Bab 77: Yang Mana Dirinya yang Sebenarnya?
Dia gak bisa berhenti muji dia. Emang, barbekyu-nya enak banget. Dia pengen nambah lagi.
Kendra balik ke Lendon dan natap dia. Mulutnya aja sampe berair. "Lendon…"
"Nggak," kata Lendon begitu Kendra ngomong. Dia tau apa yang dia mau, tapi dia senyum dan bilang, "Kamu nggak boleh nambah lagi."
"Tapi aku laper." Kendra ngedip-ngedipin matanya dan ngomel kayak anak kecil. Dia bahkan manyunin bibirnya.
Lendon tiba-tiba semangat. Apa Kendra tau kalau dia bisa bikin dia horny dengan gampang?
"Aku hampir selesai. Mau makan punya aku?" Lendon natap Kendra dan mulai ngecengin dia.
Kendra ngangguk cepet.
"Cium aku," kata Lendon dan noleh ke arah Kendra.
"Oke. Cuma satu ciuman." Kendra setuju dan langsung jinjit karena Lendon lebih tinggi dari dia.
Pas Kendra mau cium pipi Lendon, Lendon tiba-tiba nyengetin kepalanya dan nyium bibir Kendra dengan cepet.
Kendra sadar kalau Lendon ngerjain dia, dan dia salting. Dia melek lebar-lebar dan natap dia.
"Tunggu sebentar. Sebentar lagi selesai." Lendon nepuk-nepuk kepala Kendra dan bilang sambil senyum lebar.
Sepuluh menit kemudian, Lendon udah masakin semua dagingnya. Demi makan malem, Kendra nyoba segala cara buat bikin Lendon seneng. Akhirnya, Lendon ngambil semua daging yang udah dicobain Kendra.
Waktu cepet berlalu. Nggak lama, malem tiba. Mereka duduk di tenda bareng.
Lendon meluk Kendra dan ngelihat ke langit.
"Wah, bintangnya banyak banget." Kendra takjub sama pemandangan malem yang indah.
"Gampang kok ngelihat bintang. Kamu tinggal nyari museum sains aja." Lendon ngelirik Kendra dengan sinis dan bilang."
"Beda lah." Kendra senyum dan bilang, "Waktu aku kecil, mama suka ngajak aku ke puncak gunung, dan kita ngelihat bintang, nungguin matahari terbit. Nggak ada kabut waktu itu, dan aku bisa ngelihat banyak bintang."
"Apa istimewanya bintang?" tanya Lendon. Dia nggak ngerti Kendra. Kadang, dia keliatan gampang puas. Tapi kadang, dia beda banget dari ekspektasinya. Yang mana yang asli dia?
"Nggak, aku cuma suka ngelihat pemandangan alam." Kendra bilang dan nunjuk ke bulan, "Lihat, bulannya bulet banget!"
"Aku benci bulan," kata Lendon dingin.
"Kamu nggak suka karena racunmu?" Kendra ngelihat Lendon dan nanya dengan penasaran.
Denger pertanyaan Kendra, ada kilatan emosi campur aduk yang muncul di mata Lendon.
Kendra natap dia dan nunggu jawabannya.
"Waktu aku enam tahun, keluarga aku kena krisis serius. Banyak orang meninggal, dan aku satu-satunya yang selamat." Lendon tiba-tiba ngejelasin. Suaranya terdengar tenang dan dingin, seolah-olah dia cuma lagi cerita.
Kendra inget apa yang Curtis bilang ke dia. "Beberapa tahun lalu, Mr. Martin kena racun waktu latihan. Sejak itu, dia ngerasain sakit pas malem bulan purnama."
"Kamu kena racun tahun itu?" tanya Kendra.
"Iya. Seseorang nyuntikin darah serigala ke tubuh aku dengan sengaja." Lendon ngangguk dan bilang.
