Bab 55: Kamu Adalah Nyonya di Kastil
Dia gak percaya dia bakal ngomong gitu, padahal, kadang-kadang Lendon emang suka mendominasi. Dia gak pernah gagal nyelamatin dia pas lagi susah. Dia gak nyangka Lendon bakal berbaik hati sama dia pas dia lagi sedih. Dia sama sekali gak kedip, cuma natap dia kayak terpesona sama pesonanya.
Lendon agak salah tingkah. Dia pura-pura gak sabar, terus mukanya merah, "Lo ngeliatin apa sih? Jangan pasang tampang kayak gitu, deh,"
"Makasih, Tuan Martin," kata Kendra tulus. Itu hari yang panjang banget buat dia. Ayahnya ninggalin dia, tapi sekarang Lendon ngomong kata-kata hangat buat nenangin dia. Dia gak pernah berharap ada orang yang sayang sama dia. Tapi pas Lendon ngelakuin itu, dia emang ngerasa seneng. Cowok keren yang punya segalanya dalam hidup, peduli sama dia.
"Lo terharu, ya?" tanya Lendon ke Kendra dengan nada serius.
Kendra buang muka dan pura-pura gak peduli sama dia. Dia gak mau ngasih kode kalau dia agak tersentuh sama perhatiannya.
Lendon ngangkat alis dan maksa Kendra buat natap dia. "Kenapa gak ngaku aja?" tanyanya.
"Ngaku apa?" Kendra nundukin kepalanya, gelisah.
"Lo terharu, kan?" Lendon ngejek dia.
"Penting banget ya buat lo denger jawaban gue?" Kendra senyum dan nanya pasrah.
"Tentu aja!" Dia berharap denger konfirmasi dari dia. Dia jelas inget Curtis bilang kalau cewek cuma bakal jatuh cinta sama cowok setelah tersentuh sama perlakuan manis. Jadi dia udah berharap Kendra bakal ngakuin perasaannya ke dia.
"Agak sih." Kendra senyum tipis.
"Maksudnya apa?" Lendon nyinyir ke Kendra, kesel sama jawabannya, "Ngaku aja perasaan lo, bisa gak sih?"
Kendra gak bisa berkata-kata. Apa karena racun lagi, cowok ini jadi nuntut banget? Kok Lendon bisa gitu keras kepala dan sombong?
Pas mereka sampe di kastil, Lendon gendong Kendra ke kamarnya. Dia bawa dia ke kamar mandi dan bilang, "Mandi. Jangan nangis lagi."
"Iya," kata Kendra dan berbalik.
Lendon tiba-tiba narik pinggang Kendra dan meluk dia. Pas Kendra bingung, Lendon berbisik, "Jangan sakitin diri lo lagi. Gue juga sakit pas liat lo sedih," Kata-katanya tulus.
Apa Lendon takut dia mau bunuh diri? Kendra senyum dan berbalik, "Gak, gue gak bakal." Dia gak sebodoh itu. Sejak keluarganya ninggalin dia, dia harus buktiin ke mereka kalau dia bisa lebih baik tanpa mereka.
"Lo cewek gue. Oke, sekarang mandi," kata Lendon dan dorong Kendra ke bak mandi.
Kendra mandi kilat dan keluar dari kamar mandi.
Lendon masih di dalem kamarnya. Dia duduk di sofa santai dan merhatiin Kendra dengan serius. Terus, denger Kendra keluar, dia ngangkat muka dan nanya, "Siapa yang nyuruh lo tanda tangan?"
"Ayah gue," jawab Kendra, berdiri di sebelahnya.
"Gue kira ibu tirimu yang ngelakuinnya." Muka Lendon jadi muram. Dia naruh berkas di meja dan jalan ke arahnya.
Kendra bisa ngerasain kekuatan Lendon pas dia jalan ke arahnya. Dia emang dilahirin buat jadi raja—keturunan mahkota di masa depan. Dan orang-orang nurut sama dia dengan sukarela. Dia seorang duke terhormat yang semua orang hormati.
Dia mikirin semua itu sementara dia mendekat.
