Bab 67: Betapa Tak Tahunya Malu
Dalam perjalanan pulang ke istana, mata Kendra langsung tertuju ke jendela. Dia tenggelam dalam pikirannya dan merasa sedih.
Lampu neon yang indah di jalanan gak bisa mengubah kesedihannya. Udah hampir gelap, jalanan ramai banget, tapi pikirannya melayang entah kemana.
Kendra ngelirik Lendon dan ngelihat dia lagi serius ngetik sesuatu di laptopnya. Orang-orang bilang cowok paling menarik kalau lagi kerja keras. Tapi Lendon mah menarik terus.
"Aku kelihatan bagus gak sih?" Lendon tiba-tiba nanya setelah ngerasain tatapan intensnya.
"Hah?" Kendra kaget dan langsung buang muka.
"Menurutmu aku kelihatan bagus gak sih?" Lendon natap dia sambil senyum lebar, jelas banget lagi nge- *teasing*.
Gak tau malu banget!
"Kamu pasti mikir aku gak tau malu." Lendon cemberut. Dia nebak isi pikirannya.
Kok dia bisa tau sih? Kendra mikir dalam hati dan ngegeleng, "Gak kok. Kamu emang kelihatan bagus."
"Cowok sesempurna ini duduk di sampingmu. Apa kamu terharu?" Lendon lanjut nge- *teasing* dia, nyengir. Kendra udah pasrah. Kenapa sih Lendon PD banget dan arogan?
"Gak!" Dia langsung nolak, nge- *snort*.
"Kamu bohong." Lendon ngegeleng.
Yaudah deh. Kendra gak mau jelasin lagi. Gak ada gunanya debat sama dia.
Lendon megang pinggang Kendra dan ngusap-ngusap.
"Balik lagi ke kerjaanmu sana." Kendra berontak, berusaha lepas dari dia.
"Biar aku peluk kamu sebentar." Lendon natap dia dan nutup laptopnya. Dia nyium wangi Kendra dan entah kenapa jadi rileks. Terus, dia ngusap-ngusap badan Kendra pelan-pelan dan nyium lehernya. Abis itu, tangannya pelan-pelan narik dia ke pelukannya, dan dia nyium bibirnya.
Kendra pengen dorong Lendon tapi gak bisa karena dia meluknya erat banget.
Lendon jago banget nyium. Setiap kali dia nyium, Kendra hampir aja keabisan napas. Akhirnya, Lendon ngangkat dagu Kendra lagi dan ngisep bibirnya, ngajak dia buat bales.
Kendra megang kemeja Lendon pas dia ngerasa susah napas.
"Kamu harus napas," gumam Lendon di sela-sela ciuman mereka.
Kendra malu dan mukanya merah. Beberapa saat kemudian, Lendon akhirnya ngelepasin dia dan nanya, "Kamu laper gak?"
"Iya." Kendra ngangguk dan jawab pelan.
"Kita bakal sampe rumah bentar lagi." Lendon nepuk kepala Kendra kayak lagi ngelus hewan peliharaan kecil.
"Aku mau ke supermarket. Kamu bisa pulang duluan," tiba-tiba dia bilang gitu. Dia cuma pengen cari udara segar, jauh dari kendali Lendon yang bikin sesak.
"Kita punya semua yang kamu butuhin di istana." Lendon natap dia, alisnya berkerut.
"Aku mau belanja," kata Kendra pelan, dan matanya langsung ke jendela lagi.
"Aku bisa nemenin kamu." Suara Lendon terdengar. Dia gak mau ninggalin Kendra barang sedetik.
Dia tau Lendon gak bakal biarin dia kabur lagi, jadi dia cuma bisa pasrah.
Sopir berhenti di depan supermarket. Pas Lendon keluar dari mobil, dia langsung jadi pusat perhatian. Kendra nunduk dan jalan cepat ke supermarket.
Di dalem gak terlalu rame. Kendra langsung ke bagian perawatan diri dan nyari barang-barang yang mau dia beli. Dia harus ganti sikat gigi, handuk, dan penutup kepala buat mandi.
Dia ngambil beberapa produk, bandingin satu sama lain, dan masukin beberapa ke keranjang belanja setelah milih barang yang sesuai seleranya.
"Oke. Udah selesai," kata Kendra dan balik badan.
Lendon juga lagi dorong keranjang belanja dan ngikutin Kendra. Dia juga ngambil produk yang sama kayak Kendra, tapi beda warna.
"Ini apaan?" Kendra kaget, ngelihat semua produk di keranjangnya.
"Ini punya aku," kata Lendon santai, gak peduli sama reaksi dia.
"Kamu butuh ini?" Kendra nanya bingung.
"Aku mau pake produk yang sama kayak kamu," Lendon ngelirik dia, senyum.
Dia pengen bereaksi tapi nahan omongannya. Kendra balik badan dan mau pergi.
"Ada satu lagi yang harus kita beli." Lendon megang tangan Kendra dan narik dia ke bagian lain.
"Apaan sih?" Kendra narik tangannya dan berhenti, tapi cengkeraman Lendon terlalu kuat dan berhasil narik dia ke bagian pajangan.
"Ini!" Lendon ngambil satu kotak kondom dan ngibasin di depan dia, "Kamu suka yang mana?"
Kendra langsung merah, ngedentengin giginya, "Kamu ngapain sih?" Dia malu banget. Gimana bisa Lendon nanya kayak gitu di depan umum?
"Apa? Kamu malu?" Lendon senyum jahat, "Kita kan udah dewasa. Kita udah tidur bareng, dan aku tau kamu gak mau punya bayi cepet-cepet. Jadi gak usah malu."
"Berhenti!" Kendra melotot ke arah dia dan diam-diam nyubit pinggangnya.
Lendon ketawa lebih keras dan meluk dia. Terus, dia berbisik, "Coba bilang, kamu suka yang mana?"
"Lendon!" Kendra dorong dia dengan marah.
"Gak usah malu. Kamu suka aroma stroberi? Atau aku beli yang aku suka aja?" Lendon ngomong santai dan ngelepasin dia.
Ya ampun! Kendra ngusap dahinya dan berusaha nenangin diri. Dia ngerasa suatu saat nanti dia bakal bunuh Lendon atau bunuh diri sendiri.
Pas mereka mau bayar, kasir ngelirik mereka aneh setelah ngelihat beberapa kotak kondom.
Kendra nunduk malu sementara Lendon bersikap biasa aja.
Tiba-tiba, mereka denger pasangan di depan mereka lagi ngobrol.
"Nanti malem nonton film gak ya?" si suami nanya.
"Film apa?" si istri nanya balik.
"Film *love action* dari Jepang," kata suaminya semangat.
"Apaan tuh?" si istri nanya penasaran. "Sesuatu yang mengerikan. Pemeran utamanya bakal teriak-teriak terus," jelas si suami.
"Oke deh, tapi aku mungkin takut," jawab si istri.
"Gak papa. Aku bakal nemenin kamu. Aku bakal lindungin kamu," jawab suaminya dengan ceria.
"Oke," si istri setuju.
Ga lama kemudian, giliran Lendon dan Kendra.
"Pak, totalnya 1007 Euro," kata kasir.
Lendon diem aja dan gak ngomong apa-apa.
"Kenapa nih?" Kendra nyolek Lendon dan nanya.
"Aku juga mau nonton film," Lendon natap Kendra dan bilang.
"Bayar dulu aja. Kartu kreditmu mana?" Kendra ganti topik.
Lendon ngeluarin kartunya dan bayar dengan cepet. Abis itu, mereka balik ke istana. Setelah makan malam, Lendon ngebawa Kendra ke ruang film di dalem istana. Ruangan itu gede banget dengan layar lebar dan dua kursi.
"Tunggu sebentar. Aku udah nyuruh Curtis nyiapin film yang mengerikan buat kita," dia denger suaranya sambil ngikutin setiap gerakannya.
"Film mengerikan?" Kendra bingung sama apa yang dia bilang tadi.
Lendon ngangguk, nyari film yang dia maksud.
Gak lama kemudian, semua lampu dimatiin, dan filmnya mulai. Film ini punya musik latar yang mengerikan dan adegan berdarah. Kendra natap layar sambil makan keripik.
Seiring waktu, adegannya makin lama makin serem. Terus, tiba-tiba, muncul perempuan dengan muka berlumuran darah.
"Ah!" Lendon teriak pas ngelihat wajah mengerikan itu muncul di layar.
"Kamu ngapain sih? Bikin kaget aja!" Kendra melotot ke arah dia.