Kejam banget! Mikirin rasa sakit Lendon pas malem bulan purnama, Kendra jadi khawatir. Dia sadar kalau dia nggak banyak tau tentang Lendon, sebenernya. Apa aja yang udah dia laluin? "Sejak itu, darah serigala perlahan meresap ke tubuh aku. Aku kadang berubah jadi serigala, bahkan di waktu biasa." Lendon ngelihat ke bulan dan bilang dengan nada enggan, "Makanya aku benci bulan."
"Kamu belum nemu obatnya selama bertahun-tahun ini. Gimana sama orang yang ngeracunin kamu? Dia nggak tau cara nyembuhin kamu?" tanya Kendra. Kalo Lendon bisa nemuin siapa yang ngeracunin dia, setidaknya dia bisa minta informasi dari orang itu.
"Aku nggak bisa nemuin dia." Suara sedih Lendon keluar.
"Apa?" Kendra nggak percaya sama apa yang dia denger.
"Aku nggak bisa nemuin apa-apa tentang dia. Kayaknya dia nggak pernah ada di dunia ini. Aku nggak tau siapa dia atau di mana obatnya." kata Lendon. Dia keliatan tenang sekarang, tapi ada emosi yang tajam muncul di matanya. Itulah kenapa dia nggak bisa nyembuhin racunnya selama beberapa tahun terakhir.
Kendra nggak bisa bayangin apa yang udah Lendon alamin. Dia udah berubah jadi serigala lebih dari seratus kali. Pasti mengerikan banget. Dia ngelihat dia waktu itu beberapa kali.
"Gimana rasanya jadi serigala?" tanya Kendra. Dia inget mata hijau Lendon waktu dia lari ke kastil pertama kali. Dia serem banget waktu itu.
"Enak!" kata Lendon.
"Apa?" Mata Kendra melebar. Apa yang dia denger? Lendon senyum jahat dan naruh tangannya di perut Kendra. Dia berbisik, "Enak banget ngent*t kamu!"
Kendra nggak bisa berkata-kata. Dia jadi nakal lagi.
Lendon ketawa dan ngusap-ngusap perut Kendra.
Kendra gemeteran dan megang tangan Lendon. Terus, dia duduk tegak dan bilang, "Jangan gerak."
Lendon cemberut dan meluk Kendra lagi. Sebelum Kendra berontak, dia nyium dia dengan cepet. Lendon nyedot bibir Kendra dan berbisik, "Kita harus ngelakuin sesuatu di malem yang indah kayak gini." Suaranya kedengeran panas banget.
Sebelum Kendra ngomong apa-apa, Lendon nindihin dia dan tiduran di atasnya.
Di bawah sinar bulan, Kendra ngelihat senyum Lendon dengan jelas. Dia ngerasa nggak berdaya dan bilang, "Lendon, kita harus ngobrol."
"Olahraga lebih bagus. Itu ningkatin stamina kita," Lendon ngeyel.
"Aku lebih suka ngobrol."
"Nggak, aku mau olahraga."
"Ngobrol lebih bagus."
"Oke," kata Lendon dan tiduran di samping Kendra.
Kendra kaget. Lendon nyerah semudah itu?
"Lagian, kita punya banyak waktu. Kita bisa ngobrol dulu," kata Lendon.
Sial! Apa dia harus ngobrol dan tidur sama dia? Ya udah deh, dia bisa pura-pura tidur nanti. Kendra mutusin dan bilang, "Lendon, bisa ceritain tentang keluarga kamu?"
"Nggak ada yang perlu diceritain," kata Lendon. Dia selalu meremehkan urusan keluarganya.
"Aku denger banyak hal tentang keluarga kamu. Kedengerannya legendaris," kata Kendra dengan tertarik.
"Nggak legendaris sama sekali. Sekelompok orang tua jagain cangkang kosong," Lendon mengejek dan bilang.
"Kamu satu-satunya penerus keluarga kamu. Gimana kalo mereka tau tentang racunmu?" Kendra nanya dengan penasaran.
"Aku bakal mati," kata Lendon dengan tenang.
"Apa? Serius banget?" tanya Kendra kaget.
