Bab 73: Apakah Itu Pertanda Baik?
Dia ngasih *kiss* yang lebih dalam dan meluk Kendra erat banget. Lendon nggak berhenti sampai dia puas. Air panas di bak mandi jadi dingin pelan-pelan. Setelah lama banget, Lendon akhirnya ngelepasin Kendra, dan mereka keluar dari kamar mandi.
Malam ini mereka makan malam di kamar, soalnya Kendra nggak bisa jalan bener. Dia cuma bisa duduk di kasur. Lendon nemenin dia terus. Dia nggak ngebolehin Kendra ngapa-ngapain dan maksa nyuapin.
"Lendon, aku bisa kok makan sendiri," Kendra berusaha ngebujuk.
Dia tuh sama sekali nggak cacat, tapi Lendon malah nganggep dia begitu.
"Nggak." Lendon nolak, "Oh ya, ngomong-ngomong, aku udah nyuruh Anne ke rumah sakit," tiba-tiba dia ngomong.
"Hah?" Kendra kaget denger dia ngomong gitu, "Kamu setuju dia nginep?"
"Sebenernya sih aku nggak mau dia nginep, tapi aku tau kamu bakal maksa kalau aku nggak bantuin," Lendon ngelirik Kendra. Kalo dia nggak ngalah, siapa yang tau Kendra bakal ngapain?
Kendra senyum dan ngerasa Lendon makin sering ngalah sama dia. Kadang, dia marah sama Kendra, tapi akhirnya dia ngasih apa yang diminta. Apa ini pertanda bagus?
Setelah tiga hari, akhirnya Kendra bisa bangun. Anne juga dibawa balik ke istana.
"Anne, kamu bakal tinggal di sini sama aku buat sementara waktu. Aku mau kamu sehat dan istirahat yang cukup," Kendra nunjukin Anne keliling istana.
"Nona Miller, bisa nggak kamu jujur sama aku kenapa kamu tinggal di sini? Aku sering denger tentang Tuan Martin akhir-akhir ini. Dia itu siapa?" Anne ngeliatin lukisan-lukisan di dinding dan nanya.
"Dia itu *duke*, dan dia yang punya istana ini," Kendra senyum dan ngejelasin. Dia juga ngelirik lukisan yang dipajang di dinding. Lendon keliatan dominan banget di lukisan itu, dan auranya punya kekuatan.
"Apa? Dia itu siapa buat kamu?" Anne nanya khawatir.
Denger gitu, senyum Kendra langsung ilang.
"Nona Miller, tolong kasih tau aku yang sebenernya."
"Kamu..." Anne natap Kendra, dan dia berenti ngomong di tengah kalimat.
Dia nyadar Kendra jadi nggak seneng.
"Anne," Kendra motong omongan Anne, "Nggak usah khawatir. Anggep aja ini rumah kita."
"Nona Miller, apa kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?" Anne nanya lagi.
"Nggak. Ini rumit. Kita itu..." Kendra ragu. Dia itu siapa buat Lendon? Temen? Pacar? Temen ranjang? Kendra ngerasa susah buat ngejelasin.
"Dia itu cewekku." Suara arogan dateng dari belakang mereka. Kendra nengok dan ngeliat Lendon jalan ke arah dia pelan-pelan. Dia bahkan terpesona sama penampilannya yang ganteng.
"Lendon," Kendra nyebut namanya dengan canggung.
Lendon megang bahu Kendra dan ngelirik Anne. Terus, dia ngeliatin Kendra dan nanya, "Kenapa kamu nggak kasih tau dia yang sebenernya?"
"Yang sebenernya apa?" Kendra bingung.
"Kalo kamu itu cewekku." Lendon nyibir. Kendra nggak bisa berkata-kata.
Anne natap mereka dengan bingung, ngerasa khawatir. Dia tau Kendra pasti nyembunyiin sesuatu dari dia.
"Kamu mau nyimpen rahasia?" Lendon nanya nggak seneng.
"Nggak, ya nggak lah," Kendra senyum dan bilang, "Anne, kamu bisa balik ke kamar dan istirahat sekarang."
"Iya, Nona Miller." Anne ngangguk dan mau pergi.
"Nggak, kamu tetep di sini." Lendon tiba-tiba berentiin dia. Dia keliatan kesel.
"Kamu mau ngapain?" Tatapan Kendra melayang ke Lendon.
"Ingat, dia itu cewekku." Lendon naikin alisnya, natap serius ke arah Anne.