"Dengerin gue, Kendra. Lo gak perlu takut sama mereka. Kalau mereka nyakitin lo, jangan ragu buat balas dendam. Lo cewek gue, dan lo bisa lakuin apa aja yang lo mau." Lendon langsung meluk dia. Sikapnya jelas. Gak ada yang bisa nge-bully Kendra kecuali dia.
Kendra ngangguk dan hampir nangis lagi pas denger kata-kata yang menenangkan dari dia.
Lendon gak tahan liat Kendra diperlakukan gak baik. Dia nyubit dagunya dan nyium bibirnya.
Kendra wangi banget abis mandi. Wangi sabun mandinya nempel di hidung Lendon.
Dia ngasih ciuman yang dalam dan lama. Lendon gak lepasin Kendra sampe dia susah napas.
"Gue udah cek perjanjian lo. Itu sah secara hukum. Ayah lo berani ngusir lo. Gue bakal minta pengacara gue buat mastiin mereka gak bisa nyakitin lo lagi. Mulai sekarang, apa pun yang terjadi sama keluarga lo, jangan kasihanin mereka." Lendon ngusap muka Kendra dan nasehatin dia.
"Lo mau ngapain?" Kendra nanya panik. Dia ngerasa Lendon bakal ngelakuin sesuatu.
"Serahin aja ke gue. Sekarang mereka udah milih, mereka harus tanggung jawab." Kata Lendon. Siapa pun yang nyakitin Kendra harus siap menderita.
"Lo mau nyakitin mereka?" Kendra pegang lengan Lendon dan nanya gugup.
"Lo mau ngalangin gue?" Lendon melototin dia dan nanya.
"Gak, gue cuma gak mau liat mereka lagi." Kendra geleng, langsung nunduk.
"Bener, lo gak bakal liat mereka lagi." Lendon nepuk kepala Kendra dan bilang, "Jangan mikir terlalu banyak."
Lendon sekarang bahkan mau ngontrol pikiran Kendra.
"Makan malam, yuk." Lendon gandeng tangannya, dan mereka turun ke bawah. Cuma Tuhan yang tau seberapa laparnya dia karena dia.
Selama makan malam, Kendra bengong aja. Lendon hampir makan semua makanan, dan Kendra cuma natap piringnya. Terus, Lendon nyadar kalau Kendra hampir gak makan makanannya.
"Lo ngapain sih?" Lendon tiba-tiba nanya.
"Apa?" Denger dia, dia ngangkat kepalanya, natap dia kosong.
"Gue udah bilang jangan mikir terlalu banyak. Bisa gak sih dengerin gue?" Lendon naruh alat makannya, masang ekspresi kesel.
Bagus, Lendon udah kenyang sekarang, dan dia punya keberanian buat ceramahin dia lagi.
"Gue gak nafsu makan." Kendra pelan-pelan bilang dan mau pergi.
"Berhenti!" Lendon bilang, langsung manggil dia, "Kesini."
Kendra ngelakuin apa yang Lendon bilang.
"Duduk sini!" Dia bilang, nunjuk ke pangkuannya. Kendra nurut.
Lendon motong steak jadi potongan kecil, ngambil potongan kecil, dan bilang, "Makan!" Dia nyuruh.
Kendra kaget. Apa Lendon mau nyuapin dia? "Gak, gue bisa sendiri." Kendra malu.
"Makan aja." Lendon maksa.
Kendra ngerasa gak berdaya. Tentu aja, Lendon gak bakal dengerin dia. Dia harus nerima pelayanannya.
Lendon gak jago nyuapin orang, tapi Kendra hampir kenyang setelah makan beberapa gigitan steak.
"Nah, sekarang lo bisa tidur." Lendon dorong dia pelan.
"Gue bakal naik berat badan kalau langsung tidur," gumam Kendra.
"Balik ke kamar lo dan diem di sana." Lendon natap Kendra dan bilang, "Mulai sekarang, lo bukan lagi pembantu. Lo adalah nyonya di kastil ini,"
"Apa?!" Kendra kaget pas denger kata-katanya.
"Lo budeg ya?" Lendon hampir ngamuk lagi.
"Gak, gue cuma…."
"Balik aja ke kamar lo," ulang Lendon.
Kendra gak tau Lendon mau ngapain. Dia gak mau debat sama dia. Dia menghela napas dan pergi.
Setelah Kendra pergi, Lendon pergi ke ruang kerjanya sama Curtis.
"Cari tau tentang keluarga Miller," Lendon duduk di kursinya, mukul-mukul meja, "Gue mau informasi mereka sejelas mungkin."
"Siap, Tuan," Curtis ngangguk dan bilang.
"Tunggu." Lendon nghentiin dia.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Curtis berhenti, berbalik.
"Ada tempat di kastil ini buat nampung cewek-cewek itu?" Lendon nanya.
"Ada, Tuan. Rekan bisnis Anda bakal ngirim cewek-cewek kesana dari waktu ke waktu. Dan mereka semua tinggal di kamar lain di dalem kastil." Curtis mikir sebentar dan jawab.
Cewek-cewek yang muncul di pesta Lendon, sebenernya tinggal di kastil ini juga.
"Suruh mereka keluar dari kastil," kata Lendon santai.
Curtis kaget. Tuan Martin sekarang cuma butuh Nona Miller. Itu gak buruk.
"Iya." Curtis ngangguk dan bilang.
"Mulai sekarang, Kendra adalah satu-satunya nyonya di kastil ini. Lo ngerti?" Lendon nanya. Sekarang Kendra kehilangan rumahnya, kastilnya bakal jadi miliknya di masa depan.
"Siap, Tuan," kata Curtis dan pergi.
Lendon buka laptopnya dan liat banyak laporan tentang pertunangan antara Michael dan Bianca. Dia natap layar dan senyum. Pertunangan? Bagus, udah waktunya nunjukin ke keluarga Miller betapa salahnya mereka.
Kendra bangun pagi-pagi besoknya. Dia buka matanya dan liat Lendon lagi tidur di sebelahnya. Dia dateng kesini malemnya dan mikir Kendra udah tidur. Tapi Kendra masih bangun waktu itu. Pas Lendon tiduran di kasur di sebelahnya dan meluk dia, dia akhirnya tidur nyenyak.
Lendon masih tidur. Kendra bangun pelan-pelan dan jalan ke kamar mandi. Setelah dia bersihin diri, dia turun ke bawah.
Berisik banget. Curtis lagi mimpin sekelompok orang buat keluarin barang-barang dari beberapa kamar di dalem kastil. Juga, beberapa cewek keluar dan langsung pergi. Kenapa ada beberapa cewek di dalem kastil? Kendra tiba-tiba liat beberapa muka yang familiar. Dia biasa liat cewek-cewek ini di pesta dulu. Apa yang terjadi?
"Selamat pagi, Nona Miller." Curtis liat Kendra dan nyapa dia sambil senyum.
"Lo lagi ngapain?" Kendra nanya penasaran.
"Tuan Martin mau mereka pergi." Curtis santai jawab pertanyaannya.
"Jadi, mereka tinggal disini terus?" Kendra nanya kaget, "Siapa mereka?" Dia gak pernah tau itu.
Curtis ragu.
"Mereka semua milik Lendon?" Kendra nambahin.
"Gak juga." Curtis senyum dan jelasin, "Beberapa dari mereka gak pernah ketemu Tuan Martin."
Ya ampun! Lendon kayak raja beneran!
"Jangan salah paham, Nona Miller. Cewek-cewek ini cuma hadiah buat Tuan Martin, tapi dia bilang lo bakal jadi satu-satunya cewek di kastil ini mulai hari ini." Curtis senyum lagi.
Kendra kaget. "Beneran? Dia bilang gitu?"
"Iya." Curtis ngangguk sopan.
Kayaknya Lendon serius. Dia mikir.
"Curtis, udah selesai?"
Kendra tiba-tiba denger suara Lendon. Dia berbalik dan liat Lendon jalan ke arahnya pake setelan santai. Dia bahkan keliatan lebih ganteng.