Lendon ketakutan. Dia berusaha nenangin diri dan nge- *snort*, "Kamu yang duluan teriak."
Dia gak bisa berkata-kata karena dia bahkan gak teriak, tapi Lendon malah nuduh dia. Kendra natap dia, dan nyadar kalau muka Lendon pucat. Dia narik Lendon ke pelukannya dan nanya bingung, "Kamu takut?"
"Kamu gak takut?" Sambil gemetaran, Lendon melotot ke arah Kendra dan nanya keras-keras. Kenapa dia kelihatan tenang banget nonton adegan mengerikan itu?
"Aku gak takut kok," kata Kendra santai, senyum. Dia pengen nge *provoke* dia.
"Kamu ini cewek beneran gak sih?" Lendon nanya dengan marah.
"Kok kamu malah takut? Kamu kan cowok, tapi tiba-tiba teriak kayak bayi," Kendra tiba-tiba ketawa ngakak ngelihat dia.
"Berisik!" Lendon buang muka, kesel.
"Lendon, kalau kamu takut, kamu bisa nyender di bahuku," Kendra nge- *teasing* dia.
"Kendra Miller!" Lendon teriak.
"Kalau kamu takut, seharusnya kita gak milih film ini," Kendra masih ketawa sambil nangis pas dia ngelihat Lendon.
"Udah deh, ngaku aja. Aku seneng kok bisa meluk kamu," tawa Kendra makin keras.
Tiba-tiba, Lendon megang belakang kepala Kendra dan nyium bibirnya dengan ganas. Filmnya masih nyala, tapi mereka saling berciuman penuh gairah.
Lendon mengelus-elus badan Kendra dan nyium setiap inci tubuhnya.
"Lendon, tunggu!" Kendra berontak pas dia ngerasa Lendon nge dorong dia ke sofa.
"Jangan ketawain aku," Lendon natap Kendra dan ngeringatin dia. Terus, dia dengan cepet ngangkat Kendra dan pergi ke kamarnya.
Sepanjang malam, Kendra bener-bener nyesel udah nge- *teasing* dia. Harusnya dia gak bikin dia kesel.
"Bilang kamu salah," Lendon merintah dia.
"Aku minta maaf banget," kata Kendra saat tubuh mereka saling terkait, telanjang.
"Bilang kamu gak bakal ketawain aku lagi." Lendon ngehujani tubuhnya dengan ciuman kecil, ninggalin bekas merah di tubuhnya.
"Aku gak bakal ketawain kamu lagi." Kendra ngerasa ada keinginan yang tiba-tiba muncul lagi di tubuhnya.
Lendon natap Kendra dan senyum jahat, "Bilang kamu cinta sama aku."
Sedikit keraguan terpampang di wajahnya. Apa dia beneran jatuh cinta sama dia?
"Bilang!" Lendon nyubit pipi Kendra dan memaksa.
"Aku cinta kamu," Kendra berteriak sambil mengucapkan kata-kata ajaib itu.
"Anak baik." Lendon nyium air mata Kendra dan pelan-pelan menembus tubuhnya lagi. Dia mengeluarkan erangan keras, dan kakinya melilit pinggangnya. Mereka bercinta beberapa kali.
Ketika semuanya selesai, Kendra udah capek banget sampai dia langsung ketiduran.
***
Di sisi lain, Michael akhirnya selesai ngerjain semua berkas dan ngusap matanya. Sejak pesta tunangan, dia sibuk banget sama kerjaan.
Seseorang ngetok pintu dan masuk. Ternyata Jane.
"Michael, udah malem. Kenapa kamu masih bangun?" Jane nanya dan ngasih Michael segelas air. Michael minum dan gak ngomong apa-apa. "Jaga diri ya, Nak," kata Jane khawatir.
"Nanti aku istirahat kok kalau udah selesai," jawab Michael tanpa natap ibunya.
"Dan soal pertunanganmu, Mama bakal bilang ke mereka kalau kita..."
Michael motong omongan mamanya dan bilang, "Aku gak bakal nikah sama Bianca."
"Ini salah Mama. Seharusnya Mama gak maksa kamu," Jane malu dan nunduk.
"Gak papa kok. Lagian, udah batal juga, dan Mama tau aku gak pernah cinta sama cewek itu," suara Michael terdengar dengan nada sarkas.