Bab 60: Tamparan Keras
Dia buru-buru turun, gendong Kendra di lengannya. "Siapin mobil!" teriaknya ke anak buahnya.
Shawn ngikutin, "Ada apa, Tuan?"
Menuju parkiran, dia bilang, "Perut Kendra sakit, cepetan Shawn, siapin mobil."
Shawn langsung nyiapin mobil, dan mobil itu ngebut di jalan tol.
Lendon bawa Kendra ke UGD pas mereka sampe di rumah sakit, dan dokter nyuruh Kendra buat CT scan dulu. Kendra nemu kesempatan buat kabur. Dia ngehindar dari Lendon dan pengawalnya, lari ke ruang operasi.
Bianca duduk di bangku dan nangis sedih. Dia masih pake gaunnya tapi keliatan beda banget. Marga gak keliatan batang hidungnya, dan Bianca sendirian.
"Bianca." Kendra duduk di samping Bianca dan manggil namanya dengan suara pelan.
Bianca ngangkat muka dan langsung megang tangan Kendra. Dia bahkan meraung kayak bayi.
"Dia bakal baik-baik aja. Jangan nangis." Kendra nepuk-nepuk punggungnya. Matanya juga mulai merah. Walaupun Robert itu ayah yang jahat, entah kenapa Kendra masih ngerasa sakit hati. Di saat yang sama, Kendra ngerasa bersalah banget. Harusnya ini malam yang indah, tapi dia ngerusak semuanya. Robert gak bakal kayak gini kalo dia gak dateng.
"Kendra, kita harus gimana?" Bianca nanya sambil tersedak kayak anak kecil yang gak berdaya.
"Jangan khawatir, Bianca. Mereka punya dokter terbaik di sini. Dia bakal baik-baik aja." Kata-kata menenangkan Kendra keluar. Tapi dia gak nyadar air matanya juga udah netes.
"Kenapa kamu ke sini?" Marga tiba-tiba muncul dan nanya dengan marah. Dia narik Kendra dan nampar dia keras banget. Jelas dia nyalahin Kendra.
Dalam sekejap, pipi Kendra bengkak, bahkan mulutnya berdarah. Dia gak nyangka Marga bakal nampar dia. Semuanya terjadi tiba-tiba. Dia jatoh ke tanah.
"Mama!" Bianca teriak panik dan bantuin Kendra berdiri, "Kamu gak papa?"
"Aku gak papa," jawab Kendra sambil ngusap darahnya. Dia natap Marga tajam.
"Berani-beraninya kamu ke sini?" Marga ngamuk. "Kita gak butuh kamu di sini."
"Aku yang telpon dia. Papa masih di ruang operasi, Ma. Kendra juga anaknya, dan dia perlu tau kondisi Papa," jelas Bianca dengan kelelahan.
"Bianca, kamu bercanda kan?" Marga nunjuk Bianca dan teriak, "Kita jadi bahan tertawaan gara-gara dia! Dia ngerusak pesta tunanganmu! Kenapa kamu masih manggil dia? Dia bukan anggota keluarga kita lagi."
"Mama..."
"Diam!" Marga teriak lagi. Dia gak bisa lupa apa yang terjadi malam ini, dan pas dia liat Kendra, dia susah banget ngendaliin amarahnya.
"Kendra, jangan mikir kamu bisa ngatur segalanya meskipun sekarang kamu punya Lendon Martin. Aku akan selalu inget kamu nyakitin suami dan anakku! Aku gak akan biarin kamu menang dalam pertarungan ini," Marga ngancem dia. Wajahnya kayak wanita jahat yang siap nyerang kapan aja.
Kendra nyender ke tembok dan ngerasa sedih banget. Dia gak bisa nemu kata-kata yang pas buat ngomong. Dia ngerasa gak adil.
"Ma, cukup. Kamu keterlaluan kali ini. Jangan nyalahin Kendra atas apa yang terjadi karena kita berdua tau Papa memperlakukan dia dengan buruk," balas Bianca.
"Pergi dari sini. Jangan biarin aku liat kamu lagi. Kalo Robert gak bisa selamat malam ini, aku sendiri yang akan bunuh kamu," kata Marga dengan dingin.
