguk. Dia pamit ke Michael dan pergi bareng pelayan itu.
Michael natap punggung Kendra sambil mengerutkan dahi.
Pelayan itu nuntun Kendra ke sebuah ruangan VIP yang kosong.
"Bianca dimana?" Tanya Kendra bingung. Dia noleh, cuma nemuin pelayan itu udah gak ada dan pintunya udah ketutup. Dia sadar dia udah ditipu.
Kendra lari ke pintu dan nyoba buka, tapi gak bisa. Seseorang mau dia dateng kesini dan ngurung dia. Ini rencana.
"Buka pintunya!" Kendra berusaha keras ngetok pintu sambil teriak.
"Maaf, Nona Kendra. Tuan Miller bilang anda harus disini sampai pestanya selesai," kata pelayan itu dari luar pintu.
Itu Robert!
"Keluari gue. Keluarin gue!" Kendra banting pintu lagi dan bahkan teriak lebih keras kali ini.
"Nona Miller, jangan buang-buang waktu. Kami bakal keluarin anda kalau pestanya udah selesai," Suara pelayan itu terdengar lagi, terus dia pergi.
Apa Robert mikir dia bakal ngerusuh pesta? Makanya dia ngurung dia? Tapi Robert gak tau kalau pesta ini bakal langsung bubar kalau Lendon gak nemuin dia. Kendra khawatir banget dan mondar-mandir di ruangan. Apa yang harus dia lakuin sekarang? Dia gak bawa HP, dan dia gak bisa ngehubungin siapa-siapa? Apa dia harus nunggu sampai pestanya selesai aja?
"Gue harus gimana?" Kendra bergumam dan jalan ke jendela. Dia ngeliat ke atas dan ternyata tinggi banget. Kalo dia manjat, dia bakal jatuh. Kendra duduk di kursi dengan pasrah sambil mikirin cara buat kabur dari ruangan ini.
Hanya sekitar sepuluh menit sebelum pesta dimulai. Waktu Robert tau kalau Kendra dikurung, dia akhirnya ngerasa lega.
Marga nyadar tingkah Robert yang gak nyaman, terus nanya dengan penasaran, "Kenapa, Robert?"
"Kendra ada disini," kata Robert, rasa cemas memenuhi wajahnya.
"Apa?" Marga hampir teriak waktu denger Kendra udah dateng.
"Santai aja. Gue udah ngurung dia. Dia gak bisa ngapa-ngapain," Robert nenangin.
"Apa?" Marga nanya, "Dia sekarang dimana?"
"Di dalem ruangan VIP. Gue udah bilang ke seseorang kalau Kendra gak boleh keluar dari ruangan itu sampai pestanya selesai. Jangan khawatir," Robert nepuk-nepuk punggung Marga pelan buat nenangin dia.
"Ngapain dia kesini?" Marga bilang dengan marah, "Apa dia mau ngehancurin pertunangan ini? Berani banget dia!"
"Lupain aja. Pestanya bentar lagi mulai. Bianca sama Michael dimana?" Robert celingak-celinguk, nyariin dua orang itu.
"Mereka lagi nunggu di belakang panggung. Begitu musiknya mulai, mereka bakal langsung keluar," Marga senyum bangga. Mimpinya bakal segera jadi kenyataan.
Lendon pergi sama Curtis satu jam yang lalu karena dia harus ngobrol sama beberapa pejabat tinggi. Waktu dia balik, Kendra udah gak ada.
"Kendra dimana?" Lendon nanya dengan muram. Dia keliatan agak kesel.
"Gak tau, Tuan," jawab Curtis cepet. Dia selalu nemenin Lendon, jadi dia gak tau Kendra kemana.
"Cari dia!" Lendon membentak dengan dingin.
Curtis ngangguk dan langsung nyari Kendra.
Kendra udah dikurung lebih dari setengah jam, tapi dia masih gak nemuin cara buat keluar. Dia mondar-mandir dengan lelah dan kebetulan ngeliat detektor asap di atas kepalanya. Tiba-tiba, dia dapet ide dan melonjak kegirangan. "Yess, itu dia!" Dia senyum penuh kemenangan.