Anne cuma ngangguk.
"Kenapa kamu ngomong gitu ke dia?" Kendra nanya nggak suka.
"Kamu bisa pergi sekarang." Lendon nggak peduliin Kendra dan langsung nyuruh Anne pergi.
Anne ngeliatin Kendra sebentar dan pergi.
"Kamu itu pacarku. Kamu nggak mau orang-orang tau tentang ini?" Lendon ngusap bibir Kendra dan nanya dengan dominan. Dia mau semua orang tau kalo Kendra itu punya dia.
"Nggak, aku cuma..."
"Nggak usah ngejelasin." Lendon nundukin kepalanya dan tiba-tiba nyium Kendra. Mereka tukeran nafas selama *kiss* yang lama ini, dan Lendon seneng.
Sial! Dia cuma ninggalin Kendra sebentar, dan dia kangen banget sama Kendra! Setelah beberapa menit, Lendon berenti nyium dia dan megang tangan Kendra. Terus, dia narik Kendra ke ruang kerja.
"Kita makan malam di sini," saran Lendon.
"Oke, kalo kamu mau," jawab Kendra.
Setelah makan malam, Lendon duduk di meja kerjanya dan ngurusin urusannya. Kalo Kendra, dia cuma duduk di kursi deket Lendon dan baca buku dengan bosennya.
Nggak ada yang ngomong sepatah kata pun, dan suasana tenang banget. Kendra cuma bisa denger Lendon ngetik di *keyboard*, tapi dia tetep nggak bisa konsentrasi. Dia terus keinget apa yang Anne bilang. Seseorang bikin kecelakaan buat bunuh mamanya. Dan Marga mungkin dalangnya. Kalo bener, Robert mungkin tau semua rencananya. Atau, dia juga terlibat di dalamnya.
Mikirin itu, Kendra tiba-tiba pusing.
Gimana bisa papanya nyoba bunuh mamanya? Ini terlalu konyol.
Tiba-tiba, Lendon nepuk kepala Kendra. Kendra kaget dan ngusap kepalanya.
"Kamu mikirin siapa? Aku masih di sini!" Lendon ngomel.
"Nggak ada siapa-siapa," jawab Kendra sambil mikir.
"Terus kamu mikirin apa?" Lendon natap dia dengan serius.
"Lendon, kamu mau ngontrol pikiran aku juga?" Kendra mulai debat.
"Tentu aja!" Suaranya yang arogan keluar.
Kendra muter bola matanya dan ngerasa nggak bisa berkata-kata.
"Kasih tau aku." Lendon maksa.
"Nggak ada apa-apa," kata Kendra santai.
"Kendra!" Lendon natap Kendra dan ngerasa nggak sabaran.
Kendra ngusap dahinya dengan pasrah.
Lendon makin lama makin nggak masuk akal.
"Aku lagi mikirin apa yang bisa aku lakuin di kantor kamu besok," Kendra bohong.
"Nggak ada yang perlu kamu lakuin. Cuma nemenin aku aja." Lendon ngegenggam tangan Kendra dan ngeletakkinnya di bibirnya.
"Nggak, aku bakal bosen," Kendra buru-buru narik tangannya.
"Kamu mikir nemenin aku itu bosen?" Lendon kesel. Dia keliatan nggak seneng.
"Aku nggak bisa cuma ngeliatin kamu seharian," Kendra ngedesah.
"Bisa kok. Kamu berhak atas itu," Lendon maksa dan ngomong dengan senyum jahat.
Kendra ngelirik Lendon dan nggak ngomong apa-apa.
"Kalo kamu bosen, kamu bisa jadi sekretarisku besok," saran Lendon.
"Nggak." Kendra langsung nolak. Kalo dia jadi sekretaris Lendon, semua orang bakal nganggep dia simpanan, padahal emang bener sih.
"Terus kamu mau ngapain?" Lendon duduk di sampingnya, ngelus pipinya.
Kendra tau percuma dia ngehindar, jadi dia merem dan nunggu Lendon nyium. Setelah beberapa saat, Kendra buka matanya dan ngeliat Lendon mulai kerja lagi. Sial! Dia ngebodohin dia!
Kendra natap Lendon dengan tajam dan buang muka.
Udah malem. Lendon natap laptopnya dan ngeliatin Kendra dari waktu ke waktu. Dia suka banget kalo bisa ngeliat Kendra kapan aja dia mau, dia ngerasa santai. Tapi, Kendra sama sekali nggak nyaman. Dia ngantuk dan susah banget buat buka mata. Akhirnya, dia tidur siang.
Ruang kerja sepi tapi hangat malam ini.
Setelah sekitar dua jam, dia nutup laptopnya dan ngelirik ceweknya, yang udah tidur. Lendon jalan ke arahnya, nunduk, dan ngusap pipi Kendra. Senyum hangat terbentuk di sudut bibirnya.
"Udah selesai?" Kendra tiba-tiba bangun pas ngerasa ada usapan hangat. Dia buka matanya sedikit dan ngeliat Lendon di sampingnya.
"Belum. Kamu ngantuk?" Lendon nanya pelan.
"Iya, aku boleh tidur sekarang?" Kendra nanya dia.
Lendon pengen bilang nggak, tapi pas dia ngeliat jam tangannya dan sadar udah malem, dia ngangguk.
Kendra bangun dan mau pergi. Tapi, Lendon ngegenggam tangannya dan narik dia ke pelukannya. Dia nyium Kendra dari bibir sampai leher.
Kendra megang baju Lendon dan gemeteran. Rasa ngantuknya tiba-tiba ilang.
"Oke, tidur sekarang." Lendon ngelepasin Kendra setelah semenit.
Kendra ngangguk dan ninggalin dia. Setelah dia balik ke kamarnya, seseorang ngetok pintu kamarnya. Kendra mikir itu Lendon, tapi ternyata Anne.
"Nona Miller," Anne senyum dan nyapa dia.
"Anne, udah malem. Kenapa kamu masih bangun?" Kendra nanya.
"Aku nggak bisa tidur. Boleh aku ngobrol sama kamu?" Anne nanya ragu.
"Masuk," Kendra buka pintu dan ngebiarin Anne masuk. Mikingin apa yang terjadi barusan, Kendra tau Anne pasti khawatir sama dia. Anne masuk, dan mereka duduk di sofa.
"Nona Miller, boleh aku nanya apa kamu itu Tuan.. Martin..." Anne mengerutkan dahi.
"Simpanan?" Kendra cekikikan dan nanya, "Kalo aku bilang aku bukan, apa kamu bakal percaya?"
"Tentu aja. Aku tau kamu bukan cewek kayak gitu," Anne ngomong dengan senyum dan ngerasa lega.
"Tapi aku iya," Kendra ngomong samar.
"Apa?" Anne nanya kaget. "Aku bilang aku simpanannya," Kendra ngomong dengan tenang tanpa ragu. Dia bahkan nggak banyak nunjukkin ekspresi.
"Nona Miller..." Anne natap Kendra dan ngerasa sakit hati. Dia ngegenggam tangan Kendra erat dan hampir nangis.
"Nggak papa. Dia orang yang baik. Aku punya utang sama dia, jadi aku harus sama dia. Walaupun kadang susah buat bikin dia seneng, dia itu kekuatanku," Kendra nepuk tangan Anne, nenangin dia.
"Kalo Nyonya Miller tau, dia pasti sedih," Anne nundukin kepalanya.
Ngomongin mamanya, Kendra juga sedih. Tapi, nggak ada yang bisa diubah. Bahkan kalo mamanya tau semuanya, nggak ada cara buat ngubahnya.
"Anne, apa kamu punya bukti buat ngebuktiin apa yang kamu bilang tentang kecelakaan itu?" Kendra keinget obrolan mereka waktu itu.
"Nggak, ini cuma dugaan liar aku aja," Anne geleng-geleng kepala. Dia keliatan sedih banget, mikir kalo apa yang terjadi sama mama Kendra itu bukan kecelakaan murni.
"Kenapa?" Kendra nanya, "Kenapa kamu punya kecurigaan ini?"
"Itu terlalu kebetulan. Dan setelah Nyonya Miller meninggal, aku denger Marga ngobrol sama Tuan Miller suatu hari," Anne ragu dan ngejelasin.
"Mereka ngomongin apa?" Kendra nanya dengan gugup.
"Aku nggak inget detailnya. Marga bilang dia akhirnya bisa nerima warisan Nyonya Miller setelah dia meninggal. Dan Tuan Miller juga keliatan seneng," Anne gelisah.
Pas dia denger pengungkapan ini, dia keliatan pucat.
"Dia juga salah satu pembunuhnya," Kendra bergumam. Dia mikir mungkin dia salah paham sama Robert, tapi sepertinya papanya sendiri adalah salah satu pelakunya.