Kendra gak tau gimana caranya dia keluar dari rumah sakit. Dia duduk di tangga dan meluk dirinya sendiri. Malam itu berangin, dan Kendra cuma ngecilin badannya. Setelah beberapa saat, dia ngambil jimat dari sakunya dan natapnya. Apa yang harus aku lakuin? Kenapa kamu gak muncul? Kamu pembohong! Kamu janji bakal balik dan nikahin aku, tapi di mana kamu sekarang? Pembohong! Pembohong! Pembohong! Air mata mulai netes di sudut matanya.
"Kendra!" Lendon teriak keras.
Kendra gemeteran, dan jimat itu jatoh. Dia langsung ngambilnya, masukin ke saku, dan ngusap air matanya.
Lendon berdiri di deket Kendra dan natapnya tajam. Beraninya Kendra kabur sementara dia nungguin dia? Kalo CCTV gak nangkap dia, dia bakal ngebongkar seluruh rumah sakit.
"Kamu makin kurang ajar," kata Lendon kayak singa yang marah.
"Maaf. Aku..." Kendra mau jelasin.
Tapi, Lendon jalan ke Kendra dan megang dia. Kendra mengerutkan kening dan nyoba buat dorong dia, tapi Lendon gak ngelepasin.
"Lendon," Kendra manggil nama Lendon pelan.
"Kamu tau seberapa takutnya aku?" Lendon nanya khawatir. Rahangnya mengeras.
Kendra kaget. Lendon khawatir sama dia? "Lendon, aku tadi..." Dia mulai nangis lagi.
Lendon kaget, ngeliat air matanya netes. Dia keliatan rapuh. Dia meluk Kendra.
"Kamu mau kabur dari aku lagi?" Lendon ngusap punggung Kendra. Kendra gak ngomong apa-apa, masih sesegukan.
Dia dorong Kendra pelan dan natap dia. Pikiran ini bikin dia marah, ngeliatin wajahnya yang penuh air mata.
"Gak, aku cuma..."
"Cuma apa? Kamu udah pernah nyoba kabur sebelumnya. Jangan menyangkal." Lendon nyoba ngendaliin amarahnya.
"Aku butuh privasi," akhirnya Kendra ngomong, "Aku gak bisa terus-terusan sama kamu seharian." Dia cuma pergi sebentar. Kenapa Lendon marah?
Emang, denger kata-kata Kendra, Lendon jadi kesel.
Kendra dan Lendon saling pandang dan gak ngomong apa-apa. Sepi banget. Kendra cuma bisa denger angin.
Shawn lari ke mereka dan mau ngomong sesuatu, tapi dia berdiri di belakang Lendon dan diem aja pas dia liat apa yang terjadi. Gak lama, dia mutusin buat mundur.
Lendon sadar kata-kata Kendra dan ngerasa kecewa. "Kamu bohong sama aku malam ini?" Dia natap Kendra dan nanya dengan dingin. Kendra gak pernah bohong sama dia sebelumnya.
"Aku..." Kendra ragu dan gak tau gimana jelasinnya. Emang bener dia bohong.
Lendon mengepalkan tangannya dan keliatan ngeri.
Kendra jadi gugup. Dia tau Lendon lagi marah banget.
"Kamu pergi ke mana?" Suara Lendon berat.
Kendra natap dia, ngusap air matanya, tapi dia gak jawab.
"Kasih tau aku!" Lendon megang tangan Kendra dan teriak.
"Tuan," Shawn kasihan sama Kendra, jadi dia ngumpulin keberanian buat ngomong sesuatu buat Kendra, "Tuan Miller lagi operasi sekarang. Dia kena serangan jantung setelah apa yang terjadi di pesta tunangan..."
"Kamu ke sini buat nemuin dia?" Lendon nyindir dan nanya.
Kendra ngangguk.
"Kendra, kamu bodoh ya? Kenapa kamu masih peduli sama dia?" Lendon kesel. Dia beneran gak ngerti dia.