Kendra ngecek semua sudut ruangan dan akhirnya nemuin selembar kertas dan korek api. Dia langsung ngebakar kertas itu sambil komat-kamit, "Tolong. Tolong, cepet kebakar."
Beberapa detik kemudian, kertas itu terbakar dengan asap tebal. Kendra cepet-cepet naik ke kursi dan megang kertas yang kebakar ke arah detektor asap. Gak lama, alarmnya bunyi, dan air langsung nyemprot. Bener aja, Kendra basah kuyup. Tapi sesuai dugaan, beberapa pelayan langsung lari masuk dengan alat pemadam kebakaran sambil teriak panik, "Kenapa ada kebakaran tiba-tiba?"
Kendra turun dari kursi dan langsung lari keluar. Dia harus cepet. Kalo Lendon tau dia ilang, bakal ribet. Waktu Kendra hampir lari balik ke aula, dia denger suara berisik. Seseorang lagi ngehancurin barang-barang sementara orang-orang teriak. Kendra bisa tau itu kekacauan besar.
Aduh! Dia telat. Kendra berdiri di luar aula dan ngeliat ke dalem. Bener aja, Lendon lagi berdiri di panggung, dan pengawalnya lagi ngehancurin aula. Dia keliatan kejam dan mengerikan.
Robert dan William kaget sama kemarahan Lendon yang tiba-tiba.
Bianca ketakutan, dan keringat dingin muncul di dahinya.
"Kasih tau gue Kendra ada dimana," Lendon natap Robert dengan mengerikan. Dia kayak penjahat yang siap menerkam.
"Tuan Martin, jangan marah. Saya... saya..." Robert ngomong dengan ragu.
Lendon udah gak sabar. Dia turun dari panggung dan narik kerah baju Robert. "Gak ngerti apa yang gue bilang?" Dia melotot ke Robert dan nanya.
"Tuan Martin, apa ada salah paham disini?" William berdiri tegak dan ikut campur, "Mungkin Nona Miller cuma ke toilet."
"Diam!" Lendon teriak marah, "Gue bakal bilang sekali lagi. Balikin Kendra, atau..."
"Lendon!" Kendra masuk ke aula dan memotong pembicaraan.
Detik itu juga, semua orang ngeliat ke arah dia. Dia keliatan gak baik-baik aja. Bajunya basah, rambutnya berantakan.
Kendra gak peduli sama tatapan jijik orang-orang. Dia jalan ke Lendon dan ngegenggam tangannya. "Gue baik-baik aja," Dia senyum ke dia.
"Lo baik-baik aja?" Dengan wajah khawatir, Lendon natap dia, "Siapa yang lakuin ini ke lo?" Dia dorong Robert menjauh.
"Cuma kecelakaan," Kendra nunduk dan bilang, "Ayo pergi."
Lendon ngeliatin Kendra dari atas sampe bawah. Dia nyadar baju Kendra agak tembus pandang setelah basah. Sialan!
Kendra bisa ngerasain banget kalau Lendon makin marah. Akhirnya, dia genggam tangan Lendon erat-erat dan mohon, "Tolong. Ayo pulang," Kalo mereka gak pergi sekarang, dia bakal jadi bahan tertawaan.
Lendon ngepalin tangannya. Dia tau dia bohong. Dia lepas jaketnya dan naruh ke bahu Kendra buat nutupin badannya. Dia bantu Kendra make jaket itu dengan bener, terus nanya, "Apa Robert yang lakuin?" Pengawalnya udah konfirmasi kalau Kendra dibawa pergi. Pasti Robert.
"Saya..." Kendra ragu dan ngeliat bokapnya.
Robert melotot ke Kendra dan keliatan mau ngancem dia.
Mata Lendon beralih ke Robert, dan dia tiba-tiba nyeringai ke Robert.
Robert ketakutan. Lendon kali ini terlalu menakutkan.
"Tuan Martin, ini cuma salah paham," Robert jelasin dengan senyum canggung. Dia ngeliat ke Kendra dan berharap dia bakal ngomong sesuatu buat ngebantu dia.
"Salah paham?" Lendon ngejek dia, "Lo ngurung anak lo sendiri dan bilang salah paham? Kayaknya lo gak tau apa artinya salah paham."
Robert nunduk dan gemetaran.
Gak ada yang berani bersuara.