"Kendra, kamu terus nanya tentang keluarga aku malem ini. Kamu mau apa?" Lendon nanya nggak sabar.
"Nggak, aku cuma mau ngobrol sama kamu." Kendra ngangkat bahu dan bilang. Kenapa susah banget sih komunikasi sama dia? Dia gampang banget marah.
"Sekarang giliran aku." Lendon natap Kendra dan nanya dengan serius, "Kapan kamu bakal cinta sama aku?"
Kendra nggak tau mau ngomong apa. Dia nggak bisa berkata-kata.
"Aku udah baik banget sama kamu. Kenapa kamu nggak bisa ngerasainnya?" Lendon nanya nggak seneng. Kenapa Kendra keras kepala banget?
"Aku nggak bisa maksa diri aku sendiri," kata Kendra pasrah.
"Jadi kamu masih nggak suka aku?" Lendon natap dia dan nanya. Kayaknya dia mau meledak karena marah sebentar lagi.
"Lendon, aku..." Kendra mau ngejelasin.
"Nggak usah deh," kata Lendon dan meluk Kendra. Ya udah lah, yang dia mau bukan alesan dia. Mending dia hemat waktu.
Kendra nyender di dada Lendon dan senyum pasrah. Suatu hari, dia bakal sadar kalau dia nggak bisa selalu dapetin apa yang dia mau.
Contohnya, dia nggak bisa maksa dia buat cinta sama dia.
"Kenapa kamu nggak ngomong?" Lendon naruh dagunya di bahu Kendra dan nanya.
"Kamu nggak mau denger aku," Kendra ngomong pelan.
"Aku nggak mau kamu ngejelasin kenapa kamu nggak suka aku, tapi kamu bisa ngomong yang lain," kata Lendon.
"Kamu mau denger apa?" Dia natap dia.
Lendon tiba-tiba nggak bisa ngejawab pertanyaan Kendra.
Kendra senyum dan nanya, "Kamu pernah jatuh cinta sebelumnya?"
"Nggak." Lendon ngegeleng dan ngejawab dengan jujur.
"Pantesan," kata Kendra. Pantesan Lendon terus nanya pertanyaan aneh dan maksa dia buat nerima sesuatu yang nggak dia mau terima.
"Apa? Kamu ngerasa lucu?" Lendon nanya. Dia nggak bisa ngebiarin Kendra ngeremehin dia.
"Nggak, aku cuma ngerasa kamu nggak jago urusan cewek," Kendra ngegeleng dan bilang.
"Terus kenapa? Aku nggak perlu urusan sama mereka. Semua orang harus ngelakuin apa yang aku bilang." Lendon mengejek dan mendengus. Dia kan seorang duke, dan semua dilayanin buat dia, termasuk cewek.
Tentu aja, dia selalu kasar dan sombong. Kendra senyum dan bilang, "Tentu aja, Tuhan adil."
"Maksudnya apa?" Lendon nanya.
"Nggak ada apa-apa." Kendra ngangkat bahu. Ya, Lendon itu pinter, kaya, dan ganteng, tapi dia punya EQ yang rendah banget. Makanya Tuhan adil. Kalo dia ngebuka jendela buat kamu, dia bakal nutup pintu di saat yang sama.
"Kamu ngejek aku?" Lendon natap Kendra dan nanya.
"Nggak, jangan salah paham," Kendra senyum dan bilang.
"Oke, mending kamu jelasin kenapa kamu senyum, atau..." Lendon bilang dan ngusap-ngusap perut Kendra lagi.
"Berhenti! Geli banget!" Kendra ketawa dan cepet megang tangan Lendon buat berentiin apa yang dia lakuin.
"Jangan berani-berani ngetawain aku lagi?" Lendon memperingatinya.
"Nggak, nggak bakal! Tolong berenti!" Kendra memohon.
Tiba-tiba, Lendon nindihin Kendra dan natap dia. "Udah deh ngobrolnya. Sekarang kita mulai olahraga?" Dia nanya.
Apaan sih? Sebelum Kendra ngomong apa-apa, Lendon langsung nyium dia.