"Lendon, tolong jangan teriak-teriak ke aku. Dia masih ayahku, suka atau gak suka. Aku cuma punya dia sebagai anggota keluarga," Kendra nundukin kepala dan mulai nangis lagi. Bahkan kalo Robert nyakitin dia, ninggalin dia, dan maksa dia buat tanda tangan perjanjian, dia tetap ayahnya. Gak ada yang bisa ngerubah fakta ini.
"Kamu mikirin apa?" Lendon teriak marah.
Kendra meraung kayak anak kecil yang bikin kesalahan.
Setelah beberapa saat, Lendon agak tenang. Dia narik napas dalam-dalam dan nanya, "Kenapa kamu gak ngomong? Kamu ngerasa gak adil? Harusnya aku yang nyalahin kamu?" Dia ngangkat mukanya dan nyubit dagunya. Tiba-tiba, dia kaget, ngeliat air matanya gak berhenti netes.
Kendra gigit bibirnya dan nyoba ngendaliin kesedihannya, tapi air matanya terus keluar, dan dia gak bisa nahan buat gak gemeteran.
"Jangan nangis," kata Lendon dan ngusap air matanya. Ekspresinya melembut.
Kendra gak tau kenapa dia nangis. Dia cuma gak bisa berenti ngungkapin emosinya.
"Jangan nangis. Kamu kebanyakan nangis. Aku gak ngapa-ngapain kamu!" Lendon meluk dia lagi.
Kendra, masih gemeteran dan sesegukan.
"Berhenti!" Lendon bilang gak sabar, "Mulai sekarang, kamu gak boleh ninggalin aku lebih dari 10 menit. Atau, aku bakal hukum kamu." Dia udah mutusin.
Kendra gak nolak. Malah, dia sadar kalo keinginan Lendon buat ngatur dia makin meningkat. Ke mana pun dia pergi, dia bakal ngikutin. Dia harus terus sama dia, kecuali di kamar mandi. Dia ngerasa dia bahkan gak bisa napas di bawah pengawasan Lendon.
Lendon mikir Kendra setuju, jadi dia mau nyium dia. Tapi pas dia liat wajah Kendra, dia mengerutkan kening dan nanya, "Ada apa sama wajahmu?" Sayangnya, lampu jalan agak remang, jadi dia gak nyadar kalo wajah Kendra bengkak tadi.
"Gak ada apa-apa." Kendra buru-buru nutupin mukanya.
"Mereka nampar kamu." Lendon nanya.
"Lendon, aku gak papa." Kendra langsung megang tangan Lendon. Dia takut Lendon bakal ngelakuin hal-hal buruk lagi.
"Kamu gak papa? Kamu tau wajahmu bengkak?" Lendon teriak. Keluarga Miller keterlaluan. Mereka gak hormat sama sekali sama dia.
"Gak sakit kok." Kendra senyum, nyoba buat yakinin dia. Sayangnya, dia gak bisa ngerangsang Lendon lagi. Terlalu banyak hal yang terjadi malam ini.
Lendon natap dia lama banget dan akhirnya gak ngomong apa-apa. Jadi, dia megang Kendra dan bawa dia balik ke kastil.
Kendra ngelingkarin tangannya di leher Lendon pas mereka jalan ke kamarnya dan ngerasa gak nyaman. Dia gak yakin gimana perasaan Lendon ke dia. Dia pasti gak bisa tidur malam ini.
Kalo Lendon, dia selalu tidur nyenyak sejak dia tidur sama Kendra.
Keesokan harinya, Kendra bangun pagi-pagi dan bersihin dirinya. Terus, dia pergi ke ruang makan.
Shawn naruh koran di meja. Kendra baca dan nemuin gak ada apa-apa tentang pesta kemarin. Kayaknya Lendon nepatin janjinya.
Waktu itu, Bianca nge-chat Kendra dan ngasih tau operasi jantung Robert berhasil.
Kendra ngerasa lega dan senyum. Ini pagi yang indah buat dia.
"Apa yang bikin kamu seneng banget?" Lendon meluk pinggang Kendra dari belakang dan nanya. Dia nyenderin kepalanya di bahu Kendra.
"Gak ada apa-apa. Sarapan yuk." Kendra ngegeleng dan ngusap wajahnya.
Lendon maksa Kendra buat balik badan dan nyium dia penuh